h1

On Our Duty As Parents

6 September 2014

Disclaimer: Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman saya menjadi pengajar dan pengelola sebuah SD swasta Islam full-day periode 2009-2011 dan SMP swasta Islam boarding & full-day periode 2006-2012 (yang berbeda lokasi dan yayasan). Saya belum berpengalaman menjadi orang tua/wali murid yang menyekolahkan anak. Sehingga, bila di kemudian hari saya diberi ALLAH kesempatan mengalami sendiri menjadi orang tua/wali murid yang menyebabkan perubahan sudut pandang dan pemikiran, insya ALLAH, saya akan merevisi tulisan ini.

Sebuah insiden, atau lebih tepatnya disebut sebagai sebuah ‘runtutan insiden’ yang sebenarnya terjadi tanpa keterlibatan saya, langsung maupun tidak, menuntun saya menuliskan artikel ini. Sebenarnya, itu adalah sebuah insiden yang bersifat sangat ‘klasik nan normal bin wajar’ terjadi pada anak remaja yang bersekolah. Namun, sikap dan cara-cara ibu sang anak meresponnya (setidaknya dari cerita yang saya dengar dari penutur yang subyektif) membuat saya prihatin dan merasa perlu ‘meluruskan’ sesuatu (yang bengkok).

Sebagai seorang muslim, saya tidak bisa tidak mengacu kepada ajaran Islam. Namun saya tidak menuliskan dalil-dalil ayat Quran maupun hadits shahihnya. Semata-mata agar tulisan ini lebih ringkas dan praktis. Lagipula, khazanah ilmu Quran dan hadits saya masih sangat terbatas. Saya sangat berterima kasih jika ada pembaca yang memperkaya maupun mengoreksi dengan dalil-dalil yang tepat.

Saya menuliskannya ke dalam poin-poin agar nampak runut dan mudah dibaca (ulang)…

Ke-1,

Menurut konsep fundamental teologi Islam, seorang muslim disebut beriman jika ia mengikarkan keislamannya secara lisan (mengucapkan syahadat), membenarkannya di dalam hati, dan membuktikannya dalam perbuatan. Perbuatan seorang muslim yang beriman terikat pada perintah dan larangan ALLAH Swt. serta tuntunan Rasulullah Saw. yang kemudian disebut sebagai taqwa (takwa, dalam ejaan bahasa Indonesia). Ketakwaan seorang muslim mewujud dalam ibadah ritual maupun aktifitas di seluruh waktu hidupnya.

Jika diibaratkan sebagai pohon, iman adalah akarnya, takwa sebagai batangnya, ibadah menjadi daun dan bunganya, maka yang menjadi buahnya adalah akhlak. Makna yang terdekat dan praktis dari akhlak adalah moral. Umat Islam diajarkan bahwa seseorang tidak bisa seenaknya saja mengklaim dirinya beriman. ALLAH akan menguji kualitas keimanan seorang muslim lewat berbagai cara dan kejadian. Baik itu kejadian yang ‘enak’ maupun yang ‘tidak enak’.

Uniknya, akhlak seorang muslim (sebagai buah dari iman, takwa, dan ibadahnya) sungguh-sungguh akan teruji dalam kondisi-kondisi yang ‘tidak enak’ dan dalam perbuatan nyata. Karena dalam kondisi yang ‘enak-enak’ maupun dalam keadaan yang ‘cuma bisa ngomong/bicara’ terlalu mudah bagi siapapun untuk berlagak sebagai orang yang bertakwa. Maka jika ingin menilai kualitas ketakwaan kita, periksalah kembali bagaimana respon kita, pada saat yang paling awal, terhadap berbagai kejadian yang kita alami.

Ke-2,

Islam menganjurkan (dengan sangat dan segera) umatnya untuk menikah sebagai metode yang paling aman dan berkemanusiaan dalam menyalurkan hasrat seksual (yang menjadi insting alamiah makhluk hidup) sekaligus sebagai jalan pelestarian spesies. Keterikatan seorang muslim dan seorang (atau maksimal empat orang) muslimah dalam tali pernikahan diikuti oleh serentetan hak dan kewajiban yang terdistribusi secara adil antara laki-laki dan perempuan. ALLAH pun menyediakan ganjaran pahala atas pemenuhan hak dan kewajiban tersebut sekaligus ancaman dosa bagi umat yang mengabaikannya.

Buah awal dari pernikahan adalah hadirnya anak. Disebut ‘awal’ karena lahirnya anak menandai terbitnya status baru bagi pasangan suami-istri yaitu menjadi orang tua.

Ke-3,

Meski sebagai ‘buah’ ataupun ‘hadiah’ bagi pernikahan, anak tidak bisa dipandang sebagai ‘pajangan’ maupun ‘mainan’. Anak tidak bisa dinikmati hanya dalam keadaan senang-senangnya doang, cuma dibangga-banggakan bagusnya thok. Karena anak tidak akan selamanya menjadi anak-anak. Mereka akan tumbuh dan berkembang menjadi individu baru, lengkap dengan segala gegap gempita kehebohan dinamika dunia tumbuh-kembang anak.

Adapun menjadi orang tua adalah sebuah perjalanan panjang yang harus ditempuh dalam rangka mengantarkan sang anak agar siap menjalani kehidupan yang mandiri dalam keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia sebagai muslim/muslimah.

Ke-4,

Untuk memotivasi pasangan suami-istri yang telah dikaruniai anak agar benar-benar menjalankan tugasnya sebagai orang tua, ALLAH dan Rasulullah berkali-kali bersabda (dalam Quran dan Hadits shahih) tentang mulianya kedudukan orang tua, hak-hak orang tua dari anak, dan kewajiban-kewajiban anak terhadap orang tuanya.

Di saat seorang muslim wafat, maka terputuslah segala aliran pahala dari alam dunia kepadanya. Namun ALLAH menjanjikan tiga hal sebagai pintu aliran berkah-Nya ke alam kubur sang jenazah, salah satunya yaitu doa dari anak kepada orang tuanya yang telah wafat. Hanya anak sholeh yang akan tetap mendoakan orang tuanya yang telah wafat. Logikanya, hanya orang tua yang sholeh pula yang mampu membuat anaknya menjadi sholeh.

Ke-5,

ALLAH memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya dan keluarganya dari siksa neraka.

Siksa neraka merupakan akibat dari pengingkaran terhadap perintah maupun larangan ALLAH Swt dan Rasulullah Saw. Orang-orang yang disiksa di neraka pastilah mereka yang tidak bertakwa. Sedangkan orang-orang yang tidak bertakwa sangat kecil kemungkinannya berasal dari golongan orang yang beriman.

Ke-6,

Faktanya adalah, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia bukanlah sebuah kondisi by default (dari sononya ada) yang dibawa oleh seorang insan saat terlahir ke dunia sebagai jabang bayi. Rasulullah Saw. memperingatkan bahwa setiap bayi lahir ke dunia dalam keadaan yang suci. Orang tuanyalah yang menjadikan anaknya (berkarakter) yahudi, nasrani, ataupun majusi (kaum penyembah api).

Peringatan dari Rasulullah tersebut harus dipahami oleh setiap kaum muslimin, bahwa terwujudnya “anak-anak yang siap menjalani kehidupan yang mandiri dalam keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia sebagai muslim/muslimah” harus menjadi visi utama bagi suami-istri yang telah dikaruniai anak.

Ke-7,

Terkait dengan pernikahan, yaitu hadirnya istri (-istri) dan anak-anak, kembali ke poin pertama paragraf akhir, ALLAH pun menjadikan anak, istri, dan harta sebagai tema ujian bagi keimanan hamba-Nya. Maka, anak tidak saja dipandang sebagai karunia penyejuk mata dan hati. Namun, orang tua pun harus bersiap bakal mendapatkan ‘soal-soal ujian’ dari ALLAH Swt. lewat anak-anaknya.

Ke-8,

Kompilasi dari poin-poin yang telah saya jabarkan sejauh ini akan bermuara pada:

‘menjadi kewajiban utama bagi orang tua mendidik anak-anaknya’

atau, dalam kalimat alternatif,

‘mendidik anak adalah kewajiban utama bagi orang tua’.

Ungkapan ‘kewajiban utama bagi orang tua’ bermakna bahwa tugas mendidik anak tersebut mutlak menjadi kewajiban orang tua yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh ALLAH Swt. (hal ini saya sangat tekankan lagi di poin ke-9 berikut ini), sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya.

Ke-9,

Hadirnya berbagai elemen di dunia pendidikan mulai dari: guru formal, lembaga-lembaga pendidikan dan perangkatnya baik negeri maupun swasta, guru privat, lembaga bimbingan belajar, kurikulum nasional, dinas pendidikan tingkat provinsi maupun kota/kabupaten, berbagai direktorat jenderal, hingga kementerian pendidikan adalah bala bantuan yang dapat dimanfaatkan oleh orang tua dalam rangka menjalankan tugasnya mendidik anak. Namun kehadiran semua elemen itu tidak lantas serta-merta memindahtangankan atau mengalihkan tugas dan tanggung jawab orang tua mendidik anaknya. Karena pada akhirnya, hanya kepada orang tualah ALLAH akan memintai pertanggungjawaban tentang anak-anaknya.

Buang jauh-jauh pikiran, ketika orang tua sudah mencarikan sekolah yang (dirasa/dikira) terbaik untuk anaknya, langsung semuanya, sim salabim, 100% pasti akan beres dalam waktu singkat!

Pemikiran seperti ini umumnya menghinggapi para orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta mahal, terutama sekolah-sekolah swasta Islam, boarding school, maupun pesantren baik di dalam dan luar negeri. Terlebih lagi, sudahlah sekolahnya mahal, masih ditambah lagi dengan bimbingan belajar atau les privat yang juga berbiaya mahal. Seolah-olah uang banyak yang sudah dikeluarkan otomatis linier dengan garansi kesuksesan proses pendidikan anak, lalu orang tua bisa membereskan urusan lain sambil menunggu anaknya selesai diproses dan pasti sukses.

***

Stop! Sampai disini, jika belum benar-benar menyadari (ataupun sepakat) bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua, jangan melanjutkan membaca!

***

Setelah menyadari kewajibannya mendidik anak, maka langkah berikutnya orang tua harus memahami makna kata ‘proses belajar’ yang merupakan unsur pokok dalam pendidikan.

Para Orang Tua yang dirahmati ALLAH Swt…

(tumben, pake menyapa pembaca segala, heheheee…)

Ke-10,

Mendidik anak berarti mengupayakan segala hal untuk menyelenggarakan proses belajar (pembelajaran) bagi anak. Proses itu pasti mulai dilakukan secara mandiri oleh orang tua, terutama sejak anak lahir hingga ke masa-masa awal usia emas (0–4 tahun). Maka sangat tepat jika ada ungkapan: rumah tangga adalah sekolah pertama bagi anak, ibu adalah gurunya, dan ayah menjadi kepala sekolahnya. Proses belajar anak di rumah bersama orang tuanya berlangsung selama 247365 alias 24 jam sehari, 7 hari sepekan, dan 365 hari setahun.

Dengan semakin bertambahnya usia anak, maka semakin bertambah pula ragam maupun intensitas proses belajar yang harus dialaminya, sedangkan ilmu dan pengetahuan orang tua terbatas. Menyikapi hal ini, di satu sisi orang tua dituntut (juga) harus terus belajar menambah ilmu. Di sisi lain, orang tua membutuhkan peran serta pihak-pihak lain, yang di poin ke-9 disebut sebagai ‘elemen di dunia pendidikan’.

