h1

Tips Menjadi Caleg dan Capres di Pemilu 2014 ala Golputer

27 Maret 2014

Seribu persen, saya yakin bahwa bukan hanya saya saja satu-satunya manusia di muka bumi Nusantara ini yang muak dengan politik, pemilu, kampanye, janji-janji politik, dan segala tetek bengeknya. Namun, oleh karena tidak ada pilihan lagi, maka mau tidak mau, suka tidak suka, setiap warga negara akan bersinggungan dengan urusan politik. Semuak-muaknya saya, tentu saya tidak boleh tidak ikut nimbrung, minimal, sekedar curah pendapat (bukan curhat). Setidak-tidaknya, lewat curah pendapat bisa dibuktikan apakah pemikiran saya benar-benar absurd ataukah ternyata di luar sana ada orang-orang lain yang berpikiran sama dengan saya.

Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan tips-tips yang dapat diterapkan oleh para partai politik, caleg anggota legislatif, calon presiden, juru kampanye, maupun tim sukses yang berlaga dalam pemilihan umum 2014. Tips berikut ini sama sekali tidak menjamin Anda akan terpilih dan menang. Namun, setidak-tidaknya, Anda dapat mengurangi rasa mual-mual yang akan diderita oleh saya dan orang-orang seperti saya (kalaupun ada). Selain, agar Anda sendiri tidak menambah-nambah dosa karena berbohong dan ingkar janji.

simak tipsnya

h1

Tips Memilih di Pemilu 2014 ala Golputer

18 Maret 2014

Ya, saya adalah seorang golputer, alias tidak menggunakan hak saya sebagai warga negara untuk memilih di pemilihan umum. Sejak berusia 17 tahun di tahun 1996 hingga ke pemilu berikutnya 1999, 2004, dan 2009 saya tidak menggunakan hak pilih saya. Karena itu, saya sangat memahami jika ada pembaca yang menihilkan pemaparan-pemaparan di artikel yang saya tulis kali ini.

Langsung di-close aja, Gan!

Saya sendiri berkeyakinan, ada dua opsi langkah yang bisa dilakukan, dalam konteks pemilu, agar kita bisa berharap akan ada perubahan, yaitu:

  1. sebagian besar warga negara yang punya hak pilih menggunakan hak pilihnya, angka golput harus kecil; sebaliknya
  2. sebagian besar warga negara harus golput tidak menggunakan hak pilihnya, sehingga angka partisipasi pemilu jadi kecil.

Tentu, kedua opsi tersebut muncul didahului adanya latar belakang pemikiran. lanjutkan membaca

h1

Kurikulum 2013 May Go To H***

28 Desember 2013

Agar lebih sensasional, saya sengaja memilih judul yang seperti itu. Tiga karakter setelah huruf h yang saya samarkan dengan karakter bintang sebenarnya adalah huruf-huruf ell. Sehingga kata penuhnya adalah hell (neraka), wkwkwkkk 😀 .

Pembaca yang belajar bahasa Inggris pasti paham makna dari ungkapan “go to hell”. Bagi yang belum paham, secara tekstual artinya “pergi ke neraka”. Ngapain??? Emangnya di neraka enak???

Bukan berarti pergi ke neraka beneran. Ungkapan itu bermakna konotatif. Jika seseorang mengatakan kepada Anda, “You can/may go to hell.” maka yang sebenarnya ia maksud adalah bahwa ia sama sekali tidak peduli kepada Anda dan apapun yang Anda lakukan, meski Anda pergi ke neraka sekalipun. Dan menggunakan kata hell dalam kalimat yang ditujukan kepada orang lain adalah ungkapan yang bernada kasar sebagai penegasan sikap dari si pembicara.

Dalam sekuel film Harry Potter, jika jeli, Anda akan menemukan frasa “bloody hell” yang diucapkan oleh beberapa tokoh. Sudah ada kata hell, masih diikuti dengan kata bloody (berdarah-darah) pula. Mungkin bisa dimaknai sebagai ungkapan makian yang (sangat) kasar bagi orang Inggris.

Anyway, kembali ke judul artikel ini…

Ya! Saya memang mengajak Anda untuk tidak mempedulikan Kurikulum 2013 dalam konteks sebagai orang tua. Tetapi, sebagai warga negara, tentu kita harus terus mencermati dan mengkritisinya. Sebagaimana program-program dan kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang menggelontorkan dana APBN (baca: uang rakyat) dalam jumlah besar, kita berhak dan wajib untuk tidak mengabaikannya.

