h1

Foto Berjilbab, Mengapa Masih Jadi Masalah

19 Mei 2010

Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tingkat SD yang digelar 4 – 6 Mei 2010 lalu masih menyisakan kegalauan di hati saya, padahal hasilnya belum lagi diumumkan.

Saya tegaskan, bahwa saya bukanlah tipe guru yang mementingkan nilai angka dari murid-murid saya. Persetan jika mereka semua dapat nol, asalkan beraqidah lurus dan berakhlak baik, itu sudah lebih dari cukup buat saya. Sebaliknya, persetan dengan nilai 9 – 10, jika mereka tidak mampu menampilkan diri sebagai siswa muslim/muslimah yang baik, maka inilah kegagalan sejati sebuah lembaga pendidikan islam (guru, sekolah, dan orang tuanya yang salah)!

Judul di atas sudah menggambarkan kegalauan saya, masalah: FOTO BERJILBAB bagi siswi muslimah…

Tidak lama setelah bergabung dengan Lembaga Pendidikan Islam di kawasan Kenjeran ini, suatu hari tanpa sengaja saya menemukan kartu-kartu peserta UASBN lawas. Iseng, saya perhatikan satu-persatu. Saya mendapati foto-foto siswi tidak mengenakan jilbab. Saya menemukan kartu milik keempat siswi SPiLuqkim Angkatan III (2007) yang akan lulus tahun ini.

Meski terheran-heran, saya masih berusaha berpikir positif: toh sudah tiga tahun yang lalu, mestinya sekarang sudah lebih baik (foto siswi sudah berjilbab).

Lupa kapan persisnya, saya pernah membicarakan masalah ini kepada Kepala Sekolah. Seingat saya, saat itu hadir pula Wakasek Bidang Kurikulum dan Wakasek Bidang Kesiswaan. Hasil pembicaraan kala itu adalah, akan ditanyakan kepada pihak UPTD Kecamatan Bulak (yang selama ini sukses meng-hegemoni kebijakan sekolah-sekolah yang berada di bawah wilayahnya), apakah boleh siswi berfoto dengan tetap berjilbab.

Harapan baik saya muncul agar tahun 2010 ini sekolah dapat melangkah maju meski ‘hanya’ sekedar menyempurnakan hijab bagi siswi kelas VI yang notabene sudah akil baligh (sesuai pengakuan siswi sendiri ketika saya tanyakan di suatu kesempatan).

Pikiran positif saya terbukti salah dan harapan baik saya meleset sama sekali!!!

Pagi, lima hari menjelang pelaksanaan UASBN (29/4), saat duduk-duduk sambil menyeruput secangkir teh panas di ruang administrasi, saya menemukan seonggok kartu peserta UASBN 2010 di meja Wakasek Bidang Kesiswaan. Kombinasi rasa penasaran, pikiran positif, dan harapan baik di hati ini dengan seketika hancur berkeping-keping ketika mendapati foto-foto siswi kelas VI tetap tanpa jilbab. Wakasek Bidang Kurikulum (yang notabene seorang muslimah) yang saya klarifikasi hanya bisa menjawab dengan wajah memelas, “Aturan dari UPTD seperti itu, Pak.”

Segera saya kontak beberapa siswi/alumni SPiLuqkim lewat pesan singkat (SMS) untuk menanyakan pengalaman mereka sewaktu SD dulu. Setidaknya, siswi/alumni SPiLuqkim yang juga alumni MI Muhammadiyah V (Masjid Jenderal Sudirman, depan RSUD Dr. Soetomo) dan SD Integral Luqman Al Hakim (Pondok Pesantren Hidayatullah, seinduk dengan SPiLuqkim) bersaksi bahwa untuk keperluan administrasi UASBN dan ijazah SD, mereka difoto dengan tetap mengenakan jilbab!!!

Analisis, mari kita tinjau dari beberapa aspek…

A. Tinjauan Syar’i

ALLAH Swt. berfirman:

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nuur [24]: 31)

Masih ada lagi:

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33]: 59)

Sepanjang pengetahuan saya (mohon dikoreksi jika salah), seluruh ulama dari berbagai mahzab dan ormas/parpol mulai dari: ahlussunah, salafiy, wahabi, jamaah tabligh, ihkwanul muslimin, syi’ah, NU, Muhammadiyah, Persis, Hidayatullah, LDII, PKS, HTI, MUI, dan sebagainya, tidak ada satupun yang berbeda pendapat tentang wajibnya jilbab/hijab atas seorang muslimah yang telah akil baligh. Kalaupun ada yang tidak mewajibkan, pastilah dari golongan liberal yang senantiasa istiqomah membuang-buang energi untuk mendekonstruksi islam semau perutnya sendiri. Perbedaan yang ada di kalangan ulama adalah pada batasan wilayah aurat. Sebagian berpendapat, wajah pun termasuk aurat yang harus ditutupi dengan cadar.

So, dari sudut pandang syar’i, jilbab adalah: FARDHU ‘AIN!!!

B. Tinjauan Ideologis dan Konstitusional Negara

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang (sayangnya) hingga detik ini masih menyandarkan landasan ideologisnya pada Pancasila dan landasan konstitusional pada UUD 1945 (yang telah diamandemen).

Sila pertama (aslinya) berbunyi:

Ketuhanan yang Maha Esa dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya.

Kemudian atas berbagai pertimbangan, tujuh kata terakhir dihilangkan hingga hanya tersisa,

Ketuhanan yang Maha Esa.

Meski dihilangkan, sesungguhnya bagi umat islam Indonesia, ketujuh kata tersebut tidaklah benar-benar hilang. Paling tidak, aspirasi ilahiyah yang disuarakan bapak-bapak pendiri bangsa ini masih eksis meski tidak secara tekstual.

Logika sederhananya, apa gunanya bersaksi bahwa tiada tuhan selain ALLAH dan Muhammad adalah utusan-Nya, jika tidak dibuktikan dengan menegakkan syariat islam??!

Pasal 29 ayat kedua dari UUD 1945 berbunyi:

Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Karena itu, tidak boleh ada satupun produk hukum di bawah Pancasila dan UUD 1945 yang menghalangi hak-hak konstitusional warga negara, yang dalam hal ini adalah hak kaum muslimah untuk mengenakan jilbab sebagai bagian dari ibadah sesuai tuntunan syariat islam, apalagi jika beralasan, kewajiban berfoto tanpa jilbab bagi siswi muslimah kelas VI SD untuk keperluan administrasi UASBN adalah instruksi/aturan dari UPTD Kecamatan Bulak!!!

Pertanyaannya: orang-orang UPTD Kecamatan Bulak tuh ada yang muslim – mengerti syariat islam dan konstitusi negara, gak sih????????????????????!!!!!!!!!!!!!!!! (Muntab mode: ON)

Negara ini memiliki lembaga Mahkamah Konstitusi (MK) yang berwenang membatalkan suatu produk hukum yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Saya yakin, jika mau kita bisa memperkarakan aturan/instruksi yang melanggar hak-hak konstitusional warga negara. Lagipula, UPTD kecamatan lain lho tidak (berani) melarang sekolah-sekolah islam memfoto siswinya dengan tetap mengenakan jilbab.

So, bagi seorang muslimah Indonesia, mengenakan jilbab adalah hak konstitusional yang dijamin kemerdekaanya oleh negara!!!

C. Tinjauan Teknis Aplikatif – Logis – Rasional

Apakah kegunaan dari sebuah foto diri yang menampilkan wajah seseorang???

Kegunaan utamanya adalah:

untuk keperluan identifikasi pemilik dari suatu dokumen yang resmi dan legal secara hukum, termasuk KTP, SIM, paspor, buku nikah, ataupun ijazah.

Dari sebuah foto milik seorang muslimah yang mengenakan jilbab, (asalkan tercetak dengan baik) kita pasti dapat melakukan identifikasi dengan meneliti segala properti wajah: bagaimana bentuk muka, mata, kelopak mata dan rambutnya, alis, bentuk dan orientasi arah hidung, jumlah dan dimensi lubang hidung, bibir, ukuran dahi, adakah tahi lalat (atau tanda kelahiran lain di wajah) serta lokasinya, dan sebagainya.

Lalu, apa urgensinya memerintahkan siswi muslimah membuka jilbabnya saat berfoto untuk keperluan pembuatan dokumen????????????????????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Isu ini sebenarnya adalah masalah usang. Dahulu kala zaman saya masih sekolah, instruksi tersebut dinyatakan dengan, “Foto harus kelihatan telinga!” What a stupid-idiot statement!!!

Jilbab memang menutupi rambut dan telinga, yang notabene adalah bagian dari aurat wanita.

Pertanyaannya: apakah suatu proses identifikasi seorang muslimah lewat foto dirinya yang mengenakan jilbab dengan melakukan observasi terhadap seluruh properti wajah, menjadi gagal hanya karena sang peneliti dokumen tidak bisa melihat telinga atau rambutnya yang tertutup jilbab?????????????????!!!!!!!!!!!!!!

Pakai OTAK dong, yang di kepala! Bukan yang di dengkul, di perut, atau di antara dengkul dan perut, karena itu bukan otak!!!

So, foto berjilbab sama sekali tidak akan menghalangi proses identifikasi pemilik suatu dokumen!!!

D. Tinjauan Sosiologis

Islam dan kaum muslimin sudah menjadi bagian integral dari perjalanan hidup bangsa dan negara Indonesia. Nilai-nilai syariat islam, sadar atau tidak, suka atau tidak, sudah banyak mewarnai kebudayaan dan karakter bangsa Indonesia. Di negara ini, wanita bercadar dan wanita dengan rok mini bisa sama-sama berjalan bebas leluasa di jalanan. Tentu perhentian akhirnya pasti beda, (insya ALLAH) yang satu ke surga sedangkan yang satu lagi, tahu sendirilah (tidak tega menyebutnya)…

Jilbab bukan pemandangan asing di seluruh wilayah negara ini. Meski harus diakui, masih ada diskriminasi terhadap wanita-wanita muslimah berjilbab dan bercadar. Tapi tindakan tersebut terjadi di tataran praktis yang bisa diperkarakan secara legal (hukum negara).

Berbeda dengan di belahan dunia lain, di luar dunia islam. Jilbab/cadar adalah barang asing. Mereka melihat wanita berjilbab/bercadar di jalan ibarat melihat sebuah teror bom berjalan. Karenanya wanita muslimah berjilbab/bercadar harus dicurigai dan ditelanjangi kalau perlu.

Bacalah berita-berita di media massa islam. Bagaimana kaum muslimah di kawasan barat, terutama Perancis, yang mengalami diskriminasi dan intimidasi karena berjilbab/bercadar. Ironisnya, tindakan tersebut adalah kebijakan sistematis legal konstitusional yang dijalankan oleh rezim pemerintah atas nama: mempertahankan identitas asli bangsa barat yang moderen, liberal, dan demokratis. (You can go to hell with your so called ‘true western identity’, Mister!)

So, kaum muslimah Indonesia harus merdeka untuk berjilbab!!!

Kesimpulannya, JILBAB ADALAH MASALAH FINAL!!!

Dengan mengacu kepada tinjauan-tinjauan yang saya paparkan sebelumnya, sulit bagi saya untuk mengerti, mengapa institusi sekolah islam berbasis masjid ini gagal memperjuangkan siswi muslimah kelas VI untuk difoto dengan tetap mengenakan jilbab.

Salah seorang guru senior pernah berkata kepada saya, “Ya kita kan masih butuh UPTD untuk memproses pengajuan tunjangan-tunjangan guru.”

Oooo, begitu ya… Ujung-ujungnya tetap saja, urusan duit (yang tidak bikin kaya)! Dalil-dalil syar’i dikalahkan oleh kepentingan pragmatis, naudzubillah min dzalik

Permasalahan di lembaga ini sangat luar biasa, sistematis, kronis, dan urgen untuk segera dibenahi. Akan tetapi, jika urusan jilbab yang final ini saja tidak beres, lalu apa gunanya bicara muluk-muluk tentang konsep pendidikan islam??? Apalagi bermimpi agar sekolah ini bisa bersaing dengan Luqman Al Hakim, Al Uswah, Al Muslim, Al Azhar, Al Hikmah, Al Falah, dan Al-Al yang lainnya…

Perlu saya ingatkan, bahwa nama lembaga pendidikan yang kita sandang ini sangatlah berat: ‘orang- orang yang bertaqwa’…

Apakah saya yang terlalu gila karena mempermasalahkan ini???

Wallahu’alam

Catatan:
Jika ada pimpinan atau rekan kerja saya yang tersinggung dengan isi artikel ini, ya sudahlah… Antara yang ‘haq’ dan yang ‘bathil’ sudah jelas, kok… Demi ALLAH, saya tidak punya kepentingan materiil di lembaga pendidikan ini. ALLAH Maha Kaya, rejeki-NYA bertebaran dimana-mana, dan BELIAU tidak akan berkurang kekayaannya hanya karena memberi makan seorang Novrian Eka Sandhi yang ‘kecil’ ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: