h1

Renungan di Pesisir Kenjeran: Perlukah Corong Masjid Diatur???‎

30 Juni 2015

Fungsi suatu sistem tata suara adalah untuk mereproduksi suara asli dari sumber hingga menghasilkan suara baru yang diinginkan sesuai kebutuhannya. Kebutuhan akan sistem tata suara berbeda-beda menyesuaikan penggunanya. Secara umum, rumah-rumah ibadah membutuhkan sistem tata suara untuk dua hal, yaitu:

  1. Mengumumkan pelaksanaan suatu ibadah atau kegiatan keagamaan kepada khalayak di sekitarnya dalam radius yang ‘wajar’, agar para jamaah segera bergabung;
  2. Mengeraskan suara yang terkait dengan prosesi ibadah (misalnya suara khutbah atau suara doa dari imam/pendeta/pemimpin doa) dalam intensitas yang ‘wajar’ agar dapat disimak seluruh jamaah yang ada di dalam rumah ibadah tersebut.

Dengan mengacu kepada kedua kebutuhan tersebut, maka disusunlah suatu rancangan sistem tata suara yang perlu disediakan di sebuah rumah ibadah.

Saya teringat masa kuliah tahun 2004 – 2005 kala mengerjakan tugas akhir (TA) bersama beberapa rekan di jurusan Fisika FMIPA. Kami terpisah di beberapa laboratorium sesuai dengan tema masing-masing. Saya mengerjakan TA bertema perpindahan panas dan komputasi di lab Fisika Madya. Ada rekan yang mangkal di lab Fisika Teoretik, lab Geofisika, lab Fisika Bahan, lab Semikonduktor, lab Spektroskopi, bengkel Instrumentasi, dan lab akustik. Karena sering begadang di lab untuk melakukan eksperimen, kami sering kumpul-kumpul. Mulai dari sekedar cangkruk, cari makan, tukar-pinjam alat, numpang ngetik (tahun segitu laptop masih jadi barang mewah), pinjam uang, bantu-bantu rekan ambil data, latihan presentasi, dan sebagainya, sampai tidur bareng kalau terlanjur sampai dini hari dan malas pulang ke rumah/kos.

Salah satu rekan mengambil tema tentang akustika ruang. Obyek penelitiannya adalah ruang auditorium di salah satu sekolah swasta Kristen yang masih sekawasan dengan kampus kami. Saya sendiri pernah mengambil mata kuliah Akustika dan Elektroakustika. Jadi saya paham dengan tema TA-nya.

Di masa-masa masih ngekos, di sela-sela waktu kuliah saya juga sempat menggeluti hobi merakit perangkat audio. Kalau sekedar amplifier rakitan dengan modul dan komponen kelas Pasar Genteng (Surabaya) saja saya punya 2 unit. Hobi ini saya tekuni bersama seseorang yang tadinya rekan seangkatan kakak sepupu di jurusan Teknik Elektro sebuah PTS yang kemudian hingga kini menjadi sahabat saya.

Hal yang khusus adalah, rekan saya (yang mengerjakan TA bidang akustika ruang) itu adalah seorang kristiani, kuliah ndobel jurusan Teknik Sipil di sebuah PTS, dan (terutama sejak ayahnya wafat) nyambi kerja di sebuah kontraktor.

Darinya, saya mendapat wawasan tentang bangunan gereja. Bahkan sejak proses desain arsitekturnya gereja sudah memperhitungkan akustika ruang sebagai faktor penting di dalamnya. Ini sangat wajar, mengingat dalam ajaran agama Kristen prosesi ibadah, doa-doa, dan puji-pujian disampaikan lewat lantunan lagu baik oleh penyanyi solo maupun choir. Tidak hanya lagu yang bersifat acapela, tetapi juga lagu yang diiringi piano, band, bahkan di gereja besar (katedral) bisa diiringi oleh orkestra klasik lengkap.

