Archive for the ‘pengalaman’ Category

h1

Koreksi Pengukuran Jarak Tempuh Pada Motor Yang Berganti Ukuran Ban

2 Mei 2015

Berawal dari rasa penasaran untuk menakar konsumsi BBM motor Yamaha Byson 2010 yang saya miliki sejak Desember 2014, saya baru mendapatkan kesempatan sekitar akhir April 2015 lalu. Bukan apa-apa, dengan harga Pertamax yang gonjang-ganjing dan kantong yang cekak, butuh waktu untuk mengisi penuh tangki bensin Byson hingga penuh. Itu pun dicicil sejak bulan-bulan sebelumnya.

Motor ini jarang saya pakai, paling banter 3-4 kali dalam sepekan. Sedangkan pengisian BBM-nya hanya satu kali dalam sebulan. Sehingga, jika dalam sebulan si Byson jarang digunakan namun BBM-nya tetap diisi, lama-kelamaan volume tangkinya akan penuh juga, kan.

Awal April saya mengisi Pertamax sebanyak 5 liter. Tak disangka tangki Byson saya terisi sampai sisi inlet yang paling atas. Kelar mengisi, tripmeter saya set ke angka nol. Karena sudah niat hendak mengukur konsumsi BBM, di bulan April ini si Byson saya gunakan lebih sering dari biasanya. selengkapnya

h1

Begini Lho, Wirausaha Bidang Pendidikan Yang Salah Kaprah Parah

22 Oktober 2014

Bunga (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu siswi les privat yang saya bimbing. Bunga duduk di kelas VI sebuah sekolah dasar negeri di kawasan Utara Kota Surabaya. Bunga di bawah bimbingan saya sejak semester genap tahun ajaran 2013 – 2014 saat ia duduk di kelas V khususnya untuk mata pelajaran Matematika dan (sesekali belajar) IPA.

Biasanya, lazimnya, normalnya, Bunga belajar privat bersama saya hanya pada hari-hari yang dijadwalkan yang telah disepakati sejak awal tahun ajaran. Amat sangat jarang Bunga minta dibimbing belajar di luar jadwalnya, yaitu Selasa dan Kamis sore pukul 16.00 – 17.00 WIB. Bahkan meski saya sudah menawarkan les di waktu yang lebih fleksibel khusus pada saat UTS dan UAS pun (menyesuaikan jadwal ujian Matematika dan IPA), Bunga tetap les sesuai jadwalnya. Pernah, Selasa sore Bunga les, ternyata ia sudah UTS Matematika pada Selasa paginya.

Namun, ada sesuatu yang benar-benar tidak biasa yang saya alami sepanjang sejarah menjadi guru privat Bunga. Sabtu (18/10) sekitar pukul setengah 11 malam, saya ulangi: sekitar pukul setengah 11 malam, saya yang baru saja pulang dari ‘bermalammingguan’ bersama sang kekasih (istri saya, maksudnya) dan baru saja beberapa langkah memasuki rumah, belum lagi sempat mencopot helm dan berganti pakaian, ada pesan singkat yang masuk ke ponsel saya. Sangat sangat sangat tidak diduga, pesan itu dikirim oleh ibunda Bunga yang berisi permintaan les tambahan pada hari Minggu keesokan harinya karena ada tugas dari guru kelasnya. Terlebih, karena menurut Bunga sekolahnya sudah kelar melaksanakan UTS pada hari Jumat pekan itu juga.

Saya yang masih terheran-heran menjawab pesan tersebut dengan menjanjikan jadwal les tambahan pada Minggu (19/10) pukul 13.00 WIB, tanpa mengenakan biaya les tambahan tentunya.

*** lanjutkan membaca

h1

Kuliah, Harus Giat dan Bersosialisasi

15 September 2013

Minggu (15/09) pagi, saat sedang hibernate di depan tivi, mata masih flip-flop dan kesadaran kognitif sedang low level, masuklah sebuah pesan singkat dari istri saya yang sedang mengunjungi budhe di Mojokerto. Dia bilang, Lia (bukan nama sebenarnya) salah seorang teman SMA-nya yang kuliah semester 1 di Fakultas Kesehatan Masyarakat di sebuah PTN di Surabaya, menanyakan judul dan penulis buku Kalkulus yang ada di lemari buku koleksi di rumah kami. Saya sampaikan, Kalkulus dan Geometri Analitis jilid 1, penulisnya Edwin J. Purcell dan Dale Varberg.

Lalu kami berdua terlibat dalam percakapan via pesan singkat. Dari situ, saya menduga adanya ‘kesulitan’ atau (mungkin) ‘kebelumpahaman’ dalam diri Lia tentang statusnya sebagai mahasiswa. Tentu saya hanya bisa sebatas menduga karena setidaknya institusi kampus saya dan Lia berbeda sehingga mungkin ‘budaya’ yang berkembang juga berbeda.

Kok ya pas, Jumat (13/09) lalu, saya nongkrong di salah satu masjid milik sebuah PTS yang sudah dilikuidasi di Jalan Arif Rahman Hakim menunggu waktu mengajar privat ba’da maghrib di komplek perumahan dosen ITS. Tak dinyana, hampir pukul lima sore, datanglah seorang pria mengendarai Daihatsu Feroza memasuki pelataran parkir masjid tersebut yang wajahnya saya kenal akrab. Beliau adalah Iman Supriyono (di Facebook saya menyapanya dengan sebutan ‘Ust. Iman’), salah satu orang tua murid saya di SMP (sekarang putri sulungnya kuliah di RRC). Beliau lulusan Teknik Mesin ITS namun berprofesi sebagai konsultan finansial dan pengembangan perusahaan. Untuk mendukung profesinya tersebut, beliau pernah kuliah S2 bidang manajemen di almamater yang sama dengan Lia. selengkapnya

h1

Mendalami Pemikiran Siswa atas Sebuah Persoalan, Bukan Menolerir Jawaban Nyeleneh

25 Juli 2013

Kamis (25/07) sekitar pukul 2 siang. Sepulang dari berburu beras untuk persediaan dapur, saya leyeh-leyeh sebentar di depan televisi sambil browsing acara-acara sedang tayang di berbagai saluran. Perhatian saya terhenti pada saluran TVRI yang sedang menayangkan program kerjasama dengan Televisi Edukasi (tv-e). Program yang disiarkan nampaknya adalah rekaman sebuah seminar yang belakangan saya ketahui terkait dengan sosialisasi pelaksanaan Kurikulum 2013 yang baru.

Ada dua hal yang menyebabkan perhatian saya tiba-tiba terhenti di saluran ini. Pertama, penampilan dan gaya audiensi si pembicara yang cukup eksentrik. Apalagi kemudian ditampilkan namanya, yang tidak saya ingat, namun saya hanya mengingat gelar akademiknya yang cukup mentereng. Namanya diawali oleh gelar Dr. dan Ir. lalu diakhiri dengan Ph.D.

Kedua, si pembicara menjelaskan (yang saya duga, karena saya tidak menyimak dari awal) tentang perbedaan antara kurikulum yang lama dengan Kurikulum 2013. Di antara poin-poin perbedaan yang beliau jelaskan, salah satu poin yang membuat pikiran saya tiba-tiba riuh dan semerawut dengan berbagai argumen pro-kontra yang juga lalu mendorong saya untuk menulis artikel ini adalah: (di Kurikulum 2013) guru harus menolerir jawaban siswa yang nyeleneh.

Nah, mari kita diskusikan… lanjutkan

h1

A Brief Moment of Stupidity Caused by ‘un-WILLING-ness’

21 Mei 2013

Kali ini, kita lupakan dulu segala fakta carut-marutnya sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) di republik ini, kita lupakan dulu segala teori, analisis, dan hipotesis para pakar pendidikan yang telah menghiasi relung pemikiran, kita lupakan dulu segala bentuk kurikulum, silabus, dan RPP yang telah membuat sibuk para guru melebihi aktifitas riilnya sebagai seorang pendidik.

Saya ingin mengajak pembaca ke situasi nyata yang ada di kelas, salah satu momen saja yang baru-baru ini saya alami.

It’s not an apology. Nyatanya, saya bukanlah figur guru yang ideal, di semua aspek. Bahkan mungkin saya sama sekali tidak pantas menjadi guru. Sebagai guru pembimbing bidang studi Fisika tingkat SMP, saya hanyalah lulusan jurusan Fisika FMIPA di sebuah institut teknologi milik pemerintah yang berlokasi di kota Surabaya.

Hari-hari di bulan Mei adalah masa-masa mendekati ujian akhir semester (UAS). (Rasanya) di semua sekolah, sangat umum/wajar sekali bila para guru sudah mulai ‘mengorientasikan’ suasana menuju UAS. Di antaranya, memberikan arahan tentang bahan yang akan dijadikan ujian.

Fisika, adalah salah satu mata pelajaran yang dianggap ‘momok’ dengan sejuta alasan yang masing-masing orang bisa sama dengan yang lain, bisa pula berbeda. Meski demikian, faktanya, jarang orang mau mengakui, justru Fisika (dan Matematika, yang juga menjadi momok) adalah pelajaran yang bisa ditargetkan untuk ‘benar semua’ dalam Ujian Nasional (UN). Percaya atau tidak??? lanjutkan membaca

h1

Absolutely Dummies Guide: Membuat Grafik S versus t dengan Microsoft Office Excel 2007

24 April 2013

Menampilkan data-data hasil percobaan (eksperimen) ataupun penelitian ilmiah lainnya secara visual dalam bentuk grafik adalah suatu kebutuhan. Namun ternyata, perlu langkah-langkah khusus yang jarang sekali dicontohkan di pelajaran TIK. Umumnya guru TIK memberikan contoh-contoh data dari bidang sosial (penjualan, nilai ujian, dsb.) untuk ditampilkan dalam diagram batang, garis, maupun lingkaran. Nah, untuk melengkapinya, dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman membuat diagram atau grafik untuk keperluan menampilkan data-data di bidang IPA khususnya Fisika. Sebagai contoh, digunakan data-data hasil pengukuran waktu pada percobaan gerak lurus. selengkapnya

h1

Kebusukan UN, Masih Bisa Mungkir (Lagi)???

21 April 2013

Foto-foto ini saya dapatkan secara berantai dari salah satu kerabat tanpa harus bersusah payah mencari-cari maupun membayar sejumlah uang tertentu. Saya cuma mengirim pesan singkat di hari Sabtu (13/04), “ntar kalo ada yg aneh2 menjelang UN,ksh tau q ya“.

Inilah hasilnya: lihat selengkapnya

h1

MSO Word Problem, Bagaimana Cara Menata Letak Gambar atau Foto???

20 Februari 2013

Ini benar-benar masalah. Saya tidak sedang berbagi tips dan trik. Karena sesungguhnya sayalah yang butuh pertolongan.

Tolong dibantu yaaaaaaaaaaaa…

Masalah ini (selalu) terjadi saat saya menyisipkan gambar atau foto ke dalam dokumen yang saya ketik menggunakan MSO Word (kali ini saya menggunakan yang versi 2007), lebih khusus lagi saat menggunakan pengaturan Multiple pages ‘2 pages per sheet’ maupun ‘Book fold’.

multiplepages_picturewrapping_problems_01

Coba perhatikan screenshot saat proses editing berikut ini:

multiplepages_picturewrapping_problems_02

Everything seems fine and properly fitted in its place, right???

Sekarang bandingkan dengan hasil cetak yang saya foto berikut ini:

multiplepages_picturewrapping_problems_03

Kelihatan masalahnya, kan??? (gambar grafik yang tadinya berada di dalam tabel di kanan jadi ‘terlempar’ ke sebelah kiri di area yang tidak semestinya)

Note: saat menyisipkan gambar, saya langsung paste saja lalu saya atur ‘Text Wrapping’-nya jadi ‘In-Line with Text’.

Nah, itu pertanyaannya, bagaimana cara mengatasinya ataukah sudah takdir bawaan lahir kita tidak bisa menata letak gambar atau foto secara benar dalam pengaturan Multiple pages ‘2 pages per sheet’ maupun ‘Book fold’???

Help me, please

h1

Dua Kali Membiarkan Sertifikasi Gagal

6 Februari 2013

Bagi sebagian orang yang amat sangat ingin tenar, kaya, dan memasuki dunia selebriti, bisa ikut dan lolos audisi acara-acara pencarian bakat di televisi adalah segala hal yang ingin dicapai di dunia. Nah, dengan feeling dan emosi yang sama, bagi para guru yang sejak Indonesia merdeka berteriak menuntut kesejahteraan, sertifikasi guru adalah hal yang sangat diidam-idamkan melebihi apapun. Ujung dari proses sertifikasi yang berupa tunjangan profesi pendidik (TPP) adalah ibarat hujan di padang pasir yang panas dan tandus.

Lalu mengapa saya membiarkan proses sertifikasi saya sendiri gagal, sampai dua kali pula???

Begini kronologinya, versi saya…  lanjutkan membaca

h1

But Actually Religion Issue Does Matter To Us

6 Februari 2013

Senin (04/02) siang ba’da sholat dhuhur, saya yang sedang duduk santai di ruang tamu SMP kelas putri tiba-tiba dikejutkan oleh salah satu ustadzah yang mengantarkan seorang tamu pria ‘aneh’ untuk duduk di ruang tersebut. Aneh, karena penampakan fisik pria tersebut berbeda dari yang biasa-biasa kami temui sehari-hari. Lebih aneh lagi, sang ustadzah bicara dalam bahasa Inggris (seadanya dan sekenanya) kepada tamu tersebut.

Karena ditinggalkan bersama saya di ruang itu, mau tak mau saya harus proaktif untuk menjalin komunikasi dengan tamu itu. Ternyata, si tamu itu mengaku berasal dari India, seorang guru seni yang sedang berlibur, dan menjalani program berkeliling ke beberapa sekolah. Dia meminta agar diizinkan beraudiensi singkat di depan murid-murid untuk mengenalkan seni origami yang dia ajarkan di sekolahnya di India. Surprise, karena belum pernah bertemu dengan model tamu yang seperti ini dan sama sekali tidak menaruh curiga apapun.

Dari komunikasi yang serba terbatas lewat bahasa Inggris dengan vocab dan grammar yang sekenanya serta sedikit kode-kode Tarzan, ada satu hal (dari sekian banyak hal) yang menarik dari pembicaraan kami. lanjutkan membaca