Hal yang paling mengemuka, atau bisa dibilang berubah drastis dari Kurikulum 2013, yang di-blow up media, adalah penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), serta penghapusan ujian nasional, semuanya untuk tingkat Sekolah Dasar (SD).

Kebijakan tersebut tentulah mengundang kontroversi di tengah masyarakat. Namun secara kasat mata, saya menilai kali ini pihak yang pro hanya dari sisi pemerintah (Kemendikbud dengan segenap para profesor/pakar yang super duper jenius puol sampai mentok). Sedangkan pihak yang kontra tidak hanya dari kalangan masyarakat selaku orang tua dan keluarga dari para murid SD, namun ternyata juga para pengamat pendidikan, para akademisi di luar bidang pendidikan, dan bahkan para praktisi bisnis dan industri selaku user dari tenaga kerja yang dihasilkan oleh dunia pendidikan.

Setidaknya ada dua alasan kenapa saya mengajak para orang tua murid untuk mengabaikan saja polemik Kurikulum 2013. baca selengkapnya

h1

Inspirational Physics #4

23 Desember 2013

‘Momentum’ adalah salah satu kata yang sering terucap dalam dialog sehari-hari. Ambil contoh, seorang pejabat mengatakan, “Kami menunggu momentum yang tepat untuk melaksanakan kebijakan itu.” Para pendengar memahami kata momentum sebagai ‘saat’, ‘waktu’, ataupun ‘kondisi’ yang mendukung terlaksananya suatu tindakan.

Sebagai orang yang bergelut dengan pelajaran Fisika, tentu saya memiliki pemahaman yang (mungkin) berbeda. Namun, dalam artikel ini saya tidak bermaksud mempertentangkan pemahaman tersebut. Justru, saya menawarkan suatu cara berpikir yang diharapkan melengkapi pemahaman tersebut. Pada ujungnya, pemahaman tersebut menjadi inspirasi yang berbuah motivasi bagi kita dalam bertindak.

Dalam Fisika, momentum (p) diartikan sebagai hasil kali (product) antara massa (m) dari suatu obyek yang sedang bergerak dengan kecepatannya (v). Momentum adalah besaran vektor dengan satuan SI/MKS-nya kilogram-meter-per-detik (kg.m/s) atau Newton-detik (N.s). Definisi ini sejalan dengan makna momentum yang tertulis dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionary (force that increases speed with which a process is happening, gaya yang meningkatkan kelajuan yang dengannya suatu proses terjadi). selengkapnya

h1

Desember, Bulannya Pejabat Nampang di Televisi

16 Desember 2013

Desember tidak hanya menjadi bulan penutup di tahun kalender berbasis matahari. Namun di dalamnya bertebaran berbagai hari-hari yang punya makna penting. Bagi agama Kristen dan Katolik, jelas, di bulan ini mereka menyambut perayaan hari kelahiran Sang Juru Selamat. Sedangkan bagi seluruh warga dunia yang menjadikan kalender syamsiyah sebagai sistem penanggalan utama, tentu bulan Desember menjadi penantian pergantian tahun yang biasanya dilakukan dengan bertaburan aksi pemborosan dan kemaksiatan.

Awal bulan, tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari Anti HIV/AIDS sedunia. Di Indonesia, Hari Anti HIV/AIDS ini dilalui dengan kesuperbodohan* sang Menteri Kesehatan RI, Ibu Nafsiah Mboi, yang meloloskan kegiatan Pekan Kondom Nasional. Lalu setelah mendapat hujatan dari berbagai lapisan masyarakat, segenap staf Kementerian Kesehatan RI dikerahkan untuk melakukan kontra opini sembari cuci tangan alias lepas tanggung jawab atas polemik yang memalukan bagi bangsa yang mengaku relijius ini.

Kesuperbodohan itu berlanjut pada pernyataan bu Menkes yang membenarkan sebagian besar produk-produk farmasi di Indonesia yang masih menggunakan senyawa yang berasal dari hewan babi dalam proses produksinya. Lalu diikuti dengan tuntutan beliau, didukung sebagian kalangan medis dan farmakologi, agar obat/vakin tidak perlu melalui proses sertifikasi halal dari MUI. Notabene, yang dimaksud adalah syariat Islam tentang kewajiban memastikan kehalalan zat apapun yang masuk ke dalam mulut dan ditelan melewati kerongkongan setiap rakyat Indonesia yang mayoritas muslim ini harus dikesampingkan.

Okelah, cukup sampai disini ndhelerengnya pikiran.

Ada sebuah fenomena menarik yang saya perhatikan selama beberapa tahun belakangan, yang menjadi marak di bulan Desember, yaitu: peningkatan intensitas tampilan tayangan iklan layanan masyarakat dari berbagai lembaga/instansi negara di berbagai stasiun televisi.

Masalah buat gue??? Ooo, sangat menjadi masalah bagi saya selaku pemilik saham republik nusantara tercinta ini.

Sebenarnya, ada juga beberapa iklan layanan masyarakat lain yang tayang di bulan-bulan sebelumnya. Iklan tersebut kerap mengusik alam logika pikiran kerakyatan di kepala saya. Sangat bisa dibaca dan diduga, motif apa yang melatarbelakangi munculnya tayangan iklan tersebut.

Dalam tulisan ini, saya ingin ‘menggugat’ beberapa iklan layanan masyarakat yang dirilis oleh pemerintah. Gugatan tersebut karena munculnya pertanyaan-pertanyaan berikut: lanjutkan membaca

h1

Sorry for Not Being There, Dik Bro… But, Chayo!

4 Desember 2013

Saya hidup terpisah dari ibu, ayah, dan kedua adik saya sejak tahun 1998 ketika memulai kuliah di Jurusan Fisika FMIPA ITS Surabaya. Sejak itu, saya seperti jatuh cinta mati dengan kota Surabaya. Hingga kemudian setelah wisuda saya memutuskan untuk mencari kerja di kota ini. Bahkan bertemu jodoh disini dan tahun lalu saya sudah melakukan mutasi kependudukan ke kota ini pula.

Terkadang ada suatu pikiran yang menggoda alam nurani saya. Bagaimana jika orangtua dan adik-adik di Pontianak membutuhkan kehadiran saya sebagai anak dan kakak tertua??? Bisakah saya segera pulang dan memenuhi kewajiban atas peran saya???

Pertanyaan itu pernah datang dengan sangat telak untuk menagih jawaban saya beberapa tahun yang lalu. Saat itu, ayah saya, yang perokok berat dan begitu sulit berhenti, terkena serangan jantung yang mengharuskannya opname di rumah sakit. Andai saat itu ALLAH memanggilnya, tidak terbayang beratnya rasa bersalah dalam dada ini. Bukan karena tidak merelakan kematiannya, sebagai mantan guru pesantren saya paham betul makna ‘takdir’. Akan tetapi saya akan merasa sangat bersalah jika tidak bisa mendampingi detik-detik akhir hidupnya, berada dalam pandangan matanya menjelang tertutup selamanya, memandikan, mengkafani, mensholatkan, memanggul, dan membaringkan jenazahnya di liang lahat sebagai purnabakti saya kepada beliau sebagai anaknya.

Kemarin (02/12) malam, pertanyaan itu kembali datang menagih jawaban dari saya. Kali ini, adik bungsu saya (sebutlah namanya ‘Zed’) yang galau tentang rencananya menikahi seorang perempuan yang sudah lama menjalin kasih dengannya. Yah, terpaksa ponsel dan pulsa yang menjadi modal untuk berusaha semaksimal mungkin menjalankan peran saya sebagai ‘the big bro’. lanjutkan

h1

Mengapa Para Mu’allaf (Umumnya) Lebih ‘Alim’ Daripada Yang Keturunan

12 November 2013

Mu’allaf adalah orang yang ‘baru’ memeluk agama Islam. Yang dimaksud baru adalah ia memeluk agama Islam setelah usianya baligh (dewasa secara syar’i). Ia tidak dilahirkan oleh orang tua yang sudah beragama Islam atau dengan kata lain ia bukan muslim keturunan.

Dari berbagai kisah mu’allaf yang pernah saya baca di berbagai media cetak maupun online, berdasarkan keyakinan relijius sebelumnya, ada dua kelompok besar asal-usul mu’allaf:

  1. Orang yang tadinya memeluk agama lain, lalu pindah ke agama Islam;
  2. Orang yang tadinya (mengaku) tidak bertuhan (atheis), lalu memilih bertuhan dalam cara agama Islam.

Kedua kelompok besar tersebut terhubung oleh sebuah kesamaan, yaitu: GALAU!

Apa yang membuatnya galau? baca selengkapnya

h1

Banyak Anak, Ibu Harus Berdaya

22 Oktober 2013

Sambil menjalankan aktifitas sehari-hari, istri saya berjualan pulsa elektrik. Hanya bermodalkan ponsel biasa dan uang tunai dua ratus ribu rupiah, bisnis tersebut bisa dijalankan sambil lalu. Beberapa pelanggan setianya biasa membeli secara kredit, pesan dulu lewat pesan singkat (SMS), melunasinya nanti setelah bertemu (tentu tidak dalam jangka waktu yang lama).

Senin (12/08) masih dalam suasana Lebaran 1434 H, hari itu ada tiga lokasi yang hendak kami kunjungi. Pertama, sebut saja kediaman bu Faisal (bukan nama sebenarnya). Kedua, membesuk teman SMA istri di RSUD Dr. Soetomo yang dirawat sejak sebelum Idul Fitri karena menderita DBD, yang kabarnya hari itu dia akan selesai menjalani perawatan dan dibolehkan pulang. Ketiga, ke rumah sohib akrab yang sudah saya anggap kakak sendiri.

Tulisan ini idenya bersumber dari ngobrol-ngobrol di rumah bu Faisal. baca selengkapnya

h1

Inilah Sebabnya LCGC Sebenarnya Tidak Murah

21 Oktober 2013

Kali ini saya akan melakukan simulasi perhitungan menggunakan langkah-langkah sederhana yang bisa dikategorikan ‘completely idiot dummies’.

Ambil contoh, kita akan membeli sebuah LCGC seharga 80 juta rupiah. Sesuai dengan gembar-gembornya para pejabat yang pro LCGC, program ini ditujukan untuk rakyat yang ‘tidak kaya’, maka pembeliannya pasti secara kredit, tidak mungkin tunai. selengkapnya

h1

Belajar dari Kecelakaan Maut Si Dul: With Great Power Comes Great Responsibility

17 September 2013

Berbagai liputan dan opini para pakar tentang kasus ini sudah banyak beredar di berbagai media. Artikel ini tidak bermaksud pro maupun kontra kepada salah satu pihak manapun. Sudut pandangnya adalah: bagaimana jika saya punya anak remaja yang ingin mengendarai mobil/motor?

Lagi-lagi, di negeri ini di setiap permasalahan di sektor/bidang apapun yang mencuat mengemuka menjadi rasan-rasan tingkat nasional, ketika berusaha diuraikan akar dan pokok permasalahan, selalu yang ditemukan adalah kompleksitas masalah. Selalu, tidak ada satu-satunya pihak yang bisa dituding dan dituntut sebagai penyebab utama. Selalu, ditemukan banyak pihak-pihak yang berkontribusi dalam kesalahan dan permasalahan tersebut. Selalu, fenomena yang muncul hanyalah sebuah ‘puncak gunung es’ yang berarti yang lain yang belum terungkap masih jauh lebih massif.

Oleh karena tidak adanya satu pihak tunggal yang bisa dijadikan pesakitan maka otomatis tidak ada satu pun pihak yang akan dengan ksatria tampil ke panggung patriotisme untuk berseru, “Sayalah yang bertanggung jawab!”

Dalam kasus Dul, tindakan cepat Ahmad Dhani dan Maia Estianty yang mengakui perbuatan anaknya, bertanggung jawab secara moril kepada para keluarga korban, dan mematuhi proses hukum di kepolisian layak mendapatkan apresiasi yang tinggi. Orang khilaf yang segera mengaku salah lebih cepat dan mudah mendapatkan maaf dan simpati dari pihak lain. Berbeda sekali dari tokoh-tokoh publik lain, yang jangankan baru berstatus tersangka oleh KPK, sudah divonis bersalah di Mahkamah Agung, masih saja pandai bersilat lidah mengaku tak bersalah, berakting sebagai hamba beriman yang menjadi korban kedholiman, dan menuntut hak-hak azasinya di depan kamera tivi melebihi ‘dosa-dosa’ hukumnya kepada negara. lanjutkan