Namun, seperti yang sudah ditekankan di poin ke-8 dan ke-9, pelibatan elemen-elemen di dunia pendidikan itu bukanlah bentuk pelimpahan ataupun pemindahtanganan kewajiban mendidik anak dari orang tua. Tak ada satupun pihak yang bisa dan berhak menggantikan ataupun mengambil alih kewajiban tersebut. Semata-mata hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak yang ilmunya belum/tidak dikuasai oleh orang tua.

Ke-11,

Lalu, pertanyaan berikutnya adalah mata pelajaran apa yang menjadi bagian orang tua yang harus diajarkan di keluarga/rumah tangga???

Di titik ini kebanyakan orang tua kalap, panik, melupakan hal-hal penting, lalu terseret arus yang sedang tren sekejab di masyarakat. Masih ingat isu ‘aktifasi otak tengah’??? Atau ‘how to teach your baby to read’??? Atau mental aritmetika metode ini-itu??? Belum lagi, diperparah oleh maraknya acara-acara (yang diklaim) sebagai talent scouting di berbagai stasiun televisi yang mendorong semua orang bermimpi menjadi terkenal dan kaya secara singkat di dunia hiburan. Seolah tidak ada profesi yang lain selain sebagai penampil di televisi.

Karena toh nantinya berbagai ilmu akan dipelajari di lembaga pendidikan formal (kecuali bagi para penganut home schooling) maka orang tua tidak perlu gusar jika tidak bisa mengajari membaca, menulis, berhitung, menggambar, komputer, dan sebagainya.

Saya asumsikan, sekolah formal dimulai dari SD pada usia 7 tahun. Sedangkan PAUD, KB dan TK belum perlu disebut sebagai ‘sekolah’. Bagi saya ketiganya adalah kegiatan-kegiatan (berguna) pengisi waktu masa kanak-kanak yang dilembagakan secara formal.

Secara umum, mata pelajaran penting yang harus diajarkan orang tua kepada anaknya hingga siap bersekolah adalah:

how to behave in appropriate and acceptable manner,

atau bahasa gampangnya:

bagaimana berperilaku dalam tata cara yang pantas dan diterima.

Gengsi kan, jika anak kita umur 4 tahun masih pipis/pup di celana. Malu dong, jika anak kita umur 5 tahun masih menggunakan jurus tantrum sebagai cara berkomunikasi. Aib besar, jika anak kita yang belum lagi masuk SD sudah fasih meniru gaya bicara orang dewasa yang menjurus kepada porno, seks, gombal, dan bullying.

Secara khusus, sebagai muslim maka pelajaran penting yang harus diajarkan kepada anak (dalam metode dan intensitas yang pas menyesuaikan tahapan tumbuh-kembangnya) adalah:

Menanamkan sikap, “menjadi orang Islam itu berarti rela diatur oleh ALLAH Swt. dan meneladani akhlak Rasulullah Saw.”

(Cukup) satu (saja) pelajaran yang menjadi prioritas hingga anak memasuki usia SD. Jika sebelum masuk SD anak sudah bisa sholat, sudah kuat berpuasa Ramadhan, sudah mampu melafalkan bermacam-macam doa, bahkan hafal beberapa juz Quran, bagi saya itu semua ‘sekedar’ bonus saja. Tentu saja, bonus yang sangat besar dan dahsyat. Namun tetap bukan menjadi tujuan utama pendidikan anak pada usia tersebut.

Lho, kenapa???

Lihatlah fakta, bukankah hari-hari belakangan ini Kementerian Agama yang notabene diisi oleh orang-orang yang paham, bahkan lulusan perguruan tinggi Islam, malah menjadi salah satu yang diobrak-abrik KPK??!

Anak TK yang sudah bisa sholat lengkap dengan bacaannya itu bagus. Akan tetapi, bukankah akan jauh lebih bagus lagi jika ia sudah bisa merasakan bahwa ia ‘punya’ ALLAH yang mengawasinya. Para terpidana kasus korupsi yang muslim itu rajin-rajin sholat, lho. Tapi apakah saat mereka korupsi mereka merasakan kehadiran ALLAH??? Jangan-jangan sebelum korupsi mereka baca basmalah, lalu setelah dapat baca hamdalah, trus uangnya dipakai ibadah. Na’udzubillah!

Ke-12,

Belajar adalah proses untuk mentransformasi kondisi mental seseorang:

  • dari yang belum tahu, menjadi tahu (kognitif);
  • dari yang belum bisa, menjadi bisa (psikomotorik);

dan pada akhirnya harus menuntunnya kepada

  • dari yang belum beradab, menjadi beradab (afektif)

Perhatikan kata pertama setelah ‘Belajar adalah…’, yaitu ‘proses’.

Ya, belajar itu proses. Bukan saja proses sejak bel tanda masuk kelas berbunyi hingga bel tanda pulang berbunyi. Akan tetapi sebuah proses panjang dan berkesinambungan mulai dari dalam buaian (lahir) hingga ke liang lahat (mati).

Ke-13,

Oleh karena orang yang belajar berasal dari mereka ‘yang belum tahu’ dan/atau ‘yang belum bisa’, maka proses belajar sangat dekat kepada ‘salah’, ‘kesalahan’, ‘kegagalan’, dan segala kata/frasa yang berkaitan maupun semakna dengannya.

Ingatlah ketika kita dulu masih kecil. Bukankah kita juga berangkat dari kondisi ketidaktahuan, ketidakpahaman, dan ketidakbisaan??? Lalu dalam perjalanan belajar, bukankah kita juga tidak bisa langsung tahu, langsung paham, atau langsung bisa???

Dalam proses belajar dibutuhkan para orang tua (dan guru) yang sangat sabar menghadapi kesalahan. Sabar yang bermakna menahan diri dari segala respon negatif saat menghadapi kesalahan. Sabar bukan berarti membiarkan saja yang salah atau kesalahan terjadi tanpa ditindaklanjuti maupun tanpa upaya perbaikan.

So, kesalahan/masalah memang ‘biasa’. Yang penting:

  • Bagaimana menghindari/mengantisipasinya?;
  • Jika terlanjur terjadi, bagaimana memperbaiki dan menyelesaikannya?
  • Setelah terjadi, bagaimana mengambil hikmah dari kejadian tersebut lalu bagaimana langkah pencegahan agar tidak berulang?

Ke-14,

Selain membutuhkan stok kesabaran yang ekstra besar dalam proses mendidik anak, hal berikutnya yang sangat dibutuhkan dari para orang tua (dan guru) adalah sikap yang arif dalam menghadapi permasalahan.

Masalah…

Inilah yang menjadi titik awal penulisan artikel ini.

Aa Gym pernah bilang, sebetulnya yang membuat keadaan menjadi parah bukanlah masalahnya itu sendiri. Akan tetapi cara menyikapi permasalahan itulah yang membuatnya menjadi makin sulit. Fakta ini pulalah yang kerap saya temui dalam perjalanan pengabdian menjadi pengajar.

Orang dewasa saja bisa membuat kesalahan, apalagi anak-anak. Orang dewasa saja bisa terlibat masalah, apalagi anak-anak. Namun, saat menghadapi masalah, tidak sedikit orang-orang yang seharusnya mampu bersikap dewasa malah bersikap kekanak-kanakan.

Saat anak-anak terlibat masalah, dibutuhkan orang-orang dewasa yang akan menjadi teladan bagi mereka, “begini lho cara yang terbaik dalam menyelesaikan masalah.”

***

Stop! Sampai disini, mari kita introspeksi diri. Bagaimana cara kita menghadapi permasalahan, selama ini??? Sudahkah kita lebih dewasa atau justru lebih kekanak-kanakan ketimbang anak-anak kita sendiri???

***

Mari kita luruskan cara pandang kita terhadap permasalahan…

Ke-15

Sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa ALLAH:

  • menginginkan hal yang baik;
  • menuntun kita menjadi baik;
  • menegur saat kita belum baik.

Bagaimana cara ALLAH menegur kita???

  • Berupa kumpulan firman-Nya di dalam Quran;
  • Lewat sabda Rasulullah di dalam kitab hadits shahih;
  • Melalui ucapan dan tulisan kalimat-kalimat bijak dari para orang tua, guru, mubaligh, ulama, ilmuwan/ahli/pakar, praktisi/orang yang berpengalaman, motivator, dan sebagainya;
  • Kejadian-kejadian di sekitar kita yang dialami oleh orang lain.

Jika hal-hal tersebut masih diabaikan, jurus berikutnya dari ALLAH adalah: membuat kita sendiri yang mengalami masalah. Maka, masalah harus dipahami sebagai bentuk teguran dari ALLAH, bahwa ada hal yang belum baik dari diri kita yang harus segera diperbaiki.

Ke-16,

Saya sudah pernah menghadapi murid dari berbagai jenjang pendidikan, kondisi ekonomi, maupun latar belakang strata pendidikan orang tuanya. Mulai dari kelas I SD hingga mahasiswa perguruan tinggi teknik tahun pertama. Dari semua murid yang pernah ditemui, saya belajar bahwa:

  • Jika rumah tangga diibaratkan negara, maka anak adalah duta besarnya;
  • Seperti apa citra sebuah rumah tangga terbentuk, ditentukan oleh bagaimana sang anak tampil di tengah-tengah masyarakat;
  • Figur sang anak akan dipandang mewakili figur rumah tangga orang tuanya;
  • Jika anak bermasalah di sekolah, maka (pasti dan selalu terbukti) sesungguhnya masalah itu berakar/berawal dari rumahnya dan orang tuanya!

Perhatikanlah dengan sangat seksama kondisi fisik dan mental anak Anda saat meninggalkan rumah, berangkat menuju sekolahnya. Jangan lagi membiarkan anak Anda berangkat begitu saja tanpa mengetahui kondisinya, luar-dalam, hingga ke ujung kuku dan helai-helai rambutnya. Ingat, mereka adalah representasi rumah tangga Anda!

Ke-17,

Sebelum melanjutkan membaca, periksalah diri Anda, orang tua seperti apakah Anda???

  • Jika Anda adalah orang tua yang merasa telah melakukan segala dan semua hal yang benar (tidak ada kesalahan apapun yang pernah Anda lakukan) dalam mendidik, membesarkan, dan mengasuh anak;
  • Jika Anda adalah orang tua yang merasa bahwa anak Anda adalah anak yang baik, yang selalu berbuat baik; yang selalu baik-baik saja, dan selalu yang terbaik;

Tapi, nyatanya belum lama ini Anda mendapatkan laporan tentang masalah anak Anda di sekolah atau bahkan Anda diminta menemui wali kelas, guru BK, atau bagian Kesiswaan dalam rangka menyelesaikan masalah anak Anda, mohon baca kembali poin ke-16 dengan kepala dingin, hati yang tenang, dan pikiran yang terbuka.

Bagaimana respon kita saat mendengar atau mendapatkan laporan bahwa anak kita bermasalah/terlibat masalah???

  • Sebagai muslim, tentu saja berucap, “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun”, pahamilah bahwa ini bukan ucapan spesial untuk orang meninggal saja;
  • Kendalikan emosi, tahan ucapan dan tangan Anda, jangan merespon dalam bentuk apapun yang nantinya akan disesali dan mengharuskan Anda meminta maaf untuk perbuatan yang Anda lakukan akibat ledakan emosi;
  • Netralkan pikiran, jangan memihak, anak Anda belum tentu benar dan pihak lain yang terkait dengan masalah anak Anda belum tentu salah;
  • Sadarilah, bahwa dalam kondisi bermasalah seperti ini pun adalah kesempatan emas untuk mendidik anak Anda tentang cara bijak menghadapi permasalahan lalu menyelesaikannya dengan jalan yang terbaik;
  • Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, upayakan menggali dari pihak otoritas di sekolah (wali kelas, guru BK, kesiswaan) atau saksi mata kejadian, atau teman-teman di sekolahnya yang sekiranya jujur dan netral dalam melihat permasalahan, Anda tidak harus bertanya kepada ‘lawan’ atau pihak yang kontra dengan anak kita di saat kondisi masih ‘panas’ karena bisa jadi malah memicu konflik lebih dalam;
  • Segeralah menghubungi dan menjadwalkan pertemuan dengan pihak sekolah untuk mendiskusikan penyelesaian masalah tersebut, akan terasa lebih indah jika Anda juga mampu membangun komunikasi yang positif dengan orang tua dari anak yang ‘kontra’ dengan anak Anda, lalu bersepakat melakukan upaya perbaikan.

Itu semua harus Anda lakukan sendiri sebagai orang tua. Minimal, sang ibu yang pro aktif di saat-saat awal untuk menindaklanjuti permasalahan, lalu mendiskusikannya dengan sang ayah. Dalam kondisi atau masalah tertentu, ayah harus terlibat. Ayah tidak bisa berdalih dengan alibi sibuk bekerja. Ada gilirannya, dibutuhkan peran figur pria yang gagah, tangguh, logis, arif, sportif, dan bersahabat dalam menyelesaikan masalah anak.

Jangan pernah mewakilkan urusan anak Anda kepada orang lain, terutama dalam keadaan ada masalah. Apalagi menyuruh babysitter atau pengemudi kendaraan antar-jemput anak Anda yang membereskan masalah anak Anda. Ingat poin ke-8 dan ke-9 di atas!

Lalu, bagaimana sikap kita sebagai orang tua saat mendapati anak kita memang bermasalah???

  • Mengakui dan menerima bahwa memang ada masalah; sikap penerimaan akan membuka segenap pikiran dan kalbu Anda terhadap nasehat, saran, maupun ajakan perbaikan;
  • Memaklumi masalah dan kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan akhir kiamat bagi masa depan anak;
  • Berpikir solutif dan menempatkan diri sebagai subyek pelaku aktif, “Saya harus bagaimana?”, “Apa yang bisa saya upayakan?”, “Jika kondisi sudah terlanjur begini, apa yang harus saya perbaiki?”
  • Berubah/hijrah, masalah muncul karena ada yang salah (atau minimal ada hal yang kurang tepat/pantas), jika ada yang salah maka harus diperbaiki supaya benar, mayoritas masalah anak muncul karena perilaku, kebiasaan, maupun cara pengasuhan yang salah yang diterapkan orang tua di rumah.

Pengalaman pula yang memberikan hikmah kepada saya, bahwa para orang tua/wali murid yang sikapnya berlawanan dari yang saya jabarkan di poin ke-17 ini menjadi penyebab utama yang membuat masalah anak menjadi makin rumit, runyam, lalu sulit diselesaikan bahkan tak terselesaikan hingga anaknya lulus/pindah sekolah.

***

Hidup itu pasti menghadapi masalah. Jika tak ingin dapat masalah, maka jangan hidup. Jika memilih untuk tidak hidup, apa Anda pikir masalah bisa langsung selesai??? Justru, indahnya menjalani hidup adalah menemukan seninya menyelesaikan masalah dengan cara yang terbaik.

Saya teringat ucapan seorang sahabat, yang awalnya saya kenal sebagai orang tua/wali murid di SMP lalu belakangan beliau yang ‘membawa’ saya berkiprah di sebuah SD swasta Islam di kawasan Kenjeran Surabaya,

“Hidup tanpa masalah adalah sebuah masalah.”

Wallahu’alam…

Just a thought…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: