Posts Tagged ‘motor’

h1

Koreksi Pengukuran Jarak Tempuh Pada Motor Yang Berganti Ukuran Ban

2 Mei 2015

Berawal dari rasa penasaran untuk menakar konsumsi BBM motor Yamaha Byson 2010 yang saya miliki sejak Desember 2014, saya baru mendapatkan kesempatan sekitar akhir April 2015 lalu. Bukan apa-apa, dengan harga Pertamax yang gonjang-ganjing dan kantong yang cekak, butuh waktu untuk mengisi penuh tangki bensin Byson hingga penuh. Itu pun dicicil sejak bulan-bulan sebelumnya.

Motor ini jarang saya pakai, paling banter 3-4 kali dalam sepekan. Sedangkan pengisian BBM-nya hanya satu kali dalam sebulan. Sehingga, jika dalam sebulan si Byson jarang digunakan namun BBM-nya tetap diisi, lama-kelamaan volume tangkinya akan penuh juga, kan.

Awal April saya mengisi Pertamax sebanyak 5 liter. Tak disangka tangki Byson saya terisi sampai sisi inlet yang paling atas. Kelar mengisi, tripmeter saya set ke angka nol. Karena sudah niat hendak mengukur konsumsi BBM, di bulan April ini si Byson saya gunakan lebih sering dari biasanya. selengkapnya

h1

Belajar dari Kecelakaan Maut Si Dul: With Great Power Comes Great Responsibility

17 September 2013

Berbagai liputan dan opini para pakar tentang kasus ini sudah banyak beredar di berbagai media. Artikel ini tidak bermaksud pro maupun kontra kepada salah satu pihak manapun. Sudut pandangnya adalah: bagaimana jika saya punya anak remaja yang ingin mengendarai mobil/motor?

Lagi-lagi, di negeri ini di setiap permasalahan di sektor/bidang apapun yang mencuat mengemuka menjadi rasan-rasan tingkat nasional, ketika berusaha diuraikan akar dan pokok permasalahan, selalu yang ditemukan adalah kompleksitas masalah. Selalu, tidak ada satu-satunya pihak yang bisa dituding dan dituntut sebagai penyebab utama. Selalu, ditemukan banyak pihak-pihak yang berkontribusi dalam kesalahan dan permasalahan tersebut. Selalu, fenomena yang muncul hanyalah sebuah ‘puncak gunung es’ yang berarti yang lain yang belum terungkap masih jauh lebih massif.

Oleh karena tidak adanya satu pihak tunggal yang bisa dijadikan pesakitan maka otomatis tidak ada satu pun pihak yang akan dengan ksatria tampil ke panggung patriotisme untuk berseru, “Sayalah yang bertanggung jawab!”

Dalam kasus Dul, tindakan cepat Ahmad Dhani dan Maia Estianty yang mengakui perbuatan anaknya, bertanggung jawab secara moril kepada para keluarga korban, dan mematuhi proses hukum di kepolisian layak mendapatkan apresiasi yang tinggi. Orang khilaf yang segera mengaku salah lebih cepat dan mudah mendapatkan maaf dan simpati dari pihak lain. Berbeda sekali dari tokoh-tokoh publik lain, yang jangankan baru berstatus tersangka oleh KPK, sudah divonis bersalah di Mahkamah Agung, masih saja pandai bersilat lidah mengaku tak bersalah, berakting sebagai hamba beriman yang menjadi korban kedholiman, dan menuntut hak-hak azasinya di depan kamera tivi melebihi ‘dosa-dosa’ hukumnya kepada negara. lanjutkan