h1

Silaturahmi versus Shilaturrahim

4 Juli 2014

Beberapa waktu yang lalu perhatian saya tertuju pada posting di laman Facebook yang muncul di dinding berita (newsfeed) saya. Ternyata posting tersebut merupakan aktifitas salah seorang teman yang ditandai (tag) oleh laman (page) yang dilanggannya. Sebenarnya kemunculan aktifitas teman semacam ini saya keluhkan karena membuat tampilan dinding pribadi kita menjadi penuh dengan informasi yang tidak diperlukan. Namun sayangnya fitur untuk menyembunyikan aktifitas teman tidak lagi tersedia.

Isi posting tersebut intinya adalah mempersoalkan penggunaan kata ‘silaturahmi’ (Bahasa Indonesia) yang mereka (penulis posting) klaim salah. Kesalahan tersebut muncul karena makna kata ‘silaturahmi’ berbeda dari kata yang sesungguhnya yaitu kata ‘shilaturrahim’ (Bahasa Arab). Mereka membandingkan secara apple to apple kedua kata tersebut dengan menggunakan kaidah yang sama, yaitu kaidah tata bahasa yang berlaku dalam Bahasa Arab.

***

Dalam dunia Linguistik dan Epistemologi, saya ini total awam. Sama sekali bukan pakar bahasa. Ilmu saya tentang kebahasaan hanyalah terbatas pada apa yang saya pelajari sejak TK hingga lulus sarjana serta praktik-praktik lazim di dunia kerja formal. Paling banter, karena hendak menulis artikel ini, saya menambah wawasan dengan membuka sumber bacaan yang paling mudah diakses dan paling sederhana untuk dipahami, yaitu: Wikipedia.

Sama sekali saya tidak meragukan kualitas keilmuan dari penulis posting tersebut. Namun bagi saya ilmu itu ibarat alat. Ketepatan penggunaan alat bergantung sepenuhnya kepada penggunanya. Jika tidak digunakan dengan tepat, maka pasti akan muncul akibat yang (minimal terasa) kurang nyaman.

Ibaratnya, Anda ingin memotong-motong sayur (sawi, kubis, seledri, dan daun bawang) sebagai pelengkap resep masakan mi goreng. Akan tetapi Anda menggunakan gergaji untuk memotongnya, alih-alih pisau sayur. Ya memang bisa kepotong, sih. Tapi kan di mata dan di hati kok terlihat dan terasa kurang pas, ya.

‘Kurang pas’, itulah yang saya rasakan pasca membaca posting tentang kata ‘silaturahmi’ dan kata ‘shilaturrahim’ tersebut dan mendorong saya menulis catatan kecil ini.

***

Monggo dibaca sendiri uraian singkat tentang Bahasa Indonesia di Wikipedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia

Bagian yang ingin saya garisbawahi adalah:

“…Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah bahwa bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain. …” (Wikipedia)

Di bawah kalimat yang saya kutip tersebut terdapat tabel yang saya tulis ulang sebagai berikut:

Asal bahasa (Jumlah kata)

Belanda (3.280)

Inggris (1.610)

Arab (1.495)

Sanskerta (677)

Tionghoa (290)

Portugis (131)

Tamil (83)

Parsi (63)

Hindi (7)

Dengan bantuan KBBI Offline 1.5.1 saya menemukan makna kata silaturahmi adalah sebagai berikut:

si·la·tu·rah·mi n tali persahabatan (persaudaraan): malam –; tali –;

ber·si·la·tu·rah·mi v mengikat tali persahabatan (persaudaraan): mereka – ke rumah sanak saudaranya

Dengan tercantumnya kata ‘silaturahmi’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti secara resmi kata tersebut telah diserap dan telah menjadi bagian dari Bahasa Indonesia.

Nah, tentu mudah sekali dipahami, bahwa kata-kata yang berasal dari bahasa lain yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia pasti akan mengalami ‘penyesuaian’. Proses penyesuaian yang dimaksud berakibat dimungkinkan terjadinya perubahan ejaan, cara pengucapan (akibat dialek), maupun makna.

Contoh perubahan ejaan:

January (Bahasa Inggris) menjadi Januari

Huruf ‘y’ diubah menjadi ‘i’ karena dalam Bahasa Indonesia bunyi vokal ‘i’ (seperti dalam kata ‘bibir’) diwakili oleh huruf/karakter ‘i’ bukan ‘y’.

October (Bahasa Inggris) menjadi Oktober

Huruf ‘c’ diubah menjadi ‘k’ karena dalam Bahasa Indonesia bunyi konsonan ‘k’ (seperti dalam kata ‘kodok’) diwakili oleh huruf/karakter ‘k’ bukan ‘c’.

Export (Bahasa Inggris) menjadi ekspor

Huruf ‘x’ diubah menjadi ‘ks’ dan huruf akhir ‘t’ dihilangkan.

***

Selingan sejenak…

Contoh berikut yang saya protes (keras), anyway

February menjadi Pebruari

November menjadi Nopember (yang ini sangat spesial karena bulan kelahiran sekaligus menjadi asal nama depan saya dan juga nama institut teknologi yang meluluskan saya menjadi sarjana)

Mengapa huruf ‘f’ dan ‘v’ harus diubah menjadi ‘p’???

Dalam contoh kata ‘export’ yang diubah menjadi ‘ekspor’, bukankah mengubah ‘x’ menjadi ‘ks’ justru menjadi pemborosan dalam penggunaan karakter (menuliskan 2 karakter yang seharusnya bisa diwakilkan oleh 1 karakter dengan bunyi yang sama)???

Bukankah Bahasa Indonesia menggunakan 26 karakter abjad alfabet yang semuanya diakui (maka semestinya dipakai) yang di antaranya adalah huruf ‘f’, ‘v’, dan ‘x’???

***

Temuan saya tentang makna kata ‘sillaturrahim’:

Silaturahmi (shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari washala-yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau kekerabatan itu. Di dalam al-Quran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna rahim atau kerabat.

Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim (silaturahmi) artinya adalah hubungan kekerabatan.”

http://rahmah-el.blogspot.com/2012/04/pengertian-silaturrahmi.html

Catatan: penulis artikel yang saya kutip di atas tidak mempertentangkan kata ‘silaturahmi’ dengan kata ‘shilaturrahim’

Sedangkan penulis posting yang ‘mempermasalahkan’ kata ‘silaturahim’ menggunakan argumen sebagai berikut:

“… Menurut para ulama, silaturahmi berasal dari dua suku kata, yaitu silah dan rahmi. Silah artinya menyambungkan, sedangkan rahmi artinya rasa nyeri luar biasa yg dirasakan ibu-ibu sebelum melahirkan anaknya. jadi tidak heran kalau banyak orang saling menyakiti karena selama ini pun salah menggunakan istilah silaturahmi. …“

https://www.facebook.com/permalink.php?id=132844986756012&story_fbid=461725600511808’

***

Dari penelusuran di atas, disimpulkan:

  • Kata ‘silaturahmi’ yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia berakar dari kata ‘shilaturrahim’ dalam Bahasa Arab.
  • Secara garis besar, kedua kata tersebut memiliki makna yang sama.
  • Perubahan ejaan/penulisan dari ‘shilaturrahim’ menjadi ‘silaturahmi’ harus dipahami sebagai bentuk penyesuaian dengan dialek (cara pengucapan) yang lazim diucapkan oleh orang-orang Indonesia.
  • Saat bertemu dengan kata ‘silaturahmi’ maka kita harus memandang dan memaknainya sebagai kata dalam Bahasa Indonesia, bukan lagi kata dalam Bahasa Arab. Sehingga upaya pemaknaan menggunakan kaidah tata Bahasa Arab terhadap kata ‘silaturahim’ menyebabkan terjadinya kekacauan pemaknaan yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Wallahu’alam

Just a thought

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: