h1

Bangga Menjadi Indonesia, Haruskah???

16 Agustus 2009

Rasa ‘bangga’ jika kita memiliki suatu hal biasanya berkorelasi dengan sulitnya mendapatkan hal tersebut. Semakin sulit alias semakin keras upaya yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu, maka akan semakin bangga pula kita memiliki sesuatu tersebut. Ini hanyalah sebuah logika sederhana.

Seorang sarjana yang baru saja diwisuda akan terlihat sangat bangga mengenakan pakaian toga nan panjang yang sesungguhnya sangat gerah dikenakan. Namun gerahnya menjadi tidak berarti bila dibandingkan dengan betapa sulit dan betapa kerasnya upaya yang harus dia tempuh selama menjalani kuliah hingga sidang tugas akhirnya. Keadaan ini akan menjadi berbalik pada sarjana yang mendapatkan gelarnya dengan ‘membeli’ alias tidak bersusah payah untuk menempuh studinya. Cukup dengan mengeluarkan sejumlah uang dan, voilla, lulus! Bahkan dalam naskah tugas akhirnya tidak ada satupun kalimat yang dihasilkan dari otaknya.

Seorang pekerja kelas menengah sangat membanggakan mobil yang baru dibelinya. Meski tangan kedua alias bekas, namun ia (dan istrinya) bersusah payah menabung, mencari obyekan sana-sini, belum termasuk strategi pengiritan berbagai sektor rumah tangga, demi membeli sebuah mobil. Dalam masyarakat, mobil masih menjadi simbol status kesukesan atau tingkat ekonomi seseorang. Bandingkan dengan tingkah laku anak-anak orang kaya yang lulus SMP sudah dibelikan mobil oleh ortunya. Wajar, bila tipis sekali rasa bangga akan memiliki mobil itu karena mereka mendapatkannya tidak dengan susah payah, seolah-olah sudah menjadi takdirnya untuk punya mobil.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Haruskah kita bangga karena menjadi orang Indonesia? Atau bangga karena bertanah air Indonesia? Atau bangga karena bernegara Indonesia???

Dalam peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini, kembali kita dengarkan jargon-jargon yang mengekspresikan kecintaan dan kebanggaan kepada bangsa, bangsa, dan tanah air Indonesia. Di samping itu diselingi pula ungkapan-ungkapan keprihatinan dari generasi tua kepada generasi muda yang dipandang tidak lagi mewarisi nilai-nilai ke-Indonesiaan-an sebagaimana generasi pendahulunya. Lucunya, kan generasi yang sekarang tua dulunya adalah generasi muda yang juga mendapat kritikan yang sama dari generasi yang lebih tua lagi. Sepertinya, aksi salah menyalahkan ini menjadi siklus tetap antar generasi.

Saya khawatir jika artikel ini dibaca oleh kaum nasionalis, apalagi yang mengaku seorang patriotik, saya akan diprotes habis-habisan. Kalau di zaman orde baru, saya bisa terkena undang-undang anti subversif. But, hey, sekarang kan zamannya kebebasan berpendapat. Lagipula, pemikiran saya tidak bermaksud merugikan Indonesia dalam konteks apapun.

Begini…

Ada banyak alasan yang dikemukakan orang jika ditanya alasan yang membuat mereka bangga menjadi Indonesia. Berikut ini beberapa di antara alasan-alasan yang saya pilih dan diikuti pemikiran saya yang kontra terhadap alasan-alasan tersebut. Hanya sekedar ungkapan pemikiran, boleh setuju ataupun tidak setuju. Yang penting, tetap damai…

“Saya bangga menjadi Indonesia karena kekayaan alamnya yang melimpah.”

Kontra:
Andaikan Indonesia diletakkan ALLAH di kutub Utara atau kutub Selatan, masihkah Anda bangga? Bukankah (jika disana) Indonesia tidak lagi kaya dengan sumber daya alam? Jika Anda orang Jepang atau Singapura yang minim sumber daya, Anda pasti juga akan bangga dengan negara Anda, kan. Bukan karena alasan sumber daya alam yang kaya.

Lagipula, hingga detik ini, kita yang bangga-bangga dengan sumber daya alam ini pada kenyataannya tidak mendapat porsi kesejahteraan yang cukup dari kekayaan alam yang kita miliki. Belum lagi kekayaan alam kita yang digerogoti baik oleh saudara sesama Indonesia sendiri lewat korupsi maupun lewat pencurian ataupun pengalihan kepemilikan saham (kepada pihak asing) atas BUMN yang menguasai hajat hidup orang banyak. Mungkin, yang teriak bangga paling keras adalah para koruptor karena merekalah yang paling menikmati kekayaan Indonesia.

“Saya bangga menjadi Indonesia karena kemerdekaan Indonesia direbut dari tangan penjajah, bukan pemberian.”

Kontra:
Jika Anda orang Inggris, Belanda, Portugis, Spanyol, ataupun bangsa-bangsa penakluk lainnya, pastilah Anda akan bangga menjadi bagian dari bangsa yang punya sejarah panjang menaklukkan berbagai bangsa di belahan dunia lain. Jika Anda menjadi orang Malaysia, Brunei, Singapura, Australia, ataupun negara-negara lain yang kemerdekaannya ‘diberi’, Anda pasti punya alasan lain untuk dibanggakan. Apakah lalu martabat Indonesia menjadi lebih tinggi daripada Malaysia hanya karena Indonesia ‘merebut’ kemerdekaan dari Belanda sedangkan Malaysia ‘mendapat’ kemerdekaan dari Inggris???

Saya teringat guru Geografi SMP (awal 90-an) pernah bercerita begini: negara-negara persemakmuran (commonwealth) Inggris memperoleh bantuan dana dari Kerajaan Inggris sebagai negara ‘pelindungnya’. Uniknya, meski bukan anggota persemakmuran, kala itu Indonesia juga menerima dana bantuan tersebut sebagai limpahan kelebihan dana dari negara-negara persemakmuran yang sudah lebih makmur dan tidak butuh kucuran bantuan. Kisah ini masih harus dikonfirmasi kepada para pakar sejarah. Namun, andaikan benar, apa kita tidak malu??? Kemerdekaan memang kita rebut. Tetapi (jika benar), berarti kita sempat makan dana bantuan yang seharusnya diperuntukkan untuk negara-negara persemakmuran yang merdeka atas ‘pemberian’ penjajahnya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada para pejuang yang gugur di era perjuangan, sesungguhnya langkah yang dilakukan untuk merebut kemerdekaan (alih-alih menunggu realisasi janji Jepang yang kalah Perang Dunia II) bagi saya adalah salah satu pilihan di antara banyak pilihan yang ada. Pilihan merebut kemerdekaan yang dilakukan para pejuang saat itu tentu sama sekali tidak salah, namun bukan berarti satu-satunya pilihan yang benar. Lagipula itu semua terjadi juga atas izin ALLAH Swt. dan tidak perlu diganggu gugat lagi.

Lho, kok bisa berpikir seperti ini? Ya, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, lihat saja negara-negara yang kita bilang ‘mendapatkan’ kemerdekaan sebagai ‘pemberian’ dari penjajahnya. Pikiran waras manapun akan setuju, bukankah sebenarnya kita ini membentuk negara karena ingin menyejahterakan diri dalam sebuah entitas negara, bukan? Nah, jika dilihat dari aspek kesejahteraan, saat ini detik ini, apa sih bedanya negara yang kemerdekaannya didapat dari ‘merebut’ dengan negara yang kemerdekaannya ‘mendapat pemberian’???

“Saya bangga menjadi Indonesia karena kekayaan kebudayaan warisan nenek moyang yang beraneka ragam dan tidak dimiliki bangsa lain.”

Kontra:
Saya mempertanyakan, apa sih sesungguhnya definisi Indonesia? Atau mungkin lebih jelasnya, manakah batas-batas yang disebut sebagai Indonesia? Mengingat, keberadaan Indonesia pada posisi silang yang diapit dua benua dan dua samudera yang sangat memungkinkan terjadinya difusi dan akulturasi berbagai kebudayaan.

Belum lama ini kita ribut dengan Malaysia atas klaim mereka terhadap beberapa item yang dianggap sebagai budaya milik kita.

Coba kita bandingkan dengan bangsa/etnis Cina (Tionghoa). Konon, etnis Tionghoa ini adalah satu-satunya yang tersebar merata di seluruh permukaan bumi. Di semua negara kita bisa menemukan kawasan Chinatown atau kita menyebutnya Pecinan.

Adalah sebuah kewajaran jika suatu kelompok etnis mempraktekkan kebudayaan yang mereka bawa dari tanah leluhurnya di tempat mereka bermukim sekarang. Jadi, orang Cina yang menganut Tri Dharma membangun kelenteng di Amerika, Indonesia, Jerman, Prancis, dan tempat lainnya sebagaimana di tanah Tiongkok. Wajar jika di hari-hari besar kebudayaan Cina mereka menggelar atraksi barongsai ataupun lainnya. Orang di belahan dunia manapun tidak akan rancu melihat kebudayaan Cina dipraktekkan di berbagai negara.

Seingat saya, pemerintah RRC tidak pernah protes saat Malaysia menggunakan kebudayaan Cina dalam promosi pariwisata mereka.

Oke, saya paham, kesalahan besar pihak Malaysia (di antaranya) adalah mengklaim kesenian Reog Ponorogo sebagai kesenian Barongan milik mereka. Saya yakin ceritanya akan menjadi lain jika secara gentle mereka mengatakan, “Inilah kesenian Reog Ponorogo yang dipraktekkan oleh warga keturunan Indonesia yang bisa Anda temui jika berkunjung ke Malaysia”. Beres, kan…

Nah, dengan semakin mengglobalnya dunia, dimana batas-batas fisik antara negara dan bangsa semakin kabur, apa yang menjadi batasan atau klaim atas sebuah produk kebudayaan?

Hal lain tentang budaya.

Budaya sebagai bagian dari peradaban adalah hasil pemikiran masyarakat di suatu kawasan pada masa tertentu. Jika masyakarat Indonesia terdahulu mampu menghasilkan kebudayaan, boleh kan jika generasi sekarang juga membangun kebudayaan sendiri yang memang sesuai dengan konteks ruang dan waktu kekinian??? Apakah yang disebut kebudayaan harus yang selalu kuno-kuno dan jadul-jadul??? Apakah generasi sekarang harus dipaksa menerima kebudayaan masa lalu dengan alasan melestarikan identitas bangsa Indonesia???

Sebagai seorang muslim, tentu saya harus menempatkan Quran dan Sunnah dalam posisi tertinggi sebagai acuan dalam menjalani kehidupan. Semakin tinggi keimanan, semakin dalam pula saya dituntut untuk menerapkan nilai-nilai dalam Quran dan Sunnah, alias syariat Islam (wah, kalau sudah nyebut-nyebut ‘syariat Islam’ begini, pembaca pasti mulai bergumam “Islam radikal/fundamentalis, nih!”). Secara obyektif, saya akan melihat bahwa kebudayaan peninggalan nenek moyang kita berakar kepada paham animisme, dinamisme, Hinduisme, dan Buddhisme sebagai kepercayaan yang dianut masyarakat Indonesia kala itu. Dus, tentu saja banyak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Jika tidak sesuai dengan syariat Islam, maka sudah menjadi kewajiban bagi saya untuk tidak mempraktekkan budaya-budaya tersebut. Bahkan, upaya memurnikan kehidupan saya dari budaya-budaya yang tidak islami bagi saya adalah sebuah jihad pribadi (Wah, tambah serem nih, pakai istilah ‘jihad’ segala, awas bom! Sorry, broer. Jihad tidak boleh disamakan dengan terorisme. Haram!!!).

Apa lalu saya tidak pantas menyebut diri sebagai orang Indonesia???

Lalu bagaimana…

Inilah (sebagian) sikap dan pendirian saya tentang Indonesia…

  • Saya bersyukur kepada ALLAH Swt. atas segala kenikmatan yang dilimpahkan-Nya kepada tanah air Indonesia yang saya diami. Saya sungguh sadar bahwa setiap nikmat yang diberikan ALLAH harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai wujud rasa syukur kepada ALLAH. Firman ALLAH:

an nahl 13

dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan ALLAH) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS. An Nahl: 13)

an nahl 81

Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah ALLAH menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (QS. An Nahl: 81)

  • Andaikan saat ini dalam keadaan perang, maka saya akan berjuang keras mengusir penjajah sebagaimana yang dilakukan para pejuang terdahulu. Bukan karena nasionalisme dan juga bukan karena alasan Aku Cinta Indonesia (ACI). Akan tetapi, karena firman ALLAH:

al baqarah 190

Dan perangilah di jalan ALLAH orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al Baqarah: 190)

al baqarah 193

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk ALLAH. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah: 193)

  • Berkaitan dengan kebudayaan Indonesia, termasuk adat istiadat, saya berpegang pada firman ALLAH:

al baqarah 170

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan ALLAH,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS. Al Baqarah: 170)

al a'raaf 28

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan ALLAH menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya ALLAH tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap ALLAH apa yang tidak kamu ketahui? (QS. Al A’raaf: 28)

Jadi, poin pentingnya bagi saya bukan pada BANGGA, akan tetapi BERSYUKUR kepada ALLAH atas segala nikmat yang ditebarkan-Nya di segenap penjuru tanah air Indonesia dan BERBUAT yang bermanfaat untuk umat.

Wallahu’alam…

Iklan

2 komentar

  1. salam,
    sy Agus Suhanto, tulisan yg oke 🙂 … salam kenal yee

    terima kasih sudh mampir. salam kenal juga…


  2. Assalamualaikum.
    Good article, Pak No….
    Pemikiran Anda yang selalu penuh kritik membangun selalu kami apresiasi. Tetap berjuang fi sabilillah, Allah Maha Melihat sekecil apapun hal yang dilakukan makhluk-Nya.Salam dari kami…

    tetap jalin silaturrahim… terima kasih sdh mampir… salam bwt sodara” dan adik” SPiLuqkim tercinta… i miss you all… i love you full…



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: