Posts Tagged ‘angkutan’

h1

Cicak versus Cicak

12 November 2009

Publik Indonesia sedang disuguhi tontonan ‘Cicak vs. Buaya’. Hebatnya, tontonan yang satu ini tidak kenal jumlah episode, jam tayang, durasi, ataupun iklan. Sewaktu-waktu di televisi bisa muncul berupa: breaking news, liputan terkini, dsb. Wah, benar-benar reality show

Anyway, saya bukan ingin mengulas perseteruan ini karena jauh di luar kapasitas diri pribadi saya. Tapi kalau boleh jujur, saya memang sudah ill-feel terhadap institusi Kepolisian dan Kejaksaan. Bukankah dulu KPK dibentuk lewat amanat TAP MPR yang didorong oleh fakta bahwa perangkat hukum yang ada gagal memberantas korupsi serta dibutuhkan extra-ordinary effort untuk memberantasnya??? Karena itu, KPK adalah harapan besar saya. Semoga saja memang para pimpinan KPK itu (AA, BSR, dan CH) memang tidak bersalah.

Sebagai rakyat kecil alias ‘cicak’, saya pun hanya bisa bicara dalam tingkatan dunia ‘cicak’ saja…

Harus diakui, segala tingkah laku, bahkan tutur kata yang terucap, yang diperagakan para pejabat tinggi maupun pesohor (celebrity) adalah cerminan dari keseluruhan rakyat yang ada di bawahnya. Bahasa gampangnya, jika pejabatnya begitu, ya seperti itu pulalah rakyatnya. Bahkan di tingkatan rakyat bisa jadi lebih parah. Jika saat ini kita melihat para petinggi negara saling ‘baku hantam’ maka sesungguhnya kehidupan rakyat pun penuh dengan ‘baku hantam’ pula. Bedanya, jika di atas mereka baku hantam untuk berebut tahta, wanita, dan harta dalam jumlah besar, yang di bawah baku hantam untuk sekedar mencari sesuap nasi.

Sedikit pengalaman… baca selengkapnya

Iklan
h1

Jungkir Balik Mudik

19 September 2009

Sebagaimana lebaran di tahun-tahun sebelumnya, tahun 1430 H alias 2009 ini saya merencanakan mudik ke rumah ortu di kota Pontianak. Moda transportasi yang dipilih untuk kelas rakyat seperti saya tentu saja adalah kapal laut kelas ekonomi, he…3x.

Yang sedikit berbeda adalah tahun ini saya tidak sendirian. Akan tetapi mengajak serta My Future Wife (MFW, calon istri saya) dan My Future Mother in Law (MFMiL, calon ibu mertua saya). Sejak kami berkenalan di bulan Januari dulu mereka sudah antusias ketika saya iseng aja bilang, “Lebaran nanti ke Pontianak, yuk.”

Sebelum Mudik

Lebaran tahun ini diperkirakan jatuh pada sepertiga akhir bulan September 2009. Karenanya menjelang akhir Agustus, saya sudah ancang-ancang memesan tiket kapal. Belajar dari pengalaman tahun lalu, karena sibuk mengurusi kegiatan pondok ramadhan di SPiLuqkim, saya baru ada waktu luang berburu tiket setelah sekolah libur, sekitar seminggu sebelum keberangkatan kapal.

Namun apa yang terjadi? Tidak satupun tiket di agen-agen resmi bisa saya dapatkan. Baik untuk kapal penumpang plat merah (KM. Bukit Raya milik pemerintah, Pelni) maupun swasta (biasanya KM. Marisa Nusantara milik Prima Vista).

Dua kali bolak-balik ke kantor Pelni cabang Surabaya di kawasan Tugu Pahlawan saya tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Di meja pelayanan, sang petugas hanya mengatakan bahwa tiket dapat dipesan beberapa hari (kurang dari seminggu) menjelang keberangkatan. Bah, jawaban apa pula ini??!

Belum lagi, jadwal keberangkatan kapal tujuan Pontianak kerap berubah-ubah. Dari tanggal 12 September, berganti menjadi tanggal 10 September, lalu 17 September, hingga akhirnya dipatok kembali ke tanggal 12 September. KM. Bukit Raya yang biasa melayani rute Surabaya – Pontianak milik Pelni dengan frekuensi hanya dua kali sebulan. Beruntung bulan ini Pelni turut mengerahkan KM. Lawit melayani rute ini, tapi hanya sementara sebagai penataan ulang rute-rute pelayaran.

Karena usaha mandiri lewat jalur resmi di Pelni Surabaya tidak menampakkan tanda-tanda sukses, saya terpaksa main ortu lagi, kayak anak kecil nan manja.

Ortu saya adalah PNS di lingkungan Ditjen Perhubungan Laut. Papa memulai karir di Syahbandar Surabaya dan berlanjut di Stasiun Radio Pantai Surabaya. Di tahun 1983 beliau mengisi kekosongan tenaga Marconist di Stasiun Radio Pantai Pontianak (SROP) yang merupakan unit di bawah Distrik Navigasi (Disnav) Pontianak sekaligus memboyong saya dan mama yang tengah mengandung Dedy untuk memulai hidup baru disana. Bertahun-tahun, papa malang-melintang mengisi peran penting di unit-unit Disnav, mulai dari SROP yang melayani komunikasi dunia maritim hingga P3 (Perambuan dan Penerangan Pantai) yang mengurusi rambu-rambu laut dan menara mercu suar di pulau-pulau terpencil. Ketika posisi pimpinan unit teknis di Navigasi sudah tidak tersedia lagi, sementara ogah berurusan dengan politisasi jabatan (seharusnya beliaulah yang menjadi Kepala Disnav saat itu), beliau pindah ke Administrator Pelabuhan (Adpel) Pontianak hingga pensiun di awal Agustus 2009 ini.

Hijrah ke Pontianak, mama adalah ibu rumah tangga murni. Di tahun 1991, saat Andra memasuki usia dua tahunan, mama memutuskan untuk mengkaryakan ilmu Marconist yang dulu diraihnya di Surabaya (yang mempertemukan mama dengan papa saat pendidikan) lewat penerimaan CPNS. Dari sekian banyaknya pelamar, hanya ada segelintir wanita dan hanya mama yang berijazah Marconist. Kata mama, dulu di kampus, dalam satu angkatan memang hanya ada dua mahasiwa yang berjenis perempuan dan mama salah satunya.

Marconist berasal dari kata ‘marconi’ yang terambil dari nama Guglielmo Marconi (1874 – 1937), seorang electrical engineer berkebangsaan Italia yang pertama kali menemukan sistem pensinyalan radio (“… known as the inventor of the first practical radio-signaling system.” Microsoft Encarta 2006).

Dalam dunia maritim, Marconist adalah perwira kapal yang khusus bertugas menangani radio komunikasi. Karenanya, keahlian Marconist sangat klop dengan pekerjaan di SROP. Sayangnya, seiring dengan perkembangan dunia IT sekolah-sekolah Marconist sudah ditutup. Sekarang hanya ada pendidikan Operator Radio Umum (ORU) yang bersifat terbuka, tidak khusus untuk dunia maritim saja. Semua departemen maupun unit teknis milik pemerintah atau swasta yang membutuhkan boleh mengutus stafnya untuk mengikuti pendidikan ini. Demikian pula mereka yang sedang mengincar pekerjaan yang membutuhkan ilmu radio komunikasi boleh ikut pendidikan yang berbiaya sekitar enam jutaan ini. Padahal, kompetensi teknis lulusan ORU yang sekolahnya hanya dua bulan masih jauh dari ilmu Marconist yang harus sekolah selama setahun.

Tahun ini, karena mama adalah satu-satunya ‘fosil’ Marconist yang tersisa sekaligus pegawai paling senior yang ada di SROP, mau tidak mau beliau harus menjabat Kepala Stasiun Radio Pantai Pontianak. Tidak banyak wanita yang menjabat Kepala Stasiun Radio Pantai di seluruh Indonesia. That’s my mom, chayo mom!!!

Lewat mama, saya bisa tahu informasi jadwal kapal yang akurat. Dengan memanfaatkan channel di Pelni Pontianak, mama memesan tiket secara online. Kemudian mengirimkannya lewat jasa layanan kurir ke Surabaya. Jadi, keberangkatan dari Surabaya dengan tujuan Pontianak, pesan tiketnya lewat Pontianak. Saya sudah memegang tiket di saat Pelni Surabaya sendiri belum melepasnya ke calon penumpang.

Salahnya Pelni Surabaya sendiri! Saya kan aslinya gak kepingin KKN. Tetapi gara-gara bikrokrasi GeJe ala orba masih dipertahankan, terpaksa saya juga pake cara ‘ol skul. Sehari sebelum artikel ini ditulis (18/09), saya sudah mendapatkan tiket untuk kembali ke Surabaya yang dijadwalkan bertolak tanggal 29 September dengan KM Bukit Raya (sebelas hari sebelum keberangkatan).

Hari Keberangkatan – Sabtu 12 September 2009 baca kelanjutannya