Bisa dibayangkan, tanpa rancangan akustika ruang dan tata suara yang memadai, mana mungkin jamaah bisa betah di gereja dan merasakan syahdunya puji-pujian hingga meresapkan khutbah dari pendeta hingga ke relung hatinya yang dalam.

Saya lalu membayangkan, bagaimana keadaannya dengan rumah-rumah ibadah milik umat Islam alias masjid???

Sebelumnya, coba kita review bagaimana/untuk keperluan apa corong masjid difungsikan sebagaimana kenyataan di ‘lapangan’, minimal dari pengalaman saya sejak tahun 1998 hidup di kampung Surabaya:

  1. Adzan, panggilan penanda masuk waktu sholat fardhu (wajib) lima waktu (subuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya); khusus di bulan Ramadhan, adzan subuh adalah penanda dimulainya puasa dan adzan maghrib adalah penanda berbuka puasa;
  2. Khutbah, penyampaian materi keagamaan oleh penceramah baik dalam sholat Jumat maupun pengajian;
  3. Sholat, dalam sholat fardhu berjamaah (bersama) terutama bila jamaah yang hadir ‘cukup banyak’ diperlukan tata suara untuk mengeraskan suara imam (pemimpin sholat);
  4. Pengumuman, terkadang pimpinan wilayah (RT, RW, Kelurahan) menyampaikan pengumuman kepada warga memanfaat corong masjid, misalnya berita duka atau undangan kegiatan pengajian;

Empat contoh pemanfaatan tersebut sejalan dengan fungsi tata suara di rumah ibadah yang saya tuliskan di bagian awal.

Selain keempat fungsi tersebut, ternyata corong masjid juga difungsikan untuk hal-hal lain, di antara yang paling kentara bisa ditemui di perkampungan yang secorak dengan Surabaya adalah:

  1. Sebelum masuk waktu sholat fardhu, seringkali takmir masjid menyetel bunyi-bunyian berupa murrotal (rekaman pembacaan Al Quran) dan sholawat (pujian dan doa untuk Nabi Muhammad SAW). Semua warga Surabaya pasti sangat akrab dengan sholawat yang dilantunkan oleh almarhum Gus Dur. Ada yang merelai siaran murrotal dan sholawat dari Radio Masjid Rahmat, Kembang Kuning, ada pula yang memutarkan rekaman koleksinya sendiri. Tindakan ini dilakukan dengan alasan (dalih) untuk mengingatkan kaum muslimin bahwa beberapa menit lagi akan masuk waktu sholat fardhu, sehingga mereka diharapkan segera bersiap berangkat ke masjid.
  2. Terutama di bulan Ramadhan, takmir masjid mengeraskan bacaan seluruh prosesi sholat tarawih dan tadarus Quran. Tindakan ini katanya dilakukan sebagai bagian dari syiar Islam.

Lalu dimana masalahnya???

Ada dua masalah besarnya, yaitu:

  1. Persepsi mayoritas umat Islam tentang “menyediakan suatu sistem tata suara yang memadai untuk kegiatan ibadah” hanya dimaknai secara sempit sebagai: menyediakan pengeras suara yang mampu mereproduksi suara kekeras-kerasnya. Akibatnya, kenyataan di lapangan, sebagian besar masjid memiliki tata suara yang kedengarannya sih keras, tapi sesungguhnya berkualitas buruk. Dan (pasti), hanya segelintir masjid yang memperhatikan faktor akustika ruang.
  2. Bagian prosesi ibadah mana yang suaranya perlu dikeraskan lewat corong masjid dan mana bagian mana yang seharusnya senyap-senyap saja. Sepertinya, semua hal yang terjadi di masjid harus dikeraskan sampai seluruh penjuru dunia mendengar!

Dalam ungkapan yang sinis, kalau perlu sistem tata suaranya bisa membangunkan mayat-mayat yang sudah ratusan tahun dikubur, saking kerasnya. Bahkan ada ungkapan sindiran yang jauh lebih sinis bin sarkastik lagi, “Memangnya Tuhan tuli???”

Akibat kerasnya volume suara yang dikeluarkan, tentu (pasti) banyak pihak yang terganggu. Jangankan umat non muslim yang tak paham makna suara dan bunyi-bunyian yang keluar dari corong masjid (dan pasti tak butuh mendengarkannya), kaum muslimin sendiri tak semuanya paham dan bisa menikmatinya.

Cobalah Anda membayangkan bagaimana rasanya tinggal di suatu perkampungan, yang (sebetulnya) masyarakatnya kental dengan budaya relijius, dan di sekitar rumah Anda bisa ada 5 sampai 10 masjid, langgar, musholla, maupun pesantren dalam 1 RW yang semua takmirnya hobi geber-geberan volume TOA.

Adzan yang mana yang akan Anda dengarkan??? Murrotal atau sholawat yang mana yang hendak Anda simak??? Khutbah/ceramah yang mana yang bakal Anda serap ilmunya???

Di samping itu…

Bagaimana jika ada yang sakit, butuh ketenangan??? Ada yang lelah setelah bekerja keras seharian, butuh istirahat??? Ada bayi yang rewel, butuh kesunyian??? Ada yang sedang persiapan ujian, butuh konsentrasi??? Ada yang ingin beribadah secara privat, butuh kekhusyukan??? Ada yang harus bertatap muka ataupun bertelepon untuk urusan penting, butuh kesenyapan???

Apakah hanya takmir masjid yang boleh punya urusan yang harus didengar dan disimak oleh seluruh penjuru kampung, lalu urusan warga yang lain boleh diremehkan, berhak dikesampingkan, dan wajib dikalahkan???

Apakah tujuan syiar Islam bisa tercapai seiring dengan kerasnya volume TOA???

Apakah dengan semakin keras suara corong masjid berarti jaminan semakin lebarnya pula pintu surga dibukakan oleh ALLAH???

Maka jika kemudian muncul wacana dari pimpinan Dewan Masjid Indonesia (DMI), yang kebetulan kini menjabat sebagai RI – 2, tentang perlunya menertibkan penggunaan pengeras suara masjid, saya termasuk orang yang sangat mendukung.

Tapi saya berharap langkah penertiban dari DMI tidak perlu berupa keluarnya undang-undang ataupun fatwa MUI. Karena di negeri ini, nasib hukum dan aturan adalah:

  1. Bikinnya pakai uang rakyat dalam jumlah besar, tapi ujung nasibnya hanya berupa lembaran-lembaran dokumen yang membusuk di gudang arsip negara.
  2. Aturan dibuat untuk dilanggar. Makin tinggi strata sosialnya, makin merasa berhak melanggar aturan. Makin besar jumlah massanya, makin mudah melanggar hukum. Demi melanggar aturan dan lolos dari jeratan hukum, bayar pengacara mahal atau menyuap penegak hukum pun rela dilakoni.
  3. Pihak yang diatur biasanya tersinggung karena merasa haknya dikebiri dan martabatnya diremehkan.
  4. Pembuat hukum tidak pernah berada dalam posisi yang netral, ikhlas, lillahi ta’aala. Pasti punya motif terselubung. Pasti didukung pihak-pihak tertentu yang punya kepentingan. Ya, pasti duitlah ujung-ujungnya!

Padahal, aturan yang banyak menandakan masyarakat yang sulit teratur.

Masa urusan corong masjid saja harus diatur???

Saran saya kepada para takmir masjid, bagaimana jika Anda secara sadar, rela, dan mandiri mengatur diri Anda sendiri supaya tidak perlu diatur-atur oleh pihak luar??? Panduannya gampang, kok. Yang perlu Anda lakukan adalah membaca berulang-ulang meresapi tulisan saya ini dengan kepala dingin dan hari nurani yang jernih.

Praktisnya, kecilkan volume corong masjid Anda!!!

Demi ALLAH, ALLAH pasti bisa mendengar doa-doa Anda meski hanya terlintas dalam benak atau terbersit dalam hati.

Insya ALLAH, Anda memahami poinnya, kan???

Wallahu’alam

Just a thought

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: