Posts Tagged ‘agama’

h1

Renungan Di Pesisir Kenjeran: Antara Magnetisme dan Homoseksualitas-Lesbianisme

10 Juli 2015

Memasuki bulan Ramadhan 1436 H ini umat Islam khususnya dan umat beragama pada umumnya kembali mendapat tantangan berat. Mahkamah Agung Amerika Serikat mengesahkan pernikahan pasangan sesama jenis baik dari kalangan homoseksual maupun lesbian. Bagi para pelakunya, putusan MA tersebut dianggap sebagai kemenangan besar.

Andaikan keputusan itu dikeluarkan oleh Mahkamah Agung sebuah negara yang bernama Mikronesia, Vanuatu, Fiji, atau negara-negara kecil lainnya, tentu tak akan mendapatkan sambutan yang luar biasa. Namun, karena yang mengeluarkan adalah lembaga hukum tertinggi di negara adidaya, ya beginilah gegap gempitanya. Siapapun maklum bahwa Amerika Serikat menjadi kiblat dunia untuk urusan kehidupan duniawi.

Sebagai muslim, kisah Nabi Luth AS sudah sangat cukup dijadikan dalil tentang cinta yang model begitu itu. Bahwa keharaman aktifitas seksual sesama jenis bersifat mutlak. Tafsir dari para ulama juga jelas membantah pernyataan bahwa kaum Nabi Luth AS diazab bukan karena orientasi seksualnya, akan tetap karena telah melecehkan malaikat yang diutus menemuinya. selanjutnya

Iklan
h1

Renungan Di Pesisir Kenjeran: Menahan Syahwat Dibilang Munafik Atau Menuruti Syahwat Demi Menjadi ‎Diri Sendiri???‎

9 Juli 2015

Sebagai pembuka, saya paparkan beberapa pengertian kata ‘munafik’ yang dikutip dari berbagai sumber (tanda …… berarti ada bagian yang tidak dicantumkan untuk meringkas):

Munāfiq atau Munafik (kata benda, dari bahasa Arab: منافق, plural munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, namun sebenarnya hati mereka memungkirinya.

……

(sumber: Wikipedia)

***

Nifaq (اَلنِّفَاقُ) berasal dari kata نَافَقَ-يُنَافِقُ-نِفَاقاً ومُنَافَقَةً yang diambil dari kata النَّافِقَاءُ (naafiqaa’). Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lubang yang satu, maka ia akan keluar dari lubang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata النَّفَقُ (nafaq) yaitu lubang tempat bersembunyi.

Nifaq menurut syara’ (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu dan keluar dari pintu yang lain.

……

Nifaq ada dua jenis: Nifaq I’tiqadi dan Nifaq ‘Amali.

Nifaq I’tiqadi (Keyakinan)

Yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran.

……

Nifaq ‘Amali (Perbuatan)

Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati.

……

“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas.”

……

(sumber: almanhaj.or.id)

(penjelasan: nifaq adalah sifatnya, munafiq adalah orang yang memiliki sifat nifaq – nesandhi)

***

6E3131_rdpkmsdmamsdmds_090715_01

*** lanjutkan membaca

h1

Silaturahmi versus Shilaturrahim

4 Juli 2014

Beberapa waktu yang lalu perhatian saya tertuju pada posting di laman Facebook yang muncul di dinding berita (newsfeed) saya. Ternyata posting tersebut merupakan aktifitas salah seorang teman yang ditandai (tag) oleh laman (page) yang dilanggannya. Sebenarnya kemunculan aktifitas teman semacam ini saya keluhkan karena membuat tampilan dinding pribadi kita menjadi penuh dengan informasi yang tidak diperlukan. Namun sayangnya fitur untuk menyembunyikan aktifitas teman tidak lagi tersedia.

Isi posting tersebut intinya adalah mempersoalkan penggunaan kata ‘silaturahmi’ (Bahasa Indonesia) yang mereka (penulis posting) klaim salah. Kesalahan tersebut muncul karena makna kata ‘silaturahmi’ berbeda dari kata yang sesungguhnya yaitu kata ‘shilaturrahim’ (Bahasa Arab). Mereka membandingkan secara apple to apple kedua kata tersebut dengan menggunakan kaidah yang sama, yaitu kaidah tata bahasa yang berlaku dalam Bahasa Arab. lanjutkan

h1

Mengapa Para Mu’allaf (Umumnya) Lebih ‘Alim’ Daripada Yang Keturunan

12 November 2013

Mu’allaf adalah orang yang ‘baru’ memeluk agama Islam. Yang dimaksud baru adalah ia memeluk agama Islam setelah usianya baligh (dewasa secara syar’i). Ia tidak dilahirkan oleh orang tua yang sudah beragama Islam atau dengan kata lain ia bukan muslim keturunan.

Dari berbagai kisah mu’allaf yang pernah saya baca di berbagai media cetak maupun online, berdasarkan keyakinan relijius sebelumnya, ada dua kelompok besar asal-usul mu’allaf:

  1. Orang yang tadinya memeluk agama lain, lalu pindah ke agama Islam;
  2. Orang yang tadinya (mengaku) tidak bertuhan (atheis), lalu memilih bertuhan dalam cara agama Islam.

Kedua kelompok besar tersebut terhubung oleh sebuah kesamaan, yaitu: GALAU!

Apa yang membuatnya galau? baca selengkapnya

h1

Banyak Anak, Ibu Harus Berdaya

22 Oktober 2013

Sambil menjalankan aktifitas sehari-hari, istri saya berjualan pulsa elektrik. Hanya bermodalkan ponsel biasa dan uang tunai dua ratus ribu rupiah, bisnis tersebut bisa dijalankan sambil lalu. Beberapa pelanggan setianya biasa membeli secara kredit, pesan dulu lewat pesan singkat (SMS), melunasinya nanti setelah bertemu (tentu tidak dalam jangka waktu yang lama).

Senin (12/08) masih dalam suasana Lebaran 1434 H, hari itu ada tiga lokasi yang hendak kami kunjungi. Pertama, sebut saja kediaman bu Faisal (bukan nama sebenarnya). Kedua, membesuk teman SMA istri di RSUD Dr. Soetomo yang dirawat sejak sebelum Idul Fitri karena menderita DBD, yang kabarnya hari itu dia akan selesai menjalani perawatan dan dibolehkan pulang. Ketiga, ke rumah sohib akrab yang sudah saya anggap kakak sendiri.

Tulisan ini idenya bersumber dari ngobrol-ngobrol di rumah bu Faisal. baca selengkapnya

h1

But Actually Religion Issue Does Matter To Us

6 Februari 2013

Senin (04/02) siang ba’da sholat dhuhur, saya yang sedang duduk santai di ruang tamu SMP kelas putri tiba-tiba dikejutkan oleh salah satu ustadzah yang mengantarkan seorang tamu pria ‘aneh’ untuk duduk di ruang tersebut. Aneh, karena penampakan fisik pria tersebut berbeda dari yang biasa-biasa kami temui sehari-hari. Lebih aneh lagi, sang ustadzah bicara dalam bahasa Inggris (seadanya dan sekenanya) kepada tamu tersebut.

Karena ditinggalkan bersama saya di ruang itu, mau tak mau saya harus proaktif untuk menjalin komunikasi dengan tamu itu. Ternyata, si tamu itu mengaku berasal dari India, seorang guru seni yang sedang berlibur, dan menjalani program berkeliling ke beberapa sekolah. Dia meminta agar diizinkan beraudiensi singkat di depan murid-murid untuk mengenalkan seni origami yang dia ajarkan di sekolahnya di India. Surprise, karena belum pernah bertemu dengan model tamu yang seperti ini dan sama sekali tidak menaruh curiga apapun.

Dari komunikasi yang serba terbatas lewat bahasa Inggris dengan vocab dan grammar yang sekenanya serta sedikit kode-kode Tarzan, ada satu hal (dari sekian banyak hal) yang menarik dari pembicaraan kami. lanjutkan membaca

h1

Kasus Ahmadiyah: Hanya Opini Saja

7 Februari 2011

Pemikiran ini didasarkan pada kenyataan bahwa paham liberalisme, demokrasi, kebebasan HAM, relatifitas kebenaran agama, dan pluralisme sudah terlanjur meracuni bangsa Indonesia. Meski saya sendiri bukan penganut paham-paham tersebut. Namun, bagi saya yang penting sekarang adalah bagaimana mencarikan solusi atau jalan keluar terhadap kebuntuan-kebuntuan yang ada.

Jalan keluar yang saya maksud bersandar kepada: PENGAKUAN.

baca selengkapnya