Posts Tagged ‘motivasi’

h1

Inspirational Physics #4

23 Desember 2013

‘Momentum’ adalah salah satu kata yang sering terucap dalam dialog sehari-hari. Ambil contoh, seorang pejabat mengatakan, “Kami menunggu momentum yang tepat untuk melaksanakan kebijakan itu.” Para pendengar memahami kata momentum sebagai ‘saat’, ‘waktu’, ataupun ‘kondisi’ yang mendukung terlaksananya suatu tindakan.

Sebagai orang yang bergelut dengan pelajaran Fisika, tentu saya memiliki pemahaman yang (mungkin) berbeda. Namun, dalam artikel ini saya tidak bermaksud mempertentangkan pemahaman tersebut. Justru, saya menawarkan suatu cara berpikir yang diharapkan melengkapi pemahaman tersebut. Pada ujungnya, pemahaman tersebut menjadi inspirasi yang berbuah motivasi bagi kita dalam bertindak.

Dalam Fisika, momentum (p) diartikan sebagai hasil kali (product) antara massa (m) dari suatu obyek yang sedang bergerak dengan kecepatannya (v). Momentum adalah besaran vektor dengan satuan SI/MKS-nya kilogram-meter-per-detik (kg.m/s) atau Newton-detik (N.s). Definisi ini sejalan dengan makna momentum yang tertulis dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary (force that increases speed with which a process is happening, gaya yang meningkatkan kelajuan yang dengannya suatu proses terjadi). selengkapnya

Iklan
h1

Banyak Anak, Ibu Harus Berdaya

22 Oktober 2013

Sambil menjalankan aktifitas sehari-hari, istri saya berjualan pulsa elektrik. Hanya bermodalkan ponsel biasa dan uang tunai dua ratus ribu rupiah, bisnis tersebut bisa dijalankan sambil lalu. Beberapa pelanggan setianya biasa membeli secara kredit, pesan dulu lewat pesan singkat (SMS), melunasinya nanti setelah bertemu (tentu tidak dalam jangka waktu yang lama).

Senin (12/08) masih dalam suasana Lebaran 1434 H, hari itu ada tiga lokasi yang hendak kami kunjungi. Pertama, sebut saja kediaman bu Faisal (bukan nama sebenarnya). Kedua, membesuk teman SMA istri di RSUD Dr. Soetomo yang dirawat sejak sebelum Idul Fitri karena menderita DBD, yang kabarnya hari itu dia akan selesai menjalani perawatan dan dibolehkan pulang. Ketiga, ke rumah sohib akrab yang sudah saya anggap kakak sendiri.

Tulisan ini idenya bersumber dari ngobrol-ngobrol di rumah bu Faisal. baca selengkapnya

h1

Mendalami Pemikiran Siswa atas Sebuah Persoalan, Bukan Menolerir Jawaban Nyeleneh

25 Juli 2013

Kamis (25/07) sekitar pukul 2 siang. Sepulang dari berburu beras untuk persediaan dapur, saya leyeh-leyeh sebentar di depan televisi sambil browsing acara-acara sedang tayang di berbagai saluran. Perhatian saya terhenti pada saluran TVRI yang sedang menayangkan program kerjasama dengan Televisi Edukasi (tv-e). Program yang disiarkan nampaknya adalah rekaman sebuah seminar yang belakangan saya ketahui terkait dengan sosialisasi pelaksanaan Kurikulum 2013 yang baru.

Ada dua hal yang menyebabkan perhatian saya tiba-tiba terhenti di saluran ini. Pertama, penampilan dan gaya audiensi si pembicara yang cukup eksentrik. Apalagi kemudian ditampilkan namanya, yang tidak saya ingat, namun saya hanya mengingat gelar akademiknya yang cukup mentereng. Namanya diawali oleh gelar Dr. dan Ir. lalu diakhiri dengan Ph.D.

Kedua, si pembicara menjelaskan (yang saya duga, karena saya tidak menyimak dari awal) tentang perbedaan antara kurikulum yang lama dengan Kurikulum 2013. Di antara poin-poin perbedaan yang beliau jelaskan, salah satu poin yang membuat pikiran saya tiba-tiba riuh dan semerawut dengan berbagai argumen pro-kontra yang juga lalu mendorong saya untuk menulis artikel ini adalah: (di Kurikulum 2013) guru harus menolerir jawaban siswa yang nyeleneh.

Nah, mari kita diskusikan… lanjutkan

h1

Mengapa Sekolah Saja Masih Belum Cukup?

22 Juli 2013

Menjadi guru di sekolah formal memang melelahkan. Godaan idealisme dan motivasi kerap menghampiri dan merayu-rayu untuk give up dan give in. Salah satunya adalah godaan yang terkait dengan guru les privat dan Lembaga Bimbingan Belajar (LBB).

Saya yang juga guru privat merasakan sendiri: dibayar 35 ribu untuk 90 menit menemani 1 orang siswa belajar di rumahnya (dan mendapat suguhan yang layak sebagai tamu) versus mengajar (dengan status honorer) 20-25 orang siswa di kelas formal dengan bayaran 25-30 ribu per jam pelajaran (40 menit untuk SMP) dengan segala macam problematika kelas dan seabrek tugas administratif. Belum lagi, ada persepsi yang unik di beberapa siswa. Salah seorang rekan yang merupakan pengelola LBB menuturkan pernyataan salah satu siswanya, “Di sekolah itu cuma cari ijazah, Mas/Mbak. Kalau mau cari ilmu, ya ikut les.” Notabene siswa yang diceritakannya adalah siswa SMA favorit di Surabaya yang berasal dari keluarga sangat mampu. Persepsi ‘pragmatis’ sang siswa didasari kenyataan bahwa sebesar apapun nama/reputasi sebuah sekolah negeri, perhatian (secara psikologis) gurunya kepada siswanya masih dirasakan sangat kurang. Demikian pula dengan kemampuan transfer ilmu serta pemecahan masalah (problem solving) dalam menghadapi berbagai jenis soal.

Suatu hari, salah seorang rekan yang lain mengajak saya ngobrol tentang kemungkinan mendirikan LBB. Hingga detik ini, LBB yang kami obrolkan masih belum terwujud. Namun beberapa poin pemikiran yang sempat dicatat, saya share lewat tulisan ini. lanjutkan membaca

h1

A Brief Moment of Stupidity Caused by ‘un-WILLING-ness’

21 Mei 2013

Kali ini, kita lupakan dulu segala fakta carut-marutnya sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) di republik ini, kita lupakan dulu segala teori, analisis, dan hipotesis para pakar pendidikan yang telah menghiasi relung pemikiran, kita lupakan dulu segala bentuk kurikulum, silabus, dan RPP yang telah membuat sibuk para guru melebihi aktifitas riilnya sebagai seorang pendidik.

Saya ingin mengajak pembaca ke situasi nyata yang ada di kelas, salah satu momen saja yang baru-baru ini saya alami.

It’s not an apology. Nyatanya, saya bukanlah figur guru yang ideal, di semua aspek. Bahkan mungkin saya sama sekali tidak pantas menjadi guru. Sebagai guru pembimbing bidang studi Fisika tingkat SMP, saya hanyalah lulusan jurusan Fisika FMIPA di sebuah institut teknologi milik pemerintah yang berlokasi di kota Surabaya.

Hari-hari di bulan Mei adalah masa-masa mendekati ujian akhir semester (UAS). (Rasanya) di semua sekolah, sangat umum/wajar sekali bila para guru sudah mulai ‘mengorientasikan’ suasana menuju UAS. Di antaranya, memberikan arahan tentang bahan yang akan dijadikan ujian.

Fisika, adalah salah satu mata pelajaran yang dianggap ‘momok’ dengan sejuta alasan yang masing-masing orang bisa sama dengan yang lain, bisa pula berbeda. Meski demikian, faktanya, jarang orang mau mengakui, justru Fisika (dan Matematika, yang juga menjadi momok) adalah pelajaran yang bisa ditargetkan untuk ‘benar semua’ dalam Ujian Nasional (UN). Percaya atau tidak??? lanjutkan membaca

h1

Inspirational Physics #3

14 Februari 2013

Aliran Air

Kita pasti pernah mendengar ungkapan, “Jalani hidup mengalir saja seperti air.” Sebuah ungkapan yang kerap muncul dari orang yang ditanyai tentang prinsip-prinsip kehidupan. Bisa jadi kita adalah salah satu dari penganut prinsip tersebut.

Prinsip tersebut (katanya) mengandung makna bahwa dalam menjalani hidup kita tidak perlu berambisi ataupun berobsesi besar. Kita cukup menghadapi apapun yang ada di hadapan kita lalu ikuti kemana jalannya alur kehidupan itu. Lalu, prinsip ini dianggap seperti air yang mengalir.

Saya ingin menyegarkan ingatan kita kembali pada pelajaran IPA di SD bahwa, “Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.” Konsep tersebut diperkaya di tingkat SMP saat kita belajar tentang energi mekanik, energi potensial, dan energi kinetik.

Harus benar-benar dipahami, secara alamiah bahwa air akan selalu dan pasti mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tidak ada kisahnya air yang bisa menanjak naik secara alamiah dengan sendirinya. Tentu saja, air bisa mengalir naik, namun tidak secara alamiah. Jika diinginkan mengalir ke atas, alias dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi, air harus ‘didorong’ dan ‘dipaksa’ lewat gaya/energi/usaha/daya dari luar.

Coba perhatikan, seperti apa wujud tempat-tempat rendah yang menjadi tujuan air mengalir ataupun bermuara. Anda tahu??? Saya bantu: comberan, got, selokan, bahkan septic-tank. Mau berada di tempat dan posisi seperti itu???

Berhatilah-hatilah dalam menerapkan prinsip, “Hidup mengalir seperti air.” Lha, kalau mengalirnya ke comberan, bagaimana??? Hidup tidak bisa dibiarkan mengalir begitu saja. Faktanya, tempat-tempat yang mulia berada di posisi yang lebih tinggi. Tangan yang mulia adalah tangan-tangan yang di atas. Kebermanfaatan diri kita akan jauh lebih maknyus dan nendang saat kita berada di atas (berkuasa, kaya, didengarkan oleh banyak orang, dsb) yang meraihnya tidak akan terjadi secara alamiah, harus diupayakan!

Semoga bermanfaat.

h1

Inspirational Physics #2

17 Desember 2012

Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena ada benda lain di sekitarnya yang bergetar. Syarat terjadinya resonansi adalah kedua benda tersebut memiliki frekuensi alamiah yang sama. Sebagai contoh, jika kita ingin tune-in di salah satu stasiun televisi atau radio untuk menangkap siarannya, maka kita harus menyamakan frekuensi antena receiver di perangkat kita dengan frekuensi antena transmitter stasiun televisi/radio yang dimaksud.

Jika diibaratkan getaran atau gelombang, energi-energi yang menggerakkan kehidupan ini terpancar secara bebas di sekitar kita. Tinggal berpulang kembali kepada kita hendak memilih untuk tune-in di frekuensi gelombang yang mana.

Jika ingin sukses, maka lakukanlah tune-in frekuensi alamiah pikiran kita dengan frekuensi alamiah pikiran orang-orang yang sudah terbukti sukses, dimulai dari meniru kebiasaannya.

Waspadalah terhadap frekuensi gelombang-gelombang liar yang mengarahkan kepada keburukan dan kegagalan. Secara sadar, pasti kita tidak ingin jadi buruk ataupun gagal. Tapi seringkali secara tidak sadar, kita telah men-tune-in frekuensi alamiah pikiran kita kepada frekuensi alamiah gelombang-gelombang keburukan dan kegagalan yang liar tersebut, dengan membiarkan pikiran kita memikirkan hal-hal buruk maupun membiarkan diri kita melakukan kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Semoga bermanfaat.

h1

Inspirational Physics #1

30 Oktober 2012

ΣF = 0
jika tak ada gaya yg bekerja atau total gaya yang bekerja sama dgn nol, maka benda akan tetap berada dalam kondisinya…
W = ΣF.s
usaha adalah total gaya dikali perpindahan yang searah dgn gaya yang bekerja…

jadi, jangan mengeluh bahwa Anda sudah berusaha tapi tak ada hasilnya (W=0)… karena usaha hanya ada jika ada perpindahan (s, perubahan posisi)… jangan-jangan, di saat Anda sudah mengerahkan gaya sekuat-kuatnya (F), di saat yang sama ada gaya lain yang bekerja sama kuatnya dalam arah yang berlawanan (-F), yang membuat gaya Anda menjadi nol… cari tahu apa saja gaya-gaya yang berlawanan dengan gaya Anda, singkirkan, kerjakan kembali gaya Anda, lalu lihatlah perpindahan yang terjadi…

note:

lebih hebat lagi, jika Anda tidak menyingkirkan gaya-gaya yang berlawanan dengan Anda, tapi mampu mengubah arahnya menjadi searah dengan yang Anda inginkan…