h1

Jangan Bilang “Jangan” Secara Berlebihan

10 Agustus 2012

Dalam dua pekan belakangan ini, saya menemui dua orang kyai senior plus seorang rekan guru SD di pesantren saya yang menggugat apa yang mereka sebut sebagai ‘model parenting ala barat’. Kyai yang satu menuliskan di dalam website pribadinya dan juga dimuat di buletin pesantren, sedangkan kyai yang satu lagi menuliskannya di kolom rutin dalam majalah yang dikelola oleh divisi yang satu ormas dengan pesantren kami. Sementara itu penolakan yang dari rekan guru itu terjadi saat bincang-bincang ba’da sholat Jumat minggu lalu.

Saya tegaskan dulu posisi saya, bahwa saya memang bukan lulusan program studi psikologi. Profesi sebagai guru yang kemudian mengharuskan saya untuk belajar psikologi secara praktis dalam rangka menghadapi problem yang muncul di kelas. Interaksi saya yang intens dengan beberapa orang rekan psikolog, yang bertugas sebagai guru Konseling, lalu berujung pada keterlibatan saya ‘bantu-bantu’ di biro psikologi milik pesantren kami, makin membuat saya tercelup dalam dunia psikologi.

Saya coba merunut ke belakang mengapa kemudian isu yang santer tentang pola pengasuhan anak di rumah (maupun siswa di kelas) kok menjadi menyempit hanya pada jargon “jangan bilang jangan” yang menjadi gugatan mereka yang tak setuju.

Orang-orang yang tak setuju dengan jargon ini, sebagaimana pernah juga saya temukan artikel yang ditulis oleh orang lain, hampir bisa dipastikan tidak memiliki latar belakang pendidikan bidang psikologi. Namun, tak boleh pula mereka diremehkan begitu saja mengingat mereka sendiri juga berpengalaman menangani problematika pengasuhan anak bahkan ada yang aktif dalam dakwah parenting secara Islami.

Salah satu argumen yang paling sering mereka kemukakan adalah bahwa di dalam Quran dan hadits banyak sekali digunakan kata ‘jangan’ dan rujukan dalam Quran yang sering dijadikan referensi dalam dunia parenting adalah Surat Luqman ayat 13 – 19.

13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (ALLAH) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan AKU (ALLAH) sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-KU, kemudian hanya kepada-KUlah kembalimu, maka KUberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Sengaja, dari tujuh ayat hanya saya ambil tiga ayat yang mengandung kata ‘jangan’.

Saya berprinsip, untuk segala hal di luar konsep tauhid – aqidah, maka kita tidak boleh berada di posisi yang ekstrim kanan maupun ekstrim kiri. Akan tetapi, carilah posisi moderat di antara keduanya, lalu bergeserlah ke kanan sedikit. Karena dalam urusan mendidik anak ini, sama sekali tak pernah bilang ‘jangan’ itu tidak baik, tapi selalu bilang ‘jangan’ juga tidak baik.

Ambillah hikmah dari contoh yang saya ungkap tentang Surat Luqman tersebut. Sebenarnya dari hitung-hitungan kasaran saja bisa dilihat nisbahnya. Empat surat tidak mengandung kata ‘jangan’ sedangkan tiga surat yang mengandung kata ‘jangan’ alias 4 : 3, meski ayat ke-18 menyebut dua kali kata ‘jangan’, kita anggap satu ayat sajalah agar tak terjebak ke hitung-hitungan angka.

Perhatikan lagi secara seksama. Di dalam ayat 13 dan 18, larangan tegas menggunakan kata ‘jangan’ diikuti dengan: alasan yang gamblang mengapa hal tersebut dilarang. Sedangkan pada ayat 15, kata ‘jangan’ diikuti dengan: jika hal itu dilarang, maka bagaimana sikap atau apa perbuatan yang seharusnya dilakukan.

Saya juga mencoba merunut ke belakang bagaimana isu ini bermula dan berkembang.

Ternyata isu ini berhulu pada mazhab psikologi yang dicetuskan oleh Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi pada tahun 1998. Kedua pakar itu prihatin pada perkembangan dunia psikologi yang hanya berkutat pada isu: “how things go wrong”, bagaimana segala sesuatu menjadi salah. Sehingga penanganan kasus-kasus psikologis hanya bersifat seperti pemadam kebakaran, bekerja setelah ada api dan berfokus pada menghilangkan api. Meski demikian, keduanya sepakat tidak bermaksud untuk mengubah sama sekali mainstream tersebut, hanya saja ingin melengkapi.

Pemikiran utama dalam konsep Psikologi Positif adalah: “to find and nurture genius and talent” dan “to make normal life more fulfilling“, yang kemudian menuntun kepada cara pandang: “how things go right”.

Pemikiran yang berbasis pada konsep psikologi positif ini akan menuntun kepada bagaimana orang tua dan guru, atau orang-orang dewasa secara umum, memandang anak, murid, dan anak-anak kecil di sekitarnya. Da’i kondang KH Abdullah Gymnastiar secara cantik mengemukakan seperti ini: jika pikiran diibaratkan teko dan mulut adalah moncong tekonya, maka moncong hanya akan mengeluarkan apa yang di dalam teko. Jika teko berisi air teh, maka keluarnya juga teh. Jika isinya comberan, maka keluarnya juga comberan.

Benang merah dari kontroversi ini sebetulnya adalah seputar bagaimana cara yang tepat dalam mendidik dan mengasuh anak. Proses mendidik dan mengasuh akan sangat banyak melibatkan proses komunikasi. Mari kita renungkan cara-cara komunikasi yang biasa dilakukan oleh orang dewasa sebagai respon terhadap perkataan dan perbuatan anak-anak yang dianggap tidak berkenan.

Ketika anak atau murid melakukan aktifitas yang menurut kita (orang dewasa) menimbulkan kegaduhan, bagaimana reaksi kita?

“Jangan berisik!”

“Jangan ribut!”

Itu hanyalah contoh kalimat yang paling gampang keluar dari mulut kita. Tapi bagaimana jika seperti ini:

“Jangan ribut! Awas ya, kalau ribut nanti Mama adukan ke Papa biar dimarahi!”

“Jangan ribut! Dasar kamu itu anak bandel kerjaannya bikin ribut melulu!”

“Jangan ribut! Semuanya harus diam. Bapak/ibu mau menjelaskan. Kalau ribut, silahkan keluar!”

Sembari mengucapkan kalimat itu, umumnya orang tua atau guru menampilkan penampakan fisik yang menyeramkan pula. Suara menggelegar ke seantero ruangan, jantung berdetak keras, keringat mengucur, otot-otot menegang, dan pandangan mata yang merah nanar bak singa yang siap menerkam mangsanya. Belum lagi, penggaris kayu atau rotan yang dipukul-pukulkan ke meja atau papan tulis untuk menambah kesan suasana mencekam.

Dari contoh di atas, sebenarnya respon-respon ‘jangan’ yang seperti itulah yang dikritik keras oleh para penganut mazhab Psikologi Positif. Respon-respon negatif yang tidak memberikan alasan yang logis mengapa suatu perbuatan tidak boleh dilakukan, kalimat ‘jangan’ yang memberikan ancaman kekerasan secara fisik, maupun larangan-larangan yang tidak disertai solusi/saran konkret tentang hal apa yang seharusnya dilakukan. Sayangnya, sedikit sekali orang tua dan guru yang rela mengakui betapa tidak efisien dan tidak beradabnya cara-cara tersebut dalam mengarahkan perilaku anak atau murid ke arah yang baik.

Lalu bagaimana? Sebentar, kita tinjau sekilas tentang bagaimana cara otak bekerja. Pentingkah? Tentu saja penting!

Manusia adalah makhluk yang dikaruniai oleh ALLAH potensi akal dan kalbu. Dengan akal manusia berpikir, dengan kalbu manusia merasa. Proses berpikir dan merasa ini terkait erat dengan sistem kerja syaraf yang kerjanya dibantu oleh hormon-hormon dan otak. Sayangnya penelitian-penelitian di bidang Neuroscience ini banyak dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan yang memiliki mainstream berpikir sekuler-atheis. Sedangkan umat Islam hanyalah sebagai penonton yang hanya bisa berkomentar, mengkritik, bertepuk tangan, atau bahkan hanya menirukan dan membebek dari mereka. Padahal pengetahuan tentang hal tersebut sangat membantu dalam memahami hakekat kemanusiaan secara utuh.

Sebelum melanjutkan membahas cara kerja otak, terlebih dahulu buanglah jauh-jauh sikap antipati dan apatis terhadap konsep ‘evolusi’. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, beginilah titik tolak berpikir para ilmuwan sekuler-atheis dalam mengembangkan teori dan penelitian tentang manusia. Ya salah kita sendiri, kaum muslimin yang berbasis tauhid tidak berperan aktif dalam menyumbang pemikiran di dunia ilmu pengetahuan.

Otak manusia terdiri dari beberapa bagian utama (tiap bagian masih tersusun atas organ-organ yang lebih kompleks, pembahasan disini saya sederhanakan secara garis besar saja):

  1. Otak bawah/dasar (otak reptil), atau batang otak, disebut demikian karena juga terdapat pada hewan reptilia berdarah dingin, bagian ini bertanggung jawab terhadap organ-organ tubuh yang bekerja secara refleks, spontan, tak sadar, dan terkait dengan kelangsungan kehidupan dasar, misalnya: bernafas, detak jantung, dan naluri dasar.
  2. Otak tengah*/perantara (otak mamalia), atau sistem limbik yang melingkari batang otak, disebut demikian karena bagian ini berkembang pada hewan mamalia berdarah panas, bagian ini bertanggung jawab terhadap dinamika emosi dan hasrat seksual pada manusia. Sistem limbik ini juga terkait dengan bagian otak yang berfungsi sebagai penyimpanan memori. Peristiwa-peristiwa yang melibatkan emosi umumnya tersimpan dengan sangat baik di dalam memori. Bagian otak ini juga mendorong mamalia dan manusia untuk menemukan segala hal yang dapat memberikan kenyamanan. *) harap dibedakan dari jargon ‘aktifasi otak tengah’ yang belakangan ini juga sedang booming.
  3. Otak atas, atau disebut juga neokorteks yang terdiri dari cerebrum dua sisi dan korteks yang menutupi seluruhnya seperti selimut. Korteks yang tebalnya hanya 3 mm ini memiliki 6 lapisan yang memiliki fungsi berbeda yang bertanggung jawab untuk memproses sinyal-sinyal masukan dari seluruh panca indra dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (menyusun strategi, perencanaan jangka panjang, menghasilkan seni, peradaban, kebudayaan, ide, khayalan, dan sebagainya).

Selain ketiga bagian utama itu, masih terdapat satu bagian penting lagi yaitu:

Otak siaga/alarm, yang terdiri dari hippocampus dan amigdala, bagian kecil yang bertumpu pada batang otak dekat alas cincin limbik ini bertanggung jawab dalam upaya ‘penyelamatan diri’ ketika manusia berada dalam kondisi yang (atau yang dipersepsikan) ‘mengancam’. Amigdala seperti saklar on-off yang dapat mem-bypass kerja neokorteks yang sedang melakukan pemikiran mendalam.

Keseluruhan bagian otak manusia tersebut bekerja secara bertahap mulai dari yang paling dasar, yaitu otak reptil. Jika ‘kebutuhan’ pada otak ini terpenuhi, maka bagian yang lebih tinggi akan bekerja yaitu otak mamalia. Selanjutnya jika ‘kebutuhan’ pada otak mamalia terpenuhi, maka akan berlanjut ke otak atas.

Sekali lagi saya ingatkan, lupakan sejenak bahwa fakta-fakta ini berangkat dari teori evolusi yang kental berbau sekularistik-atheistik, tapi terimalah kenyataan bahwa seperti ini proses yang diatur dan ditetapkan oleh ALLAH.

Maka secara ringkas dapat dipetik hikmah, dalam melakukan proses pendidikan dan pengasuhan:

  1. Berikan rasa aman yang membebaskan diri anak/murid dari ancaman fisik (kebutuhan otak reptil).
  2. Berikan rasa nyaman yang membuat anak/murid tertarik secara emosional dalam suatu kondisi atau aktifitas sekaligus membuka gerbang penyimpanan memorinya dan menenangkan otak siaganya (kebutuhan otak mamalia).
  3. Setelah kondisi aman dan nyaman terpenuhi maka proses pembelajaran dapat dilakukan dengan membawa anak/murid ke dalam kondisi yang mengaktifkan neokorteksnya.

Kata-kata ‘proses pendidikan dan pengasuhan’ tentu harus dipahami secara lebih luas dan umum. Bukan hanya terkait dengan sekolah apalagi sekolah yang full-day. Tapi lebih dari itu, meski hanya sekedar menghadapi anak-anak yang berlarian, bercanda, dan tertawa keras di masjid saat ibadah.

Jadi, bisa dibayangkan sendiri apa yang ada dalam otak sang anak/murid jika orang tua/guru melakukan komunikasi seperti yang saya contohkan di atas, yang ini lho:

“Jangan ribut! Awas ya, kalau ribut nanti Mama adukan ke Papa biar dimarahi!”

“Jangan ribut! Dasar kamu itu anak bandel kerjaannya bikin ribut melulu!”

“Jangan ribut! Semuanya harus diam. Bapak/ibu mau menjelaskan. Kalau ribut, silahkan keluar!”

Sudah pasti, tak mungkin neokorteks si anak yang bekerja. Justru pada keadaan tersebut, yang bersiaga dalam otak anak adalah bagian otak reptil dan otak siaga. Orang tua dan guru tiba-tiba menjelma menjadi monster yang menakutkan yang harus dihindari demi menyelamatkan kelangsungan kehidupan.

Apakah ini yang menjadi tujuan kita saat berucap dan berekspresi seperti itu???

Dari sedikit penelusuran di atas, dapat disimpulkan sebenarnya tak ada satupun pernyataan yang tegas menyebutkan pengharaman penggunaan kata ‘jangan’ dalam proses pengasuhan dan pembelajaran. Karena itu pada posisi ini saya anggap para konselor yang mempromosikan “jangan bilang jangan” berada pada satu ekstrim pinggir. Sedangkan orang-orang yang kontra dengan memberikan respon penolakan terhadap “jangan bilang jangan” hanyalah sekedar gegabah dalam mengambil sikap. Dan, semoga saja penolakan itu tidak didasari atas sikap ‘anti barat’ secara membabi-buta.

Karena itu, kuncinya ada pada: strategi komunikasi yang kita terapkan dalam rangka mendidik dan mengasuh anak. Strategi komunikasi terkait dengan pilihan kata-kata yang kita susun dalam kalimat yang akan disampaikan ke anak. Setelah kalimat-kalimat sukses disusun maka berikutnya adalah cara penyampaiannya yang terkait dengan ekspresi wajah, gerak tubuh yang mendukung, dan intensitas suara yang diatur menyesuaikan kondisi dan hasil yang diharapkan.

Mengapa komunikasi harus positif? Karena komunikasi positif disukai oleh otak mamalia. Sehingga dihasilkan emosi yang positif pula. Dengan terbukanya otak mamalia sembari membuka penyimpanan memori dan menenangkan otak siaga, maka neokorteks akan bekerja untuk memulai proses pembelajaran dan pemikiran.

Saya sendiri harus berjuang keras untuk mengubah kebiasaan dalam berbicara. Dari semula yang biasa secara mudah kita langsung melarang, beralih menjadi ungkapan-ungkapan yang baik, berdampak positif bagi emosi anak, dan merangsang kerja neokorteksnya.

Saya berikan contoh:

Contoh 1

Kelas gaduh adalah suasana yang paling umum terjadi dan menjadi makanan sehari-hari bagi guru. Maka yang saya lakukan adalah:

  1. berdiri di depan kelas, bisa di tengah atau di salah satu sisi papan tulis, sembari memegang buku, spidol, ataupun mendekapkan kedua tangan di dada
  2. pasang ekspresi wajah yang cool dan serius, satu-persatu pandangi wajah siswa dan berusaha menatap matanya
  3. menerapkan prinsip ‘theory of attraction’, dalam pikiran saya membuat sebuah pesan singkat, “harap tenang jika ingin pelajaran dimulai” , lalu bayangkan seolah-olah saya punya koneksi lewat sinyal bluetooth atau wifi dengan otak mereka untuk mengirim pesan itu
  4. memang harus sabar karena butuh waktu, makin tinggi usia siswa, makin cepat mereka merespon sikap diam saya tersebut
  5. biasanya, beberapa siswa yang sudah memiliki kematangan sikap dan punya motivasi belajar mulai resah, “Pak, sekarang ngapain?” “Ayo, Pak. Pelajarannya dimulai.”
  6. nah, ini respon positif, saya tinggal bilang, “Saya menunggu semuanya siap untuk belajar.”
  7. tanpa disuruh dan tanpa harus saya yang menarik urat leher untuk berteriak menyuruh mereka tenang, anak-anak sendiri yang menyuruh teman-temannya yang masih gaduh untuk tenang, “Hoooiii! Diam po’o, Rek! Pak Novri mau mulai pelajaran!”
  8. masih dengan ekspresi yang cool dan serius, saya bilang, “Terima kasih buat siswa yang sudah siap menerima pelajaran dan berusaha menyuruh temannya tenang. Jadi, saya hanya akan memulai pelajaran jika kalian sudah siap dan suasana tenang. Saya tidak akan bersaing suara dengan kalian yang berjumlah 15 – 30 orang karena saya pasti kalah. Sekiranya memang tidak tertarik belajar Matematika/Fisika, ya monggo boleh kok beraktifitas yang lain di luar kelas.”
  9. tujuan tercapai: para siswa tenang, saya tidak keluar banyak energi, pesan moral tersampaikan, dan saya masih tampil bermartabat di depan siswa, heheheee 🙂

Contoh 2

Biasanya saya memberikan PR berupa soal-soal yang harus dikerjakan dengan lengkap dan runut antara 15 – 20 soal. Siswa harus menyalin seluruh soalnya ke dalam buku tugas, lalu mengerjakannya satu persatu. Saya berikan waktu minimal 2 minggu untuk mengerjakan PR dan menetapkan hari, tanggal, jam, dan lokasi pengumpulan tugas.

Ini yang saya katakan kepada mereka: “Soal PR sudah saya tempelkan di papan display. Silahkan mencatatnya dengan teliti di buku tugas. Setelah itu kerjakan dengan lengkap dan runut. Jika ada kesulitan, silahkan menghubungi saya kapan saja dan lewat media apa saja. Disana juga sudah tercantum deadline penyerahan tugas. Saya harap semuanya mengumpulkan tugas sesuai deadline, tidak lebih lambat, boleh lebih awal.”

Mungkin saja ada siswa yang protes atau berusaha kritis, “Pak, kenapa sih harus pakai deadline?”, “Pak, deadline-nya kepagian. Saya kan sering terlambat datang.”, “Pak, kalau terlambat gimana?”

Begini respon saya: “Insya ALLAH, saya sudah memberikan jangka waktu pengerjaan tugas yang cukup. 15 soal dikerjakan dalam 2 minggu, kamu bisa mencicil 1 soal per hari. Jika sekiranya kalian berhalangan menepati deadline itu, misalnya karena ikut mobil antar-jemput yang sering telat atau mogok, ya diupayakan mengumpulkan di hari sebelumnya. Bisa, kan? Saya ingin kalian tidak hanya belajar Matematika/Fisika. Lebih dari itu, saya ingin kalian belajar disiplin, tertib, dan patuh pada aturan. Sepintar apapun dirimu, kalau semaunya sendiri, orang lain tidak butuh dirimu yang seperti itu. Coba dulu berusaha memenuhi semua ketentuan yang saya buat itu. Kalau pun nanti ada halangan, kita bicarakan nanti. Untuk yang terlambat, simpan saja dulu buku tugasnya. Kalau memang masih ingin dapat nilai tugas, segera temui saya, kita bicarakan konsekuensi yang harus kamu lakukan akibat keterlambatanmu itu.”

Dari kedua contoh tersebut, terlihat jelas saya memang menghindari penggunaan kata ‘jangan’. Bagi saya, sungguh menantang menyampaikan pesan tanpa kata ‘jangan’. Meski bukan berarti saya mengharamkan kata ‘jangan’ sama sekali, saya hanya berusaha semaksimal mungkin mencari ungkapan lain yang lebih positif. Nanti pada saatnya, jika memang dibutuhkan dalam kondisi yang sangat urgen dan saat berhadapan dengan anak yang memang belum memiliki kemampuan berpikir yang cukup baik, maka saya akan gunakan kata ‘jangan’.

Kesimpulannya bukanlah haram atau tidak haram bilang ‘jangan’, akan tetapi gunakanlah strategi komunikasi yang positif. Fokuskan pada: APA hal baik yang seharusnya dilakukan dan MENGAPA hal baik itu penting untuk dilakukan. Jika harus melarang, tegaskan: APA perbuatan yang dilarang dan MENGAPA hal tersebut dilarang. Lalu kembalikan kepada fokus yang tadi: APA hal baik yang seharusnya dilakukan dan MENGAPA hal baik itu penting untuk dilakukan.

Wallahu’alam…

Just a thougt

Untuk pembahasan lebih detil, silahkan mencari referensi-referensi yang terkait, sekaligus untuk menemukan kemungkinan adanya kesalahan pengutipan yang saya lakukan.

Referensi:

Wikipedia

Daniel Goleman, Emotional Intelligence

Howstuffworks.com

The Learning Revolution, Gordon Dryden & Jeannette Voss

The Connections Between Emotions And Learning, Candy Lawson

Update Kamis, 30 Agustus 2012

Hari ini di jam pelajaran ketiga, 08.35 – 09.15 WIB. saya bertugas memberikan pelajaran Kimia di kelas VII/D. Ada hal khusus dari kelas yang satu ini, bukan saja karena seluruh siswanya laki-laki (sekolah kami menerapkan separasi gender, santri putra dan santri putri ditempatkan di kelas dan gedung yang terpisah). Akan tetapi karena kelas ini adalah ‘kelas titipan’ dari sebuah pesantren tahfidz Al Quran (penghafal Al Quran) yang baru saja dibuka tahun ini tak jauh jari lokasi pesantren kami.

Masuk ke kelas, karena masih dalam suasana lebaran dan saya belum halal bi halal dengan para siswa, mereka saya salami satu persatu di tempat duduknya. Ada santri yang mencium tangan saya, ada pula yang tidak (bukan hal penting, mengingat perbuatan ini juga bukan sunnah Rasul). Usai itu, saya duduk di meja guru sembari sedikit memberikan pengantar. Di antaranya, karena buku pelajaran Kimia belum dibagikan, maka kesempatan pelajaran hari ini akan saya isi dengan pelajaran Fisika.

Kedatangan saya di kelas itu ternyata belum diikuti dengan sikap siap belajar dari para siswa. Ada siswa yang masih di luar, ada yang berbaring membungkukkan badannya menyandar ke meja, dan ada pula yang masih mengobrol. Di antara aktifitas ‘sibuk sendiri’ itu, ada dua orang siswa yang memegang Quran dan membacanya dengan suara cukup keras, jika tak ingin disebut ‘atraktif’.

Coba pikirkan apa yang berkecamuk di dalam pikiran saya saat itu.

Lha wong sekarang ini pelajaran Kimia (yang diisi Fisika) ini kok malah ada santri yang membaca Quran keras-keras. Apa dikiranya saya ini iblis yang harus di-ruqyah lewat bacaan Quran atau dianggap pelajaran IPA tidak penting? Ataukah kehadiran saya di kelas ini dianggap tidak penting? Dalam kondisi seperti itu, saya berusaha menahan diri. Kan konyol jika sampai saya melakukan tindakan yang terkesan melarang membaca Quran.

Saya kembali menerapkan jurus yang biasa saya pakai, seperti contoh 1 di atas. Benar saja, beberapa siswa tolah-toleh kebingungan melihat saya yang terdiam lumayan lama. Lalu, salah satu siswa memberanikan diri menyapa saya, “Ustadz, jadi pelajaran?”

Naaah, waktunya merespon, “Saya tunggu sampai semuanya siap ikut pelajaran.”

Hanya butuh beberapa detik untuk membuat semua siswa diam dan menoleh ke saya. Beberapa siswa menampakkan ekspresi takut atau khawatir saya akan marah karena kondisi tersebut. Ah, tapi kan saya memang tidak berencana marah-marah. Problem yang masih terlalu kecil untuk disikapi dengan marah.

Inilah wejangan saya kepada mereka,

“Segala sesuatu itu akan terasa indah jika dilakukan pada waktu dan tempat yang pas. Sholat dhuhur akan menjadi indah jika dilakukan di masjid pada waktu dhuhur. Tentu saja sholat dhuhur akan menjadi sangat tidak indah jika dilakukan di waktu subuh.”

Beberapa siswa mulai tersenyum mendengar pernyataan saya. Lalu saya lanjutkan,

“Nah, demikian juga dengan membaca Quran. Tentu akan menjadi sangat tidak indah jika dilakukan di saat pelajaran Kimia sekarang ini. Jadi, ayo sekarang siapkan buku tulisnya, atau kertas sekedarnya untuk mencatat. Tadi sudah saya sampaikan, sementara ini karena belum dapat bukunya jam Kimia saya isi Fisika dulu.” dan seterusnya pelajaran dilanjutkan…

12 komentar

  1. Tulisan bagus….sayang sangat bersandar pada penulis atau peneliti non-muslim (atheis)…saya sendiri kurang menyukai spt itu. Sebetulnya banyak pemikir, peneliti Muslim yg menulis hal-hal spt itu dengan sandaran Illahiyah atau AL Qur’an. hanya saja kelemahan di media atau promosi membuat pskiologi ISLAM tidak terdengar. Judul yang menohok kata “jangan” yg membuat banyak komentar….padahal kalau disimak isinya ingin menjelaskan bahwa mendidik itu harus dibangun melalui komunikasi yang baik. Al Qur’an sudah mengajarkan ini sebelum konsep itu. “Sampaikanlah dengan ihsan”…ini konsep komunikasi Islam baik dalam mendidik maupun berbicara. Jadi memang Qur’an tetap menggunakan kata “Jangan”, tapi konteks komunikasi tetap ihsan. WaAllahu’alam.


    • mohon bantuannya utk melengkapi tulisan ini dgn rujukan kpd hasil-hasil penelitian para ilmuwan muslim terkini… matur nuwun, barakallah…


  2. […] tujuan tercapai: para siswa tenang, saya tidak keluar banyak energi, pesan moral tersampaikan, dan saya masih tampil bermartabat di depan siswa.  (sumber) […]


  3. Tulisan bagusss.. Saya izin share ya, Pak.. Terima kasih 🙂


  4. Bagus sekali. Subhanallah, pendidik seperti Anda agaknya langka.


  5. bagus sekali,semoga tulisan diatas bermanfaat bagi penulis dan pembaca.amiin
    ditunggu pak tulisan selanjutnya..:)


  6. Bagus pak guru.ini sy sharing di grupBB ibu2.. Sebenarnya sy jg ga trll setuju utk teori ‘jgn bilang jgn’ krn pd hal2 ttt ada yg hrs diluruskan dg ketegasan. Setuju sekali,jk stlh kata jangan,hrs diikuti dg alasan yg rasional. Walaupun agak sulit bagi ibu2 yg anaknya msh pra TK. Krn problem nya ga segampang anak yg sudah ‘mudeng’ diajak bicara pjg lebar. Yap2 hrs sering2 belajar.. Semangat pak!!


    • jangankan cuma bilang ‘jangan’, marah pun hrs dilakukan jika memang diperlukan. saya pernah menghadapi seorang balita yg meludahi saya yg saya yakin dia hanya bermaksud bercanda. saya tatap matanya dan dgn nada bicara yg tegas saya bilang, “Maaf, mbak. Tidak boleh meludah seperti itu. ALLAH menciptakan ludah tdk utk meludahi orang lain. Kamu mau diludahi orang lain?” yg tentu saja dia masih cengengesan bahkan tertawa-tawa seolah-olah ngece. lama-lama dia salah tingkah sendiri dan untungnya ada orang tuanya yg segera meraih dan melarangnya. andaikan dia masih tetap begitu, waduh semoga saja stok sabar saya masih cukup. tapi saya tetap pd pendirian saya utk tdk mentolerir perilakunya dan cukup saya tunjukkan lewat ekspresi ketidaksukaan di wajah saya dan bersikap menghindarinya. jadi marahnya tdk perlu sampai mengeluarkan kata-kata kasar apalagi tindakan fisik.

      menurut teman-teman psikolog dan konselor, memang kuncinya di strategi komunikasi yg hrs disesuaikan dgn tahapan perkembangan mental anak. nah, bagian ini saya juga masih belajar.

      terima kasih, semoga bermanfaat


  7. Salam hormat pak Guru, tulisannya menarik sekali… bolehkah saya ijin copy paste sebagian dari tulisan diatas ?


    • alhamdulillah jika bisa bermanfaat… waduh, kalo di-share apa sdh pantas, ya??? saya yg gak pedhe… 🙂

      semoga kita bisa berbagi ilmu yg bermanfaat…


      • Sangat pantas sekali mas 🙂 saya menghargai tulisannya dan nantinya akan saya cantumkan sumber dari blog ini.

        Saya udah baca beberapa tulisan mas Novrian dan saya pikir inilah sosok guru yang sebenarnya 🙂


      • amiin… terima kasih… 🙂



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: