Posts Tagged ‘fisika’

h1

Inspirational Physics #4

23 Desember 2013

‘Momentum’ adalah salah satu kata yang sering terucap dalam dialog sehari-hari. Ambil contoh, seorang pejabat mengatakan, “Kami menunggu momentum yang tepat untuk melaksanakan kebijakan itu.” Para pendengar memahami kata momentum sebagai ‘saat’, ‘waktu’, ataupun ‘kondisi’ yang mendukung terlaksananya suatu tindakan.

Sebagai orang yang bergelut dengan pelajaran Fisika, tentu saya memiliki pemahaman yang (mungkin) berbeda. Namun, dalam artikel ini saya tidak bermaksud mempertentangkan pemahaman tersebut. Justru, saya menawarkan suatu cara berpikir yang diharapkan melengkapi pemahaman tersebut. Pada ujungnya, pemahaman tersebut menjadi inspirasi yang berbuah motivasi bagi kita dalam bertindak.

Dalam Fisika, momentum (p) diartikan sebagai hasil kali (product) antara massa (m) dari suatu obyek yang sedang bergerak dengan kecepatannya (v). Momentum adalah besaran vektor dengan satuan SI/MKS-nya kilogram-meter-per-detik (kg.m/s) atau Newton-detik (N.s). Definisi ini sejalan dengan makna momentum yang tertulis dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary (force that increases speed with which a process is happening, gaya yang meningkatkan kelajuan yang dengannya suatu proses terjadi). selengkapnya

h1

A Brief Moment of Stupidity Caused by ‘un-WILLING-ness’

21 Mei 2013

Kali ini, kita lupakan dulu segala fakta carut-marutnya sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) di republik ini, kita lupakan dulu segala teori, analisis, dan hipotesis para pakar pendidikan yang telah menghiasi relung pemikiran, kita lupakan dulu segala bentuk kurikulum, silabus, dan RPP yang telah membuat sibuk para guru melebihi aktifitas riilnya sebagai seorang pendidik.

Saya ingin mengajak pembaca ke situasi nyata yang ada di kelas, salah satu momen saja yang baru-baru ini saya alami.

It’s not an apology. Nyatanya, saya bukanlah figur guru yang ideal, di semua aspek. Bahkan mungkin saya sama sekali tidak pantas menjadi guru. Sebagai guru pembimbing bidang studi Fisika tingkat SMP, saya hanyalah lulusan jurusan Fisika FMIPA di sebuah institut teknologi milik pemerintah yang berlokasi di kota Surabaya.

Hari-hari di bulan Mei adalah masa-masa mendekati ujian akhir semester (UAS). (Rasanya) di semua sekolah, sangat umum/wajar sekali bila para guru sudah mulai ‘mengorientasikan’ suasana menuju UAS. Di antaranya, memberikan arahan tentang bahan yang akan dijadikan ujian.

Fisika, adalah salah satu mata pelajaran yang dianggap ‘momok’ dengan sejuta alasan yang masing-masing orang bisa sama dengan yang lain, bisa pula berbeda. Meski demikian, faktanya, jarang orang mau mengakui, justru Fisika (dan Matematika, yang juga menjadi momok) adalah pelajaran yang bisa ditargetkan untuk ‘benar semua’ dalam Ujian Nasional (UN). Percaya atau tidak??? lanjutkan membaca

h1

Absolutely Dummies Guide: Membuat Grafik S versus t dengan Microsoft Office Excel 2007

24 April 2013

Menampilkan data-data hasil percobaan (eksperimen) ataupun penelitian ilmiah lainnya secara visual dalam bentuk grafik adalah suatu kebutuhan. Namun ternyata, perlu langkah-langkah khusus yang jarang sekali dicontohkan di pelajaran TIK. Umumnya guru TIK memberikan contoh-contoh data dari bidang sosial (penjualan, nilai ujian, dsb.) untuk ditampilkan dalam diagram batang, garis, maupun lingkaran. Nah, untuk melengkapinya, dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman membuat diagram atau grafik untuk keperluan menampilkan data-data di bidang IPA khususnya Fisika. Sebagai contoh, digunakan data-data hasil pengukuran waktu pada percobaan gerak lurus. selengkapnya

h1

Soal Latihan Fisika SMP Menurut SKL UN 2012-2013

2 Maret 2013

Berawal dari tugas untuk menyiapkan latihan Fisika SMP untuk persiapan UN 2013, kali ini saya berbagi soal-soal yang saya buat dengan mengacu pada SKL UN 2013-2013. Semoga bermanfaat…

Unduh soal taut 1, taut 2, taut 3, taut 4…

h1

Inspirational Physics #3

14 Februari 2013

Aliran Air

Kita pasti pernah mendengar ungkapan, “Jalani hidup mengalir saja seperti air.” Sebuah ungkapan yang kerap muncul dari orang yang ditanyai tentang prinsip-prinsip kehidupan. Bisa jadi kita adalah salah satu dari penganut prinsip tersebut.

Prinsip tersebut (katanya) mengandung makna bahwa dalam menjalani hidup kita tidak perlu berambisi ataupun berobsesi besar. Kita cukup menghadapi apapun yang ada di hadapan kita lalu ikuti kemana jalannya alur kehidupan itu. Lalu, prinsip ini dianggap seperti air yang mengalir.

Saya ingin menyegarkan ingatan kita kembali pada pelajaran IPA di SD bahwa, “Air mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.” Konsep tersebut diperkaya di tingkat SMP saat kita belajar tentang energi mekanik, energi potensial, dan energi kinetik.

Harus benar-benar dipahami, secara alamiah bahwa air akan selalu dan pasti mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tidak ada kisahnya air yang bisa menanjak naik secara alamiah dengan sendirinya. Tentu saja, air bisa mengalir naik, namun tidak secara alamiah. Jika diinginkan mengalir ke atas, alias dari tempat yang lebih rendah ke tempat yang lebih tinggi, air harus ‘didorong’ dan ‘dipaksa’ lewat gaya/energi/usaha/daya dari luar.

Coba perhatikan, seperti apa wujud tempat-tempat rendah yang menjadi tujuan air mengalir ataupun bermuara. Anda tahu??? Saya bantu: comberan, got, selokan, bahkan septic-tank. Mau berada di tempat dan posisi seperti itu???

Berhatilah-hatilah dalam menerapkan prinsip, “Hidup mengalir seperti air.” Lha, kalau mengalirnya ke comberan, bagaimana??? Hidup tidak bisa dibiarkan mengalir begitu saja. Faktanya, tempat-tempat yang mulia berada di posisi yang lebih tinggi. Tangan yang mulia adalah tangan-tangan yang di atas. Kebermanfaatan diri kita akan jauh lebih maknyus dan nendang saat kita berada di atas (berkuasa, kaya, didengarkan oleh banyak orang, dsb) yang meraihnya tidak akan terjadi secara alamiah, harus diupayakan!

Semoga bermanfaat.

h1

Inspirational Physics #2

17 Desember 2012

Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena ada benda lain di sekitarnya yang bergetar. Syarat terjadinya resonansi adalah kedua benda tersebut memiliki frekuensi alamiah yang sama. Sebagai contoh, jika kita ingin tune-in di salah satu stasiun televisi atau radio untuk menangkap siarannya, maka kita harus menyamakan frekuensi antena receiver di perangkat kita dengan frekuensi antena transmitter stasiun televisi/radio yang dimaksud.

Jika diibaratkan getaran atau gelombang, energi-energi yang menggerakkan kehidupan ini terpancar secara bebas di sekitar kita. Tinggal berpulang kembali kepada kita hendak memilih untuk tune-in di frekuensi gelombang yang mana.

Jika ingin sukses, maka lakukanlah tune-in frekuensi alamiah pikiran kita dengan frekuensi alamiah pikiran orang-orang yang sudah terbukti sukses, dimulai dari meniru kebiasaannya.

Waspadalah terhadap frekuensi gelombang-gelombang liar yang mengarahkan kepada keburukan dan kegagalan. Secara sadar, pasti kita tidak ingin jadi buruk ataupun gagal. Tapi seringkali secara tidak sadar, kita telah men-tune-in frekuensi alamiah pikiran kita kepada frekuensi alamiah gelombang-gelombang keburukan dan kegagalan yang liar tersebut, dengan membiarkan pikiran kita memikirkan hal-hal buruk maupun membiarkan diri kita melakukan kebiasaan-kebiasaan yang buruk.

Semoga bermanfaat.

h1

Inspirational Physics #1

30 Oktober 2012

ΣF = 0
jika tak ada gaya yg bekerja atau total gaya yang bekerja sama dgn nol, maka benda akan tetap berada dalam kondisinya…
W = ΣF.s
usaha adalah total gaya dikali perpindahan yang searah dgn gaya yang bekerja…

jadi, jangan mengeluh bahwa Anda sudah berusaha tapi tak ada hasilnya (W=0)… karena usaha hanya ada jika ada perpindahan (s, perubahan posisi)… jangan-jangan, di saat Anda sudah mengerahkan gaya sekuat-kuatnya (F), di saat yang sama ada gaya lain yang bekerja sama kuatnya dalam arah yang berlawanan (-F), yang membuat gaya Anda menjadi nol… cari tahu apa saja gaya-gaya yang berlawanan dengan gaya Anda, singkirkan, kerjakan kembali gaya Anda, lalu lihatlah perpindahan yang terjadi…

note:

lebih hebat lagi, jika Anda tidak menyingkirkan gaya-gaya yang berlawanan dengan Anda, tapi mampu mengubah arahnya menjadi searah dengan yang Anda inginkan…

h1

Belajar Secara Motorik (dan Harus Istiqomah)

31 Agustus 2009

Tidak hanya ulangan, dalam mengerjakan PR pun saya tetap menerapkan standar kejujuran yang sangat ketat. Jika ada beberapa pekerjaan siswi SpiLuqkim yang ‘mencurigakan’, saya segera melakukan periksa silang. Buku-buku tugas dari beberapa siswi ‘suspected’ saya jejerkan di meja atau lantai. Lalu saya pelototi huruf demi huruf mencari adanya kesamaan. Benar saja, jika ada yang contekan pasti ketahuan. Darimana? Ya dari jiplakannya yang mentah, sampai-sampai titik koma dan kesalahannya pun dijiplak.

Jika sang guru benar-benar punya ‘visi’ dan ‘niat’ dalam mendidik muridnya, pemberian tugas tentu bukanlah sebuah rutinitas belaka atau sekedar untuk mengisi form daftar nilai akumulatif semata. Bukan pula hanya ditujukan untuk mendongkrak nilai sang murid yang terancam tidak lulus. Lebih dari itu, PR adalah suatu bentuk belajar motorik sebagai sarana latihan dan pendalaman materi bagi siswa.

Sebenarnya, dengan kelengkapan dan kualitas buku-buku teks yang digunakan di sekolah masa kini, seorang murid sudah dapat belajar secara mandiri. Jadi guru tidak perlu ‘mengajarkan’ materi pelajaran sampai mulut berbusa-busa. Akan tetapi, di kelas benar-benar menjadi, dalam bahasa saya, sparing partner untuk menguji pemahaman dan brainstorming dalam menjelajahi ide-ide kreatif siswa.

Yang perlu dilakukan oleh siswa hanyalah, rajin membaca dan berlatih soal.

Tapi masalahnya, jangankan berlatih soal secara mandiri tanpa disuruh, membaca naskah materi yang ada di buku saja malas. Tinggal dibaca aja lho, sayang!!! Gak pake disuruh cari uang dulu buat beli buku.

Mau tidak mau, saya ‘terpaksa’ harus ‘memaksa’ siswi-siswi untuk membaca dan berlatih soal. Cara-cara saya ‘memaksa’ ini memang terkesan mundur ke zaman baheula alias jadul binti kuno. Tapi ternyata cara ini tidak main-main, saudara! Ada dasar hukumnya lho dalam Quran: baca selengkapnya

h1

Quantum: Definisi Teoritis vs. Bahasa Pasar

22 Agustus 2009

Meski menjadi momok bagi hampir 99,99% pelajar, tapi harus diakui pula, Fisika sebagai “the Queen of Sciences” yang menjadi salah satu fondasi bangunan megah peradaban manusia moderen telah merasuki berbagai aspek kehidupan. Dunia iklan, marketing, dan bahkan perfilman tidak luput dari pengaruh Fisika. Ternyata di balik njlimetnya formulasi matematis yang secara fitrah selalu mengiringi konsep-konsep Fisika, tersimpan suatu eksotisme yang sesungguhnya menarik dan menantang bagi alam imajinasi manusia. Hanya saja, memang tidak banyak hanya alias hanya segelintir orang yang kemudian mau konsisten bergulat dan bergelut dengan tumpukan rumus-rumus Fisika yang bahkan sulit untuk diucapkan (apalagi diselesaikan), merekalah yang kita sebut sebagai fisikawan (physicist).

Meski saya bukan tergolong (dan sangat tidak layak disebut) fisikawan, tak lebih dari sekedar cari nafkah dari sedikit tahu ilmu Fisika, ketertarikan saya kepada dunia ini melebihi ketertarikan kepada dunia yang lain (apalagi ‘dunia lain’).

Sudah sejak lama saya menemukan beberapa istilah Fisika jauh lebih heboh terdengar dan disebut dimana-mana daripada konsep teoritis di balik istilah itu sendiri. Temuan tersebut cukup menjadi lelucon bagi saya karena saya anggap ada miskonsep tentang makna istilah tersebut. Semoga saja miskonsepsi ini tidak terjadi dalam dunia engineering, misalnya. Wah, bisa ambruk tuh gedung atau jembatan jika insinyurnya tidak paham Fisika. baca selengkapnya