h1

Hari Gini, Masih Ada Ulangan Dadakan??!

27 Agustus 2009

Jadi pengangguran memang menyebalkan terutama karena tidak adanya sumber pemasukan keuangan dan merusak jadwal hidup harian. Akibat kacaunya jadwal hidup harian, jam biologis pun jadi kacau. Sebut saja, bangun pagi susah alias mbangkong.

Pagi ini (27/08), jam 08.47 sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Flexi saya. Ternyata dari Tya, sahabat saya yang bersekolah di SMAN 1x di kawasan Surabaya Timur. (Lucu, sejak lulus dari SPiLuqkim, siswi-siswi saya kerap kirim pesan singkat dengan leluasa di jam yang sesukanya. Ternyata aturan ponsel di SMA-nya sangat longgar dibandingkan dengan di SPiluqkim dulu yang sangat ketat. Bravo, SPiLuqkim!) Tya mengobraki saya yang masih terlelap dalam kemalasan seorang pengangguran dengan pesan, “Kq blogx g d update seh?!”

He… he… he… Jadi malu, gimana gitu. Banyak sih ide-ide yang sudah diinventarisir sebagai tema artikel. Tapi dua-tiga hari belakangan ini saya disibukkan dengan menata ulang kamar saya yang sempit dan sumpek dengan barang-barang pribadi (yang dibawa kembali dari tempat kerja yang dulu sejak saya resign) jadinya kelupaan menuangkan ide-ide itu ke dalam artikel, selain karena cekaknya cadangan pulsa SMART yang biasa saya gunakan untuk online. Tapi, masih sempat tuh buat memantau aktifitas di JAMAAH FISBUKIYAH alias FACEBOOK.

Pukul 09.23 kembali Tya mengirim pesan singkat bahwa mendadak kelas Sosiologinya ada ulangan harian.

Ting… ting… ting… muncul ide untuk artikel, nih.

Pengalaman mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah negeri dahulu, saya pun kerap mengalami yang namanya ulangan harian mendadak.

Something that we can call: deeply totally absolutely truly SUCKS!!!

Ketika memulai karir sebagai guru Fisika di SMP Putri Luqman Al Hakim (SPiLuqkim), sempat juga sih terpikir untuk melakukan ‘kedhaliman’ seperti yang dilakukan oleh guru-guru saya dulu, ulangan dadakan. Tapi seiring dengan ‘pencerahan’ yang saya peroleh dari berbagai seminar dan pelatihan profesi guru, ide dhalim itu menghilang dengan sendirinya. Selain itu pula ada perasaan, jangan mengulangi ‘kesengsaraan’ seperti yang saya alami saat sekolah dulu. Akhirnya, dalam sejarah karir saya yang baru tiga tahun di SPiLuqkim, boleh deh diperiksa silang ke siswi-siswi saya yang sudah alumni dua angkatan dan yang sekarang masih duduk di kelas VIII dan kelas IX, pernahkah saya mendhalimi mereka dengan ulangan harian dadakan. Insya ALLAH, pasti jawabannya: ‘tidak’.

Bukan hanya saya saja, pelarangan ulangan dadakan sudah menjadi kebijakan akademik di SPiLuqkim bahkan sejak sekolah ini dirintis di tahun 2005 dengan hanya diawaki oleh tiga orang ‘ANGELS’: Ustd. Rita, Ustd. Ulfa, dan Ustd. Mila, semoga ALLAH merahmati mereka, (nama terakhir resign di tahun 2007). Jadi tidak ada satupun guru di SPiLuqkim yang gemar ulangan dadakan. Kecuali yang bersangkutan siap ‘dietrek-etrek’ oleh Koordinator Akademik SPiLuqkim.

Mengapa kami dulu mengharamkan ulangan dadakan???

Ayolah, gunakan logika akal sehat. Coba jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa tujuan dari penilaian?
  2. Apakah ulangan (baca: tes tertulis) hanya satu-satunya bentuk penilaian?
  3. Tidakkah guru ingin muridnya mendapatkan nilai yang bagus?
  4. (Sejujurnya) seberapa besar sih manfaat dari pelajaran yang diberikan?

Kurikulum pendidikan Indonesia (yang menyebalkan karena kerap berganti-ganti dan tidak konsisten dengan UU Sisdiknas) saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, baca: KaTeSiaPe???). Setiap mata pelajaran memiliki target-target pencapaian yang terstruktur dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Nah, setiap guru harus menyampaikan materi-materi pelajaran dengan mempertimbangkan SK dan KD tersebut.

Masuk akal pula bila penilaian yang dilakukan terhadap siswa pun harus mempertimbangkan SK dan KD. Misalnya, ada KD yang mempersyaratkan, “siswa mampu menjelaskan bla… bla… bla…”. Maka penilaian yang pantas bagi KD itu adalah tanya jawab maupun presentasi siswa. Contoh lain, ada KD yang menuntut, “siswa mampu menganalisis bla… bla… bla…”. Nah, KD yang satu ini cocok tuh diujikan dengan tes tertulis berupa soal-soal cerita dan studi kasus.

Prinsip-prinsip lain yang dipegang sangat teguh oleh kami para guru, selain haram ulangan dadakan, adalah:

  1. Materi yang akan diujikan wajib sudah diajarkan sebelumnya. Haram mengujikan materi yang belum diajarkan. Kecuali untuk kebutuhan pemetaan awal (pre-test) yang tentu hasilnya tidak akan masuk ke dalam form nilai akumulatif yang nantinya disetor ke wali kelas untuk menjadi nilai raport.
  2. Siswa tahu persis kapan diadakan dan bagaimana bentuk ujiannya. Harus ada jeda waktu yang cukup bagi siswa untuk mendalami dan asistensi materi yang akan diujikan secara mandiri. Tidak perlu ada yang ditutupi ataupun unsur-unsur kejutan. Misal, tiba-tiba penilaian diubah dari tes tertulis menjadi presentasi.
  3. Dalam satu hari hanya boleh ada dua mata pelajaran yang ulangan bersamaan. Itupun biasanya guru-guru bidang MIPA sedapat mungkin menghindari ulangan di hari yang sama. Siswa berhak meminta penjadwalan ulang bila dirasa materi-materi yang akan mereka hadapi di ulangan akan cukup berat. (Jadi di SPiLuqkim, penerapan prinsip demokrasi tidak perlu muluk-muluk, di antaranya bernegosiasi kapan ulangan harian akan diselenggarakan. Mereka dikondisikan untuk pro aktif menentukan keputusan yang berdampak kepada masa depannya (baca: nilai raport). Biasanya, saya katakan kepada mereka, “Materi bab ini sudah selesai. Silahkan diputuskan bersama kapan ulangannya (tes tertulis). Yang masih butuh pendalaman materi, silahkan menemui saya kapan saja dan dimana saja sesuai kesepakatan.” Ini ditambah lagi, saya selalu memberikan 10 – 15 soal untuk PR yang wajib dikumpulkan dalam waktu dua minggu sebagai ‘bocoran soal ulangan’.)
  4. Materi yang sudah diujikan haram diujikan kembali. Hal ini sejalan dengan prinsip KTSP, siswa yang sudah lulus suatu KD, ya teruskan ke KD berikutnya. Sementara siswa yang masih belum lulus, harus menjalani remedial hingga KD tersebut lulus. (Ujian Akhir Nasional, UAN, sesungguhnya sangat bertentangan dengan prinsip ini. Inkonsistensi??? Itulah Indonesia!)

Jadi, jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan di atas sebelumnya adalah:

  1. Tujuan dari penilaian adalah untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap KD yang telah diajarkan sekaligus mengukur tingkat efektifitas guru dalam menyampaikan KD tersebut. Penilaian bukan dimaksudkan untuk menyortir mana siswa ‘pintar’ dan mana ‘siswa’ bodoh (karena kedua istilah itu telah dihapuskan dalam dunia pendidikan moderen), mana siswa ‘rajin’ dan mana siswa ‘malas’, ataupun berbagai pelabelan yang sesungguhnya membunuh karakter kemanusiaan dalam diri siswa. Jadi, jika tingkat kelulusan siswa rendah (kurang dari 50%), jangan salahkan siswa dong! Gurunya tuh yang harus introspeksi diri. (Nah, yang satu ini rutin menimpa saya mengingat kelulusan siswi SPiLuqkim dalam ulangan Fisika sangat rendah. Paling banter hanya satu-dua siswi yang lulus bahkan nol persen. Kalau sudah begini, habis deh saya ‘dihajar’ Ko. Akademik.)
  2. Bagi saya, tes tertulis digunakan untuk mengisi penilaian di aspek tertentu yaitu ‘PEMAHAMAN DAN PENERAPAN KONSEP’. Sedangkan untuk aspek ‘KINERJA ILMIAH’, dengan segala kekurangan pada diri saya dan keterbatasan hari belajar efektif, sedapat mungkin saya menyelenggarakan berbagai bentuk penilaian. Misalnya: menyusun makalah dan mempresentasikannya, praktikum dilanjutkan dengan menyusun laporan resmi dan mempresentasikannya, atau pernah pula saya menugaskan siswi membuat poster kampanye penyelamatan lingkungan hidup dan mempresentasikannya. Tentu penugasan-penugasan semacam itu diikuti dengan rubrik penilaian yang transparan, bahkan dibuat sendiri oleh siswi, serta pembimbingan (asistensi) yang intensif dari saya saat mereka mengerjakannya.
  3. Guru manapun yang pikirannya waras dan peduli dengan masa depan siswanya, tentu mengharapkan siswa mendapatkan nilai yang baik. Nah, agar mendapatkan nilai yang baik, sang guru pun harus membimbing siswanya agar mendapat nilai yang baik. Sejak start awal memulai suatu KD hingga menyusun langkah-langkah pembelajaran, niat, visi, dan misi pribadi guru harus diarahkan kepada ‘bagaimana siswa dapat menguasai KD sehingga mendapatkan nilai yang baik’. Tentu ini semua berada di dalam konteks kebaikan. Artinya, jangan mentang-mentang ingin siswa mendapat nilai baik lalu mereka dibiarkan melakukan kecurangan (siswi yang kedapatan curang langsung saya rebut lembar jawabannya, saya sobek, lalu saya usir keluar dari kelas, ia langsung tidak lulus KD yang diujikan tersebut). Selain itu, jangan pula memberikan soal atau penugasan yang melecehkan kemampuan berpikir dan kinerja mereka. Misalnya, KD yang diajarkan tentang aqidah, lalu penilaiannya kok disuruh memunguti sampah di lingkungan kampus dan kampanye sadar kebersihan??!
  4. Nah, ini yang berat. Apa sih manfaat siswa menguasai hukum Newton? Buat apa siswa bisa memplot grafik posisi versus waktu? Setelah bisa menjelaskan konsep gaya Coulomb, lalu bagaimana kontribusi materi yang diajarkan itu terhadap kualitas kehidupan siswa di masa kini dan masa depan? Jujur saja, materi-materi ajar yang tercakup di dalam kurikulum Indonesia sangat tidak membumi dan jauh dari manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh siswa. Pada akhirnya, yang penting bisa lulus UAN (dengan jujur dan bermartabat), ya kan? Toh, semua ilmu itu nanti akan dipelajari lagi di tingkatan yang lebih tinggi. Itupun nantinya akan terseleksi dengan sendirinya, mana ilmu yang dibutuhkan dan mana yang tidak. Lagipula, kita akan belajar jauh lebih banyak dari ‘Universitas Kehidupan, Fakultas Rahmatan lil ‘Alamiin, Jurusan Khalifatullah fil Ardh’.

Jadi, jika hare geneee masih ada guru yang memberikan ulangan mendadak dengan alasan agar siswa selalu belajar dan siap diuji, mau apa sih??! Ilmu yang setiap saat harus standby dalam otak siswa untuk diujikan, gak jelas blasss manfaatnya. Ngapain juga, anytime always standby and prepared for exam??! Lebih baik, otak dan kalbu siswa digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang jauh lebih penting bagi kehidupan mereka: learn how to learn, learn how to solve problem, learn how to develop creative ideas, and learn how to become a meaningful person to others.

Just a thought

Wallahu’alam

Iklan

2 komentar

  1. Setuju banget, nget, nget…
    di sekolahku ternyata masih jadul banget ya guru-gurunya?
    bertentangan banget sama yang seharusnya ada.

    Nah, kalo gurunya jadul, muridnya jgn mau jd katrok. Makanya, murid jaman skrng hrs bs lebih maju dari gurunya. Kalo gurumu brjalan 1 langkah, maka kamu hrs melompat 3 langkah. Krn generasimu yg akan mnjadi guru-guru di masa depan…


  2. Kurikulum boleh berubah, tapi yang paling sulit merubah kultur guru

    Setuju banget, kang Entis… Andaikan suatu saat nanti kembali mnjadi guru, saya bertekad akan mengubah diri sendiri.
    Nuhun sudah mampir kemari…



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: