
Curhat Sekejap: Diremehkan, Ketika Ikhlas Diuji
24 Desember 2011Dulu, ada salah satu siswa. Keluarganya tinggal di dekat pesantren kami, hanya beberapa puluh meter saja. Sang ayah kerap sholat fardhu berjamaah di masjid di komplek pesantren kami.
Tiga tahun dalam pengasuhan kami, tidak sekalipun orang tua murid ini datang untuk mengambil rapor maupun hadir dalam rapat forum kelas, komite, ataupun undangan-undangan lain (termasuk yang enak-enak, buka puasa misalnya). Bahkan, momen once in a lifetime seperti wisuda sang anak pun mereka tidak hadir. Catat, rumahnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari sekolah dan kami kerap berjumpa sang ayah di masjid kala sholat fardhu berjamaah.
Sang ayah adalah seorang konsultan dan penulis buku. Namun dalam beberapa kali terbitan bukunya, tidak sekalipun sekolah-sekolah yang pernah dilalui sang anak disebutkan dalam tulisannya. Paling banter, saat berinteraksi di laman media sosial, kalaupun ada temannya yang bertanya, “Pak anaknya sekolah dimana?” Karena kala itu sang anak masih SMP, tentu yang disebut nama SMP-nya.
Perilaku ini sangat berbeda beberapa tahun belakangan.
Sang anak (sulung) melanjutkan pendidikan ke SMA di negeri jiran. Mulai dari tahap mendaftar hingga berbagai aktifitas dan prestasi yang diraih anaknya disana, selalu menjadi topik yang diangkat sang ayah di akun media sosial miliknya. Baru-baru ini, hari ini juga saat artikel ini ditulis, sang ayah bahkan mengunggah pindaian soal try-out ujian nasional di SMA-nya.
Sebagai guru yang dulu mengasuh anaknya, dari pagi hingga sore, dari Senin hingga Sabtu, terbersit rasa iri di hati. Kenapa dulu saat anaknya bersama kami, tidak ada apresiasi macam itu??? Padahal, dinamika kehidupan sang anak di sekolah kami saat itupun tak bisa dianggap remeh.
Sang anak adalah ‘nomor satu’ di setiap mata pelajaran, bahkan di Fisika yang saya asuh dan menjadi momok bagi siswa lain. Sang anak kerap mewakili sekolahnya berlomba. Sebelum anaknya cas-cis-cus pidato dalam bahasa Inggris dan Arab di luar negeri, kamilah yang menjadi saksi rona mukanya yang memerah saat dia grogi pertama kalinya tampil beraudiensi. Kamilah yang menjadi rekan curah idenya saat ia memimpin tim mading kelasnya punya ide brilian dan inovatif, hingga kami mengajari murid perempuan untuk mengebor, menggergaji, menggunakan golok, obeng, palu, memberi mereka petunjuk bagaimana belanja di toko material, dan lain sebagainya.
Curhat, nih… Iya, boss! Iman lagi lemah, semangat lagi turun. Bukan limpahan uang gaji yang membuat kami bertahan berjuang di dunia pendidikan. Namun semata-mata hanya berharap iming-iming dari ALLAH berupa pahala tak terputus meski telah mati karena telah mengajarkan ilmu yang bermanfaat.
Ya sudahlah, semua orang butuh waktu untuk berproses. Kalaupun sang orang tua dulu tak peduli terhadap proses di sekolah anaknya. Alhamdulillah, jika sekarang sepertinya sudah ada perbaikan. Meski kami harus rela tidak menikmatinya.
Sekali lagi, ini cuma curahan isi hati saja.
Astaghfirullah al adziim…
kecemburuan seorang guru ..