h1

Menghitung Target Nilai UAN SMP

20 Januari 2012

Buat teman-teman siswa kelas IX SMP/MTs yang saat ini sedang mempersiapkan diri menyongsong UAN, ada baiknya mengetahui target nilai yang harus dicapai mengacu kepada batas nilai minimum dari SMA/SMK negeri favorit yang ingin dituju. Gunakan spreadsheet sederhana ini:

http://www.4shared.com/office/xcwCJL4i/kalkulasi_target_UAN_SMP.html

Semoga bermanfaat… Ayo raih sukses UAN dengan kejujuran, kerja keras, dan kehormatan…

h1

Curhat Sekejap: Diremehkan, Ketika Ikhlas Diuji

24 Desember 2011

Dulu, ada salah satu siswa. Keluarganya tinggal di dekat pesantren kami, hanya beberapa puluh meter saja. Sang ayah kerap sholat fardhu berjamaah di masjid di komplek pesantren kami.

Tiga tahun dalam pengasuhan kami, tidak sekalipun orang tua murid ini datang untuk mengambil rapor maupun hadir dalam rapat forum kelas, komite, ataupun undangan-undangan lain (termasuk yang enak-enak, buka puasa misalnya). Bahkan, momen once in a lifetime seperti wisuda sang anak pun mereka tidak hadir. Catat, rumahnya hanya berjarak beberapa puluh meter dari sekolah dan kami kerap berjumpa sang ayah di masjid kala sholat fardhu berjamaah.

Sang ayah adalah seorang konsultan dan penulis buku. Namun dalam beberapa kali terbitan bukunya, tidak sekalipun sekolah-sekolah yang pernah dilalui sang anak disebutkan dalam tulisannya. Paling banter, saat berinteraksi di laman media sosial, kalaupun ada temannya yang bertanya, “Pak anaknya sekolah dimana?” Karena kala itu sang anak masih SMP, tentu yang disebut nama SMP-nya.

Perilaku ini sangat berbeda beberapa tahun belakangan.

Sang anak (sulung) melanjutkan pendidikan ke SMA di negeri jiran. Mulai dari tahap mendaftar hingga berbagai aktifitas dan prestasi yang diraih anaknya disana, selalu menjadi topik yang diangkat sang ayah di akun media sosial miliknya. Baru-baru ini, hari ini juga saat artikel ini ditulis, sang ayah bahkan mengunggah pindaian soal try-out ujian nasional di SMA-nya.

Sebagai guru yang dulu mengasuh anaknya, dari pagi hingga sore, dari Senin hingga Sabtu, terbersit rasa iri di hati. Kenapa dulu saat anaknya bersama kami, tidak ada apresiasi macam itu??? Padahal, dinamika kehidupan sang anak di sekolah kami saat itupun tak bisa dianggap remeh.

Sang anak adalah ‘nomor satu’  di setiap mata pelajaran, bahkan di Fisika yang saya asuh dan menjadi momok bagi siswa lain. Sang anak kerap mewakili sekolahnya berlomba. Sebelum anaknya cas-cis-cus pidato dalam bahasa Inggris dan Arab di luar negeri, kamilah yang menjadi saksi rona mukanya yang memerah saat dia grogi pertama kalinya tampil beraudiensi. Kamilah yang menjadi rekan curah idenya saat ia memimpin tim mading kelasnya punya ide brilian dan inovatif, hingga kami mengajari murid perempuan untuk mengebor, menggergaji, menggunakan golok, obeng, palu, memberi mereka petunjuk bagaimana belanja di toko material, dan lain sebagainya.

Curhat, nih… Iya, boss! Iman lagi lemah, semangat lagi turun. Bukan limpahan uang gaji yang membuat kami bertahan berjuang di dunia pendidikan. Namun semata-mata hanya berharap iming-iming dari ALLAH berupa pahala tak terputus meski telah mati karena telah mengajarkan ilmu yang bermanfaat.

Ya sudahlah, semua orang butuh waktu untuk berproses. Kalaupun sang orang tua dulu tak peduli terhadap proses di sekolah anaknya. Alhamdulillah, jika sekarang sepertinya sudah ada perbaikan. Meski kami harus rela tidak menikmatinya.

Sekali lagi, ini cuma curahan isi hati saja.

Astaghfirullah al adziim

h1

Andai Aku Bikin Sekolah

8 Desember 2011

Andai aku bikin sekolah, sekolahku akan menjadi:

Sekolah informal,

supaya terbebas dari kurikulum formal yang tidak berbasis pada kebutuhan murid yang malah justru menjauhkannya dari realitas kehidupan nyata dan memiskinkan akhlaknya.

supaya tidak perlu ikut UAN yang nyata-nyata merenggut kebebasan dan keceriaan murid hanya demi mengejar kelulusan, bersaing merebut kursi di sekolah negeri, kebanggaan sekejab bagi orang tua, dan gengsi semu bagi sekolah.

supaya tidak perlu melalui proses akreditasi yang tak lebih dari sekedar ajang pamer kepura-puraan pengelola sekolah di hadapan para asesor, asesor pulang sandiwara buyar properti panggung digulung masuk gudang lagi.

supaya bisa menyusun kurikulum sendiri yang berpusat pada pembangunan jati diri seorang muslim yang unggul dan menjadi problem solver bagi umat bukan problem maker, sebagaimana ‘sekolah’ yang pernah dibangun Rasulullah SAW untuk mendidik para sahabat.

Sekolah mandiri finansial,

supaya mampu menggaji stafnya dengan sangat layak sehingga gurunya bisa fokus mendidik muridnya dan punya cukup waktu untuk berinovasi dalam metode pembelajaran dan tidak ada lagi guru-guru yang membuang waktu-tenaga untuk mengejar sertifikasi, tunjangan profesi, dan tunjangan transpor dari pemerintah yang jumlahnya tak seberapa tetapi makin menggemukkan para birokrat korup.

supaya tidak perlu repot-repot membuat laporan ke Diknas dan menjilat pejabatnya hanya karena berharap kucuran dana BOS, BOPDA, dan hibah yang hanya membuat RAPBS mengandung unsur uang haram tak barokah.

supaya segala pungutan yang dibayarkan oleh orang tua/wali bisa sepenuhnya kembali dalam bentuk fasilitas dan pelayanan yang berkualitas, tidak termakan oleh staf pengelola dan staf pengajar.

Sekolah bebas strata dan status sosial,

supaya si miskin juga dapat kesempatan belajar dan membangun impian masa depan yang lebih baik.

supaya si kaya dekat dengan si miskin dan rela berbagi nikmat lewat subsidi silang, serta memutus warisan pola pikir materialisme yg mungkin kadung mewabah di keluarganya.

Sekolah untuk seluruh anggota keluarga,

supaya keluarga, yang notabene adalah entitas terkecil yang membentuk suatu negara, menjadi kuat mental, spiritual, dan fikrah yang pada akhirnya mampu menjadi pemasok calon-calon pemimpin negara yang amanah.

supaya orang tua benar-benar mendapatkan perlakuan yang mulia dan kiriman doa setelah mereka wafat dari anak-anaknya yang sholeh/sholeha sebagaimana yang digambarkan dalam Quran dan Hadits.

supaya anak benar-benar mendapatkan kasih sayang, pengayoman, perlindungan, pemenuhan kebutuhan fisik, dan dukungan yang melecut potensi tumbuh dan kembangnya dari orang tuanya.

Apalagi, ya??? Ah, kapan-kapan saja disambung lagi mengkhayalnya. Berharap bertemu orang yang punya khayalan yang sama…

h1

13 Langkah Menuju Masyarakat Pembelajar Baru

4 Desember 2011
  1. Posisikan kembali peran komunikasi elektronik di dunia pendidikan.
  2. Pelajari komputer dan internet.
  3. Perbaiki secara total pendidikan bagi orangtua (parenting), khususnya orangtua baru.
  4. Prioritaskan layanan kesehatan bagi anak-anak, demi menghindarkan mereka dari kesulitan belajar.
  5. Ciptakan program pertumbuhan dan pengembangan anak-anak yang bermutu.
  6. Laksanakan program pengejaran ketertinggalan pelajaran (remedial) di setiap sekolah.
  7. Temukan gaya belajar dan kecerdasan individu, layani setiap gaya yang ada.
  8. Agendakan bagi setiap orang: belajar tentang cara belajar dan cara berpikir.
  9. Definisikan ulang apa yang harus diajarkan di sekolah.
  10. Kembangkan kurikulum menggunakan pola empat tingkat yang menekankan: 1) citra diri dan perkembangan pribadi; 2) pelatihan keterampilan hidup; 3) belajar tentang cara belajar dan cara berpikir; 4)  kemampuan-kemampuan akademik, fisik, dan artistik yang spesifik.
  11. Terapkan tiga tujuan belajar: 1) mempelajari keterampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran spesifik, dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih mudah; 2) mengembangkan kemampuan konseptual umum, mampu menerapkan konsep yang sama atau berkaitan dengan bidang-bidang lain; 3)  mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat digunakan dalam segala tindakan kita.
  12. Definisikan ulang tempat-tempat terbaik untuk pengajaran, bukan hanya di sekolah.
  13. Bukalah pikiran dan ciptakan komunikasi yang baik.

The Learning Revolution by Gordon Dryden & Jeannette Vos

h1

Sahabat Dan Rasa Aman

3 Desember 2011

Ada berbagai bentuk hubungan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Misalnya, hubungan antara orang tua dan anak, hubungan antara suami dan istri, hubungan antara guru dan murid, hubungan antara pimpinan dan karyawan, dan masih banyak lagi lainnya. Terjalinnya hubungan antara manusia tersebut juga tidak lepas dari upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu, mengapa seseorang butuh sahabat? Apa hubungan antara hadirnya seorang sahabat dengan perasaan aman dalam diri kita?

Kualitas hubungan antar manusia ditentukan oleh motivasi yang melatarbelakangi terjadinya hubungan tersebut. Dari segi kualitas inilah nantinya akan terlihat betapa tinggi dan mulianya derajat manusia bila dibandingkan dengan hewan. Hubungan dengan kualitas terendah adalah hubungan yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan biologis semata. Sebagai contoh, sepasang suami dan istri yang dalam interaksinya hanya disibukkan dengan masalah biologis dan materi saja, yaitu: harta, kedudukan, dan seks, dapat dikatakan memiliki kualitas hubungan yang sangat rendah. Bahkan dapat disamakan dengan hewan.

Sedangkan hubungan antar manusia yang berkualitas tinggi adalah yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat non materill dan psikologis. Di antaranya adalah: cinta kasih dan rasa aman. Hal yang terakhir, rasa aman, inilah yang mendorong saya untuk menulis artikel ini.

Perhatikan bayi yang menangis ketika digendong oleh orang lain, seketika berhenti menangis setelah ia berpindah ke pelukan orang tuanya. Mengapa ini terjadi? Jawabannya adalah rasa aman. Di dalam pelukan orang tuanya, bayi itu merasa sangat aman.

baca selengkapnya

h1

Luasnya Potensi Diri Kita

2 Desember 2011

Seorang siswi mengeluh, ia merasa seisi dunia tidak mendukungnya. Ia (merasa) memiliki bakat di bidang musik, khususnya band. Tetapi seperti yang kamu pahami, sekolah (pesantren) kita tidak mendukung segala aktifitas yang “memamerkan” perempuan di hadapan umum. Pesantren berkeyakinan bahwa tampilnya perempuan di panggung dan ditonton oleh orang banyak, khususnya laki-laki, akan menimbulkan fitnah yang akhirnya berlanjut menjadi dosa. Meskipun perempuan tampil dengan busana berjilbab panjang, yang sangat-sangat menutup aurat, tetap saja dianggap mampu memancing syahwat laki-laki yang menontonnya (laki-lakinya yang tergoda, perempuannya yang disalahkan, cape deh…). Akibatnya, tim nasyid SMP Putri sangat sulit mendapatkan ijin dari pesantren untuk tampil di berbagai ajang kompetisi seni musik dan vokal.

Terlepas dari masalah tersebut, artikel ini bertujuan untuk berbagi pengalaman pribadi saya dalam menggali potensi diri. Semoga, artikel ini menjadi inspirasi bagi kamu agar dapat berpikir luas dan terbuka dalam menekuni bakat dan minatmu. Semoga kamu sadar dengan segala potensi yang ada dalam dirimu. Termasuk juga potensi yang ada pada lingkungan dan orang-orang di sekitarmu. Wallahua’lam

baca selengkapnya

h1

Hidup Adalah Pilihan

1 Desember 2011

Sebagai guru, saya sering mendapatkan keluhan dari siswi. Salah satu yang teringat hingga kini adalah kejadian berikut. Suatu hari (beberapa minggu menjelang UAS semester I 2006), saya menugaskan siswi untuk mengumpulkan tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan. Kebetulan deadline jatuh pada hari kejepit. Hampir semua siswi telah mengumpulkan tugas, kecuali seorang (sebut saja namanya Puput). Setelah bertanya ke wali kelas, saya diberitahu bahwa Puput tidak masuk karena ikut keluarganya berlibur. Pekan berikutnya, Puput datang ke kantor dan menyerahkan tugas. Tentu saja, sesuai aturan yang saya buat, tugas tersebut ditolak karena molor. Jangankan 2 hari, terlambat 1 menit pun pasti ditolak. Dengan kecewa, Puput berlalu dari kantor. Tugas berikutnya, Puput mengumpulkan tepat waktu. Ketika diperiksa, saya menemukan sesuatu yang menarik di buku tugasnya. Dia menulis kalimat yang kurang lebih berisi ungkapan kekecewaannya karena tugas sebelumnya (yang dikerjakan susah payah) ditolak. Secara tersirat, sepertinya dia menyalahkan saya yang menolak tugas yang dikumpulkannya.Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari kejadian tersebut. Yang (agak) lain adalah apa yang saya lakukan berikutnya. Di atas secarik kertas saya menulis (masih dengan tinta merah, karena saat itu saya sedang mengoreksi tugas) pendapat saya tentang insiden itu. Kemudian kertas itu saya selipkan di buku tugas Puput dengan harapan ia menemukan dan membacanya. Inti tulisan saya begini, siapa suruh tidak masuk sekolah?! Kan sudah tahu ada deadline tugas, ya salahmu sendiri,kan?! baca selengkapnya

h1

Penggemblengan Mental Mandiri Pada Muhammad Muda

16 Mei 2011

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLAH dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut ALLAH.” (QS. Al Ahzab [33]: 21)

Maha Suci ALLAH yang telah mengutus Nabi Muhammad SAW dan menjadikan beliau sebagai suri teladan bagi seluruh umat manusia. Di tengah kegalauan sebagian umat yang masih peduli pada pendidikan karakter generasi muda, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kiranya harus dijadikan sebagai momentum pengingat kembali kisah hidup sang imam besar itu. Agar aktifitas relijius yang dianggap bid’ah bagi sebagian golongan kaum muslimin ini tidak berlalu begitu saja dan menjadi pemborosan besar-besaran. Mengingat begitu luasnya tingkatan gelaran acara peringatan Maulid Nabi, mulai dari tingkat kampung hingga kenegaraan.

Bisa jadi kita semua beranggapan bahwa segala macam keunggulan yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW adalah sesuatu yang sifatnya bawaan lahir. Artinya, karena beliau memang ditakdirkan untuk menjadi rasul penutup maka pastilah ALLAH menciptakannya dalam keadaan sudah sempurna sejak lahir. Padahal ALLAH berfirman:

… Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (QS. Al Israa’ [17]: 93)

Pernyataan ini mengandung makna bahwa kesempurnaan akhlak Nabi adalah hal yang manusiawi yang bisa ditiru oleh manusia lainnya lewat proses pendidikan yang manusiawi pula. Proses pendidikan Nabi inilah yang jarang dikupas oleh para ulama. Padahal ada begitu banyak hikmah dan teladan yang bisa kita tiru yang kemudian diterapkan kepada diri kita sendiri, anak kita, dan murid kita.

Berikut ini adalah beberapa proses penggemblengan mental yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum beliau diangkat menjadi rasul.

baca selengkapnya

h1

Kasus Ahmadiyah: Hanya Opini Saja

7 Februari 2011

Pemikiran ini didasarkan pada kenyataan bahwa paham liberalisme, demokrasi, kebebasan HAM, relatifitas kebenaran agama, dan pluralisme sudah terlanjur meracuni bangsa Indonesia. Meski saya sendiri bukan penganut paham-paham tersebut. Namun, bagi saya yang penting sekarang adalah bagaimana mencarikan solusi atau jalan keluar terhadap kebuntuan-kebuntuan yang ada.

Jalan keluar yang saya maksud bersandar kepada: PENGAKUAN.

baca selengkapnya

h1

Kartu Perdana Harus Mahal, Pulsa Harus Murah

30 Desember 2010

Pemikiran ini sebenarnya sudah sangat usang berlalu-lalang di benak saya. Hanya saja baru keturutan ditulis sekarang ini. Idenya bersumber dari kesulitan pemerintah melakukan registrasi kepemilikan kartu perdana telepon selular yang dari awal sudah kadung salah kedaden, kata orang Jawa. Demikian pula dengan maraknya kasus penipuan lewat pesan singkat (SMS) yang sudah banyak memakan korban. Sedangkan polisi kesulitan mengidentifikasi pemiliki nomor meski operator mampu menunjukkan rekam jejak nomor yang bersangkutan.

Menurut saya, ada dua kesalahan terbesar dari sistem tata niaga layanan telepon selular yang berlangsung sejak awal, yaitu:

  1. Harga kartu perdana yang telalu murah
  2. Kartu perdana dijual terlalu bebas dan terlalu mudah didapatkan

Memang, jika dilihat dari sudut pandang demokrasi dan kebebasan, kedua hal tersebut membuat akses layanan selular menjadi sangat terjangkau.

Di era akhir 90-an hingga awal pergantian milenium ini ponsel masih menjadi barang mewah. Ayah saya membeli kartu perdana pasca bayar Halo (Telkomsel) seharga Rp. 250.000. Saya sendiri membeli kartu perdana pra bayar IM3 (Indosat) seharga Rp. 90.000 yang sudah termasuk pulsa senilai Rp. 50.000.

Bandingkan, saat ini kita bisa mendapatkan sebuah kartu perdana pra bayar seharga tiga ribu rupiah dengan bonus pulsa senilai lima ribu rupiah.

Dengan harga seperti sekarang, telepon seluler sudah bukan lagi menjadi barang mewah. Ia mampu menembus sekat-sekat strata ekonomi di kalangan masyarakat. Layanan seluler juga mampu melakukan penetrasi yang jauh lebih dalam melebihi jangkauan layanan kesehatan dan pendidikan yang justru jauh lebih penting dan fundamental.

Akibatnya, orang yang berniat jahat dapat dengan mudah membeli dan mengganti kartu perdana dalam melancarkan aksi kejahatannya. Yang lebih parah lagi, mengganti kartu perdana pra bayar bisa lebih murah daripada mengisi pulsa. Sempat tersiar kabar, akibat dari kebiasaan gonta-ganti nomor ponsel ini, para operator selular sempat kehabisan stok nomor yang memaksa mereka mendaur ulang nomor-nomor yang lama tidak aktif serta mengajukan izin penambahan kapasitas kepada pemerintah. Apa bukan pemborosan ini namanya???

Okelah, langsung saja ini ide saya… baca selengkapnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.