h1

Efek Rumah Kaca, Bukan Karena Gedung-Gedung Menggunakan Kaca

1 Agustus 2012

Sangat penting untuk memahami suatu istilah tidak hanya dari menerjemahkan kata demi kata saja. Sebagai contoh, ya istilah ‘rumah kaca’ ini. Sangat jamak bagi para pembicara ‘pemula’ yang belum cukup menelusuri referensi ilmiah yang kemudian dengan terlalu ceroboh (atau menggampangkan, utak-atik gathuk) menjelaskan bahwa ‘efek rumah kaca’ terjadi akibat banyaknya bangunan-bangunan besar yang materialnya banyak menggunakan bahan kaca.

Mari kita bandingkan frasa ‘rumah kaca’ dalam bahasa Indonesia ini dengan bahasa yang lain. Yang paling populer tentunya adalah bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar komunikasi internasional.

Dalam bahasa Inggris istilah ini disebut sebagai ‘greenhouse’, yang diterjemahkan menjadi ‘rumah kaca’. Lalu ada pula istilah ‘greenhouse effect’ yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘efek rumah kaca’. Coba periksa di kamus, istilah ‘greenhouse’ ternyata memiliki padanan kata ‘glasshouse’ yang mungkin inilah terjemahan sesungguhnya dari ‘rumah kaca’.

Istilah ‘greenhouse’ atau ‘rumah kaca’ sendiri adalah istilah yang sangat akrab di dunia ilmu-ilmu hayat (Bioscience) yang bermakna: a building in which plants are grown (wikipedia), atau bangunan tempat menumbuhkan tanam-tanaman. Rumah kaca umumnya memang menggunakan bahan-bahan transparan (di antaranya yang paling umum adalah: kaca) sebagai dinding dan atapnya. Penggunaan bahan-bahan transparan tentu sangat logis mengingat tumbuhan membutuhkan sinar matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Ukuran rumah kaca bervariasi mulai dari sekedar sebesar ruangan kecil hingga ke sebuah struktur bangunan yang sangat megah. Di dalam rumah kaca inilah dibangun suatu lingkungan (biosfer) buatan yang dikondisikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanaman-tanaman di dalamnya.

Lalu bagaimana ceritanya istilah ‘rumah kaca’ dalam dunia Biosains bergeser menjadi ‘efek rumah kaca’ yang menjadi isu besar dalam dunia lingkungan hidup?

Bayangkan, atau mungkin cobalah lakukan, diri kita berada di dalam ruang yang dinding dan atapnya terbuat dari kaca yang tertutup rapat, bagaimana rasanya? Secara naluriah kita akan menjawab: “panas” “sumuk” “ongkep” dan berbagai istilah lainnya yang bermakna sama yaitu: gerah. Rasa gerah ini muncul karena suhu di dalam ruang kaca itu tinggi.

Lalu apa penyebab tingginya suhu di dalam ruang kaca itu?

Energi yang berasal panas matahari masuk menembus ke dalam kaca. Dalam ‘upayanya’ menembus kaca, sinar matahari kehilangan sebagian energinya karena diserap kaca. Sinar matahari yang tersisa melanjutkan perjalanan dengan berinteraksi dengan segala obyek yang ada di dalam ruang kaca. Obyek-obyek yang terkena sinar matahari juga akan menyerap sebagian energi dari sinar matahari tersebut.

Nah, masih ada sebagian kecil sinar matahari yang dipantulkan kembali ke arah dinding dan atap kaca. Semestinya sinar yang terpantul ini menembus ke luar kaca dan merambat bebas ke angkasa. Akan tetapi karena energinya sudah terserap akibat interaksi di sepanjang perjalanan tadi, sinar-sinar itu tidak cukup kuat untuk menembus kaca, akibatnya ia terperangkap di dalam ruang kaca. Sinar-sinar yang terperangkap inilah yang berkontribusi menaikkan suhu di dalam ruang kaca karena umumnya mereka berada pada spektrum frekuensi inframerah.

Dalam konteks global, bumi inilah yang menjadi rumah atau ruang. Pertanyaan berikutnya, apa/siapa yang menjadi kaca? Secara alamiah, segala macam partikel yang ada di atmosfer itulah ‘kacanya’.

Energi dari sinar matahari yang masuk ke Bumi:

25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer

25% diserap awan

45% diserap permukaan bumi

5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi

Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas karbon dioksida (CO2) dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, ‘efek rumah kaca’ diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.

Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO), dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan chlorofluorocarbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca. (wikipedia)

Jadi jelas sekali bahwa yang dimaksud dengan ‘rumah kaca’ secara global adalah bumi sebagai ‘rumah’ dan partikel-partikel yang ada di atmosfer sebagai ‘kaca’. ‘Efek rumah kaca’ yang dimaksud adalah naiknya suhu bumi akibat terperangkapnya radiasi inframerah (sisa-sisa energi matahari yang berinteraksi dengan segala obyek yang di bumi) oleh akumulasi partikel-partikel di atmosfer yang dijuluki sebagai ‘gas rumah kaca’ (CO2, SO2, NO, NO2, CH4, dan CFC).

Pertanyaan berikutnya, dari mana asalnya gas-gas rumah kaca tersebut?

Secara alamiah, hampir semua gas-gas itu memang hadir sebagai bagian siklus alamiah. CO2 berasal dari sisa proses kimiawi pada makhluk hidup dalam rangka proses mengubah makanan menjadi energi untuk menjalankan aktifitas hidupnya. NO dan NO2 berkumpul di lapisan troposfer yang memegang peranan penting dalam proses pembentukan lapisan ozon. CH4 dihasilkan oleh proses-proses pembusukan jasad organik yang telah mati.

Jika segala sesuatu yang terjadi di alam ini berjalan dengan keseimbangan maka segala sesuatunya pasti akan beres.

Namun kehadiran manusia sesungguhnya sangat berpotensi menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan alam. Sebuah pernyataan yang bernada sarkastik menyatakan, bumi ini akan tetap berada dalam kondisi keseimbangan alamiah meski tanpa kehadiran manusia. Aktifitas-aktifitas manusia menyebabkan naiknya konsentrasi gas-gas rumah kaca yang terakumulasi di atmosfer dalam jumlah besar.

Di antaranya:

Meningkatnya populasi manusia menyebabkan meningkatnya kadar gas CO2 di alam. Sebenarnya secara alamiah, CO2  dibutuhkan oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Namun, dampak dari ledakan populasi manusia adalah pembukaan hutan-hutan alam untuk diubah menjadi kawasan pemukiman, pertanian tanaman pangan, dan industri. Ketidakseimbangan terjadi akibat jumlah tumbuhan lebih sedikit daripada jumlah CO2 yang dilepaskan ke atmosfer.

Itu baru dari faktor manusia aja.

Gas CO2, NO, dan NO2 ternyata juga merupakan gas-gas residu (buangan) dari mesin-mesin yang berbahan bakar fosil alias minyak bumi. Dengan semakin banyaknya pabrik dan kendaraan yang digerakkan oleh mesin BBM, makin membumbung tinggi pulalah kadar gas-gas tersebut di atmosfer. Lebih parah lagi, mesin-mesin BBM itu tidak hanya menghasilkan gas-gas rumah kaca. Namun mereka juga menyumbang gas-gas lain yang menjadi polutan bagi kehidupan makhluk hidup. Sebut saja karbon monoksida (CO) yang bersifat toksik, oksida sulfur yang berpotensi menyebabkan hujan asam, dan partikel-partikel kotoran yang mengganggu sistem pernafasan.

Populasi manusia yang makin padat juga bertanggung jawab atas bertambahnya gas CH4 yang dilepas ke atmosfer. CH4 berasal dari pembusukan jasad manusia maupun sampah-sampah organik sisa-sisa aktifitas manusia (misalnya sampah dapur dan sampah pasar). Termasuk pula akibat proses pembusukan tinja dan air seni manusia. Jadi logikanya, makin banyak manusia maka makin banyak yang buang kotoran maka makin banyak pula gas CH4 yang dihasilkan.

Belum lagi, dengan makin meningkatnya populasi manusia, maka kebutuhan akan bahan makanan juga pasti makin meningkat. Kebutuhan akan protein hewani (daging, susu, dan telur) yang melonjak mendorong dibukanya industri-industri peternakan. Nah, hewan-hewan ternak itu kan juga seperti manusia yang secara alamiah harus buang kotoran (dan mati). Mereka juga berkontribusi dalam menyumbang CH4 di angkasa.

Hanya CFC yang merupakan gas rumah kaca sintetis alias buatan manusia. CFC digunakan sebagai gas pendingin pada kulkas dan air conditioner (AC, penyejuk ruangan), yang lazim disebut dalam istilah komersil sebagai ‘freon’. CFC juga digunakan sebagai gas pendorong pada alat-alat semprot seperti parfum dan cat semprot (note: tidak termasuk cat yang disemprotkan menggunakan kompresor udara). Pada fenomena ‘efek rumah kaca’, CFC tidak berperan dalam memantulkan radiasi inframerah kembali ke bumi. Tapi CFC yang lepas ke atmosfer akibat penggunaan alat-alat semprot dan kebocoran dalam pengoperasian alat-alat pendingin itulah yang bertanggung jawab pada rusaknya lapisan ozon.

Lapisan ozon sendiri bertanggung jawab dalam menyaring radiasi utraviolet (UV), yang menjadi salah satu anggota spektrum radiasi sinar matahari. UV dalam kadar yang tepat dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Manusia dan hewan juga membutuhkan UV dalam kadar sedikit untuk mengubah pro-vitamin D di kulit menjadi vitamin D.

Rusaknya lapisan ozon menyebabkan kadar UV yang lolos ke bumi jadi meningkat. Tentunya hal ini berbahaya bagi kehidupan makhluk-makhluk di dalamnya. Dampak langsung bagi alam adalah matinya plankton dan jasad renik yang berperan sebagai produsen di dalam ekosistem perairan yang nantinya pasti akan mengganggu rantai makanan disana. Sedangkan bagi manusia, radiasi UV yang berlebihan bukan menghasilkan vitamin D tapi justru memicu kanker kulit.

Berikutnya, bagaimana dengan isu pemanasan global (global warming)?

Dengan makin meningkatnya akumulasi gas-gas rumah kaca di atmosfer, makin sulit bagi radiasi inframerah untuk lepas ke luar angkasa. Maka makin menumpuk pulalah radiasi inframerah yang ‘berputar-balik’ terperangkap di bumi. Radiasi inframerah ini menyebabkan kenaikan suhu, seperti yang telah dibahas di atas.

Lalu apa dampak dari kenaikan suhu bumi?

Pertama, yang paling jelas adalah mencairnya cadangan air tawar di bumi (yang konon total hanya 1%) berupa bongkahan-bongkahan es di kutub utara dan kutub selatan geografis bumi. Mencairnya es tersebut menyebabkan kenaikan tinggi permukaan air laut, yang tentunya akan mengancam kelangsungan kehidupan makhluk-makhluk di darat. Telah banyak dijumpai daerah-daerah perairan yang dulunya adalah daratan.

Kedua, terganggunya siklus musim dan pola cuaca. Kita kerap merasakan musim kemarau yang panjang, musim hujan yang lebih awal dan pendek, tiupan angin yang kencang, dan lain-lain yang itu semua menyimpang dari pola-pola yang dikenal sejak zaman nenek moyang kita. Kerap kali di suatu kawasan mengalami kekeringan parah. Namun di kawasan lain terjadi hujan badai yang menenggelamkan kehidupan disana. Selain mengancam jiwa manusia, bencana-bencana akibat terganggunya siklus musim dan pola cuaca juga mengacaukan jadwal pertanian, perternakan, dan perikanan. Dus, pada akhirnya mengancam ketahanan pangan global.

Ketiga, punahnya spesies-spesies makhluk hidup tertentu yang peka terhadap kenaikan suhu.

Keempat, berpotensi memunculkan jenis-jenis penyakit baru pada makhluk hidup.

Dan mungkin masih banyak lagi ancaman-ancaman lainnya.

Dari sedikit uraian di atas, jika kita bicara tentang upaya untuk menurunkan atau mencegah pemanasan global, maka ada 2 problem besar yang harus menjadi mainstream berpikir, yaitu:

bagaimana mereduksi secara massif pelepasan gas-gas rumah kaca ke atmosfer agar tidak bertambah parah

bagaimana ‘menetralisir’ gas-gas rumah kaca yang sudah terlanjur terakumulasi di atmosfer agar terjadi perbaikan kualitas lingkungan hidup

Lalu bisa dimunculkan beberapa wacana sebagai berikut:

  1. memperbaiki dan menanam kembali (reboisasi) kawasan-kawasan hutan konservasi yang berperan untuk menyerap CO2 sekaligus menyediakan oksigen (O2) dalam jumlah besar, di samping sebagai suaka pelestarian tumbuhan dan hewan
  2. mengendalikan bahkan mengurangi populasi manusia secara bermartabat yang nantinya akan menimbulkan efek berantai: berkurangnya pembukaan hutan untuk industri dan perumahan, berkurangnya konsumsi protein nabati, berkurangnya populasi hewan-hewan ternak, sehingga mendorong berkurangnya CO2 dan CH4 yang dilepaskan ke atmosfer
  3. secara bertahap dan signifikan mengurangi penggunaan mesin-mesin berbahan bakar fosil baik disektor industri maupun sektor transportasi yang diharapkan kelak kita bisa meninggalkannya sama sekali dan beralih ke mesin-mesin yang digerakkan oleh energi yang ramah lingkungan, misalnya mobil dan motor listrik, sehingga diharapkan berkurangnya pelepasan CO2, NO, dan NO2 ke atmosfer
  4. melarang penggunaan CFC dan menggantikannya dengan gas pendorong lain yang ramah lingkungan

dan masih banyak lagi ikhtiar yang bisa dilakukan dalam rangka memperbaiki kualitas lingkungan dan kehidupan di bumi ini.

Disarikan dari berbagai sumber, mohon koreksi jika ada salah, mohon tambahan jika ada kekurangan.

Note: rasanya, mengurangi gedung-gedung yang menggunakan bahan kaca tidak termasuk sebagai langkah untuk mengatasi efek rumah kaca, heheheee…

Wallahu’alam…

Just a thought

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: