Posts Tagged ‘inspirasi’

h1

Inspirational Physics #4

23 Desember 2013

‘Momentum’ adalah salah satu kata yang sering terucap dalam dialog sehari-hari. Ambil contoh, seorang pejabat mengatakan, “Kami menunggu momentum yang tepat untuk melaksanakan kebijakan itu.” Para pendengar memahami kata momentum sebagai ‘saat’, ‘waktu’, ataupun ‘kondisi’ yang mendukung terlaksananya suatu tindakan.

Sebagai orang yang bergelut dengan pelajaran Fisika, tentu saya memiliki pemahaman yang (mungkin) berbeda. Namun, dalam artikel ini saya tidak bermaksud mempertentangkan pemahaman tersebut. Justru, saya menawarkan suatu cara berpikir yang diharapkan melengkapi pemahaman tersebut. Pada ujungnya, pemahaman tersebut menjadi inspirasi yang berbuah motivasi bagi kita dalam bertindak.

Dalam Fisika, momentum (p) diartikan sebagai hasil kali (product) antara massa (m) dari suatu obyek yang sedang bergerak dengan kecepatannya (v). Momentum adalah besaran vektor dengan satuan SI/MKS-nya kilogram-meter-per-detik (kg.m/s) atau Newton-detik (N.s). Definisi ini sejalan dengan makna momentum yang tertulis dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary (force that increases speed with which a process is happening, gaya yang meningkatkan kelajuan yang dengannya suatu proses terjadi). selengkapnya

Iklan
h1

Kuliah, Harus Giat dan Bersosialisasi

15 September 2013

Minggu (15/09) pagi, saat sedang hibernate di depan tivi, mata masih flip-flop dan kesadaran kognitif sedang low level, masuklah sebuah pesan singkat dari istri saya yang sedang mengunjungi budhe di Mojokerto. Dia bilang, Lia (bukan nama sebenarnya) salah seorang teman SMA-nya yang kuliah semester 1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat di sebuah PTN di Surabaya, menanyakan judul dan penulis buku Kalkulus yang ada di lemari buku koleksi di rumah kami. Saya sampaikan, Kalkulus dan Geometri Analitis jilid 1, penulisnya Edwin J. Purcell dan Dale Varberg.

Lalu kami berdua terlibat dalam percakapan via pesan singkat. Dari situ, saya menduga adanya ‘kesulitan’ atau (mungkin) ‘kebelumpahaman’ dalam diri Lia tentang statusnya sebagai mahasiswa. Tentu saya hanya bisa sebatas menduga karena setidaknya institusi kampus saya dan Lia berbeda sehingga mungkin ‘budaya’ yang berkembang juga berbeda.

Kok ya pas, Jumat (13/09) lalu, saya nongkrong di salah satu masjid milik sebuah PTS yang sudah dilikuidasi di Jalan Arif Rahman Hakim menunggu waktu mengajar privat ba’da maghrib di komplek perumahan dosen ITS. Tak dinyana, hampir pukul lima sore, datanglah seorang pria mengendarai Daihatsu Feroza memasuki pelataran parkir masjid tersebut yang wajahnya saya kenal akrab. Beliau adalah Iman Supriyono (di Facebook saya menyapanya dengan sebutan ‘Ust. Iman’), salah satu orang tua murid saya di SMP (sekarang putri sulungnya kuliah di RRC). Beliau lulusan Teknik Mesin ITS namun berprofesi sebagai konsultan finansial dan pengembangan perusahaan. Untuk mendukung profesinya tersebut, beliau pernah kuliah S2 bidang manajemen di almamater yang sama dengan Lia. selengkapnya

h1

Inspirational Physics #3

14 Februari 2013

Aliran Air

Kita pasti pernah mendengar ungkapan, “Jalani hidup mengalir saja seperti air.” Sebuah ungkapan yang kerap muncul dari orang yang ditanyai tentang prinsip-prinsip kehidupan. Bisa jadi kita adalah salah satu dari penganut prinsip tersebut.

Prinsip tersebut (katanya) mengandung makna bahwa dalam menjalani hidup kita tidak perlu berambisi ataupun berobsesi besar. Kita cukup menghadapi apapun yang ada di hadapan kita lalu ikuti kemana jalannya alur kehidupan itu. Lalu, prinsip ini dianggap seperti air yang mengalir.

Saya ingin menyegarkan ingatan kita kembali pada pelajaran IPA di SD bahwa, “Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.” Konsep tersebut diperkaya di tingkat SMP saat kita belajar tentang energi mekanik, energi potensial, dan energi kinetik.

Harus benar-benar dipahami, secara alamiah bahwa air akan selalu dan pasti mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tidak ada kisahnya air yang bisa menanjak naik secara alamiah dengan sendirinya. Tentu saja, air bisa mengalir naik, namun tidak secara alamiah. Jika diinginkan mengalir ke atas, alias dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi, air harus ‘didorong’ dan ‘dipaksa’ lewat gaya/energi/usaha/daya dari luar.

Coba perhatikan, seperti apa wujud tempat-tempat rendah yang menjadi tujuan air mengalir ataupun bermuara. Anda tahu??? Saya bantu: comberan, got, selokan, bahkan septic-tank. Mau berada di tempat dan posisi seperti itu???

Berhatilah-hatilah dalam menerapkan prinsip, “Hidup mengalir seperti air.” Lha, kalau mengalirnya ke comberan, bagaimana??? Hidup tidak bisa dibiarkan mengalir begitu saja. Faktanya, tempat-tempat yang mulia berada di posisi yang lebih tinggi. Tangan yang mulia adalah tangan-tangan yang di atas. Kebermanfaatan diri kita akan jauh lebih maknyus dan nendang saat kita berada di atas (berkuasa, kaya, didengarkan oleh banyak orang, dsb) yang meraihnya tidak akan terjadi secara alamiah, harus diupayakan!

Semoga bermanfaat.

h1

Inspirational Physics #2

17 Desember 2012

Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena ada benda lain di sekitarnya yang bergetar. Syarat terjadinya resonansi adalah kedua benda tersebut memiliki frekuensi alamiah yang sama. Sebagai contoh, jika kita ingin tune-in di salah satu stasiun televisi atau radio untuk menangkap siarannya, maka kita harus menyamakan frekuensi antena receiver di perangkat kita dengan frekuensi antena transmitter stasiun televisi/radio yang dimaksud.

Jika diibaratkan getaran atau gelombang, energi-energi yang menggerakkan kehidupan ini terpancar secara bebas di sekitar kita. Tinggal berpulang kembali kepada kita hendak memilih untuk tune-in di frekuensi gelombang yang mana.

Jika ingin sukses, maka lakukanlah tune-in frekuensi alamiah pikiran kita dengan frekuensi alamiah pikiran orang-orang yang sudah terbukti sukses, dimulai dari meniru kebiasaannya.

Waspadalah terhadap frekuensi gelombang-gelombang liar yang mengarahkan kepada keburukan dan kegagalan. Secara sadar, pasti kita tidak ingin jadi buruk ataupun gagal. Tapi seringkali secara tidak sadar, kita telah men-tune-in frekuensi alamiah pikiran kita kepada frekuensi alamiah gelombang-gelombang keburukan dan kegagalan yang liar tersebut, dengan membiarkan pikiran kita memikirkan hal-hal buruk maupun membiarkan diri kita melakukan kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Semoga bermanfaat.