h1

Tugas Biologi Membuat 25 Halaman Slide PowerPoint???

17 Mei 2010

Senin (17/5), seperti biasanya saya berangkat tergesa-gesa. Selain karena kesiangan juga karena harus bertugas piket penyambutan pagi di gerbang sekolah. Hanya beberapa meter sebelum gerbang selatan, tiba-tiba seekor kucing berwarna kuning menyeberang dari arah kiri. Dengan jarak yang hanya beberapa jengkal sementara motor saya masih berkelajuan sekitar 30 – 40 km/jam yang mengandalkan rem teromol depan-belakang, tidak ayal lagi sang kucing malang itu pun terlindas sepeda motor yang saya kendarai. Saya yang terkejut, gugup, dan sebagai pecinta kucing tentunya merasa sangat syok, melihat sang kucing berlari ke arah seberang tanpa pernah mengetahui bagaimana nasibnya selanjutnya.

Tiba di sekolah pukul tujuh kurang sedikit, ternyata baru teringat kalau mulai hari ini hingga Rabu (19/5) adalah jadwal pelaksanaan Ujian Sekolah untuk siswa kelas VI SD. Sebagaimana pelaksaan UASBN yang lalu, mungkin sekolah inilah satu-satunya yang melarang guru-gurunya libur total sebagaimana sekolah negeri dan swasta lain dengan alasan aturan kepegawaian yang ditetapkan LPI. Dasar memang tidak terlalu banyak pekerjaan, biasanya para guru datang ‘agak siang’ dengan berpakaian kasual serta terkadang membawa serta anak kecilnya. Biasanya kami pulang setelah sholat dhuhur, atau bahkan lebih awal.

Terlanjur datang pagi, saya berinisiatif memindahkan delapan unit komputer baru yang masih terkemas di dalam kardus, sedikit demi sedikit dari lantai satu ke laboratorium lantai dua.

Di saat usung-usung itulah masuk sebuah pesan singkat dari siswi/sahabat saya, Tya (SPiLuqkim 06), yang sekarang bersekolah di SMAN 1x Surabaya mengabarkan, baru saja guru bidang studi Biologi memberikan tugas sebagai remedial kepada siswa yang belum lulus UTS Biologi berupa membuat slide PowerPoint minimal sebanyak 25 halaman.

Tya dan saya tentu terheran-heran dengan penugasan itu, meski ia sendiri terbebas dari kewajiban mengerjakannya.

Munculnya angka 25 lembar slide PowerPoint inilah yang mengusik kami berdua.

Tidak sekali ini saja, saya menemui kisah tentang penugasan-penugasan sekolah yang bisa dibilang asal perintah dan tak dapat dilacak kemana tujuan akhir yang hendak dicapainya dan (apalagi) manfaat bagi siswa yang mengerjakannya selain (hanya sekedar) mendapat nilai/kelulusan.

Contoh lain…

Intan, siswi les privat saya yang bersekolah di SMPN x mendapatkan tugas membuat piramida segitiga dari bahan (boleh memilih) mika atau logam.

Jika memilih bahan mika tipis, maka tentu tidak menjadi masalah.

Tetapi jika memilih logam, logam apa? Besi, baja, kuningan, atau aluminium? Dimana seorang siswi SMP bisa mendapatkan logam itu? Kapan ia punya kesempatan hunting bahan itu jika sekolahnya full-day dan masih ditambah seabrek les privat? Tahukah ia caranya memotong logam tersebut? Lalu, bagaimana pula cara ia merekatkan potongan-potongan logam itu menjadi sebuah piramida segitiga?

Ini yang terlalu ruwet pikiran saya ataukah gurunya Intan yang tidak melakukan analisis teknis yang memadai tentang kapabilitas dan kapasitas siswanya dalam mengerjakan tugas seperti itu???

Ketika saya coba mendalami penugasan tersebut, Intan tidak mampu menjelaskan dengan detil apa yang harus dikerjakannya. Dalam benak saya, jika sang siswa tidak dapat menjelaskan tugasnya, bagaimana ia dapat mengerjakannya? Jika tidak tahu bagaimana mengerjakannya, tidak mungkin ia tahu target/tujuan yang ingin dicapainya. Jika tidak tahu targetnya, mana mungkin ia tahu bagaimana ia dinilai. Jadi jangan coba membicarakan, apa manfaat yang akan ia peroleh dari tugas tersebut. Harap dicatat, Intan adalah tipe siswi cerdas dan kritis.

Sebagai seorang pendidik yang peduli pada pembangunan karakter siswa, saya benar-benar merasa resah dengan sistem pendidikan nasional di negeri ini.

Lihatlah struktur kurikulum yang hanya mengedepankan penguasaan materi teoritis. Aspek aplikasi dari setiap bab yang diajarkan sama sekali dikesampingkan. Terlebih lagi, jangan pernah berharap materi ajar tersebut mampu mengarahkan sikap dan kepribadian siswa apalagi menumbuhkan kreatifitas dan kemandirian. Siswa bahkan tidak paham, apa yang baru saja dipelajarinya dan apa relevansinya dengan kehidupan nyata, boro-boro mau ditanya apa manfaatnya. Hal ini masih diperparah dengan sistem penilaian yang miskin ranah dan menihilkan berbagai aspek kecerdasan dan potensi siswa.

Bertolak belakang dengan itu, tidak jarang pula guru memberikan tugas yang asal kelihatan sibuk dan seolah-olah aplikatif namun sesungguhnya jauh dari esensi materi ajar yang sedang dibahas itu sendiri.

Kembali ke masalah penugasan remedial Biologi membuat 25 lembar slide PowerPoint dan mari kita gunakan akal sehat.

Slide PowerPoint berkaitan erat dengan kegiatan presentasi atau pemaparan ide-ide maupun karya-karya ilmiah. Dalam sebuah presentasi, presenter yang memaparkan materi secara verbal/lisan harus berupaya keras agar ide-ide dan pemikiran tersampaikan kepada orang yang hadir terutama para penilai/penguji presentasinya. Sebagai upaya untuk memahamkan orang-orang yang menyimak suatu presentasi, dibutuhkan suatu media untuk membantu memperkuat kesan dari materi yang disampaikan. Salah satu media bantu tersebut adalah slide presentasi yang dibuat (umumnya) dengan piranti lunak Microsoft Office PowerPoint.

Namun meski dibantu oleh slide, dalam sebuah presentasi yang menjadi pusat perhatian haruslah tetap pada presenternya, bukan yang lain. Saya kerap menemui presentasi yang menjelma tidak lebih menjadi sebuah acara nonton slide bersama. Disitu sang presenter hanya berperan sebagai operator yang memainkan slide, bukan sebagai pihak aktif yang menjadi point of interest yang sedang berusaha mempengaruhi pemikiran para hadirin.

Karena hanya sebagai media bantu yang bertujuan untuk memperkuat kesan secara visual dari materi yang sedang dipresentasikan, slide presentasi harus dirancang dengan seksama secara efektif dan efisien sesuai dengan materi yang akan dipresentasikan.

Efektif bermakna ketika melihat slide itu para hadirin menjadi semakin paham dengan materi yang disajikan, bukan semakin ruwet apalagi boring.

Efisien bermakna dari segi jumlah slide diatur sedemikian rupa sehingga ‘cukup’ untuk mendukung presentasi, tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.

Jadi, jika dikisahkan Anda membuat 25 halaman slide presentasi Biologi (bahkan menurut Tya ada yang sudah membuat 40 halaman dan sang guru Biologi menuntut agar slide-nya kaya animasi) maka saya akan bertanya:

  1. Ini pelajaran Biologi ataukah pelajaran TIK (sub bab membuat slide presentasi dengan animasi)???
  2. Ide, materi pelajaran Biologi, karya ilmiah, ataukah eksperimen apa yang akan Anda presentasikan sehingga butuh slide sebanyak 25 – 40 halaman???
  3. Kalaupun slide karya Anda itu hendak digunakan, Anda hendak presentasi ataukah pamer keahlian membuat animasi???
  4. Para hadirin hendak diminta menyimak Anda presentasi ataukah nonton bareng slide karya Anda???

Jika sudah begini ini saya kok jadi su’udzon, para siswa itu sedang diperalat gurunya untuk membuat slide presentasi. Nantinya sang guru meng-copy slide itu lalu menyalahgunakan hasil kerja keras siswanya untuk kepentingan pribadi, untuk memenuhi portofolio sertifikasi guru misalnya. Nah, lho…

Wallahu’